Jumat, 31 Oktober 2014

Alasan Terbesar

Perlahan ku urai rasa
Di waktu yang berlalu
Entahlah..
Ku tak ingin tau apa-apa
Ku hanya inginkan adamu
Di sini..
Bersamaku memberi arti
Pada sketsa lirih yang kian kentara
Deranya


Senja memerah di ujung barat semakin memudar. Malam akan kembali menyapaku dengan pelan. Aku beranjak dari lamunan tentangmu  dengan enggan. Padahal baru saja juga dirimu berlalu dari sini. Ingin rasanya aku hentikan waktu saat ini, jika perlu aku putar waktu agar kembali. Tapi apa daya .....


Entahlah..........






Aku melihatmu di kejauhan. Saat itu kau tengah asyik bercanda dengan team Basket sekolah kita. Kebetulan kau termasuk salah satu dari mereka.  Dengan senyum khasmu yang bagiku menawan, kau semakin menarik mataku untuk selalu diamati.

Diamati.........

Kata itu tepat ditujukan padamu karena aku hanya berani memandangmu dari jauh. Akupun tahu, senyumanmu itu mungkin juga bukan ditujukan untukku saja. Banyak teman kita yang mengidolakanmu meski sesekali kau sempatkan menyapaku dulu ketika tanpa sengaja kita berpapasan di koridor kelas karena kebetulan kita beda kelas. Seperti biasa juga, saat itu kau hadir dihadapanku lengkap dengan senyum khasmu. Aku tersipu tapi senang. Bahkan,tanpa sadar justru aku menikmatinya dan tersenyum sendiri bila ingat kejadian-kejadian kecil itu. Senyum kukembangkan semanis mungkin untukmu.



Hadeeuh..........!!!



Hari demi hari semakin aku rasakan ketertarikan padamu. Aku simpan rapat agar yang tau rasa ini hanya hatiku. Menyapamu adalah menu khusus yang aku catat di buku harianku meski tak jarang juga itu terlewat karena ketidakberanianku bertatap muka denganmu. Dan mendengar balasanmu dari sapaan yang ku lontarkan adalah melodi dengan notasi tersendiri di telingaku. Apalagi bisa berdekatan denganmu, walaupun itu cuma sekedar jajan bareng bercampur dengan teman-teman di kantin sekolah, hmmmm.....  sebuah anugerah terindah bagiku saat itu. Tak terbayang jika aku bisa memandangmu sepuas ini, beda ketika aku pada posisi mengamati.




Dan kau sendiri tak tahu akan hal ini..........





Aku mau itu kamu..!!
Sapukan kuas pada kanvasku
Dengan warna semaumu
Itu memang kamu..!!
Melukiskan malam terang benderang
Dan pagi temaniku menari
Entahlah..
Mungkin layak jika aku dijuluki pemimpi
Karenamu..
Aku tak peduli lagi




Suatu ketika aku mendapatimu duduk di pojok taman samping sekolah dengan tatapan kosong sesaat setelah jam istirahat berbunyi. "Tumben banget," gumamku dalam hati. Tanda tanya besarpun tergantung di atas kepalaku. Antara ragu namun ingin tau, kuhampiri kau dengan langkah pelan-pelan. Aku takut bila kehadiranku malah mengagetkanmu. Aku menyapamu sebagai basa-basinya seraya menanyakan padamu apakah kau merasa keberatan bila aku ikut duduk di sini. Kau mengiyakan dan mempersilahkan agar duduk serta menjelaskan bila kau tak keberatan. Kau masih pada posisi seperti semula. Tatapan kosong juga masih tampak namun kali ini disertai dengan senyum yang dipaksakan. Aku juga tersenyum. Senyum yang benar-benar tulus untukmu sebagai rasa terima kasihku atas kesediaanmu kutemani.  " Perlu diambilkan minum di kantin? agar wajah kusutmu sedikit mengendor," kataku. Kau menggeleng. Aku tersenyum lagi.


Sama-sama terdiam. Kita tengah asyik dengan pikiran masing-masing. Aku beranikan diri untuk mencairkan suasana dengan mengajakmu bercerita tentang kejadian-kejadian menarik di sekolah. Semula kau hanya tersenyum mendengar celotehku. Aku tetap bercerita dengan gaya semenarik mungkin agar kau ingin juga menanggapi ceritaku tidak hanya dengan senyuman melainkan ikut bercerita. Akhirnya, kau terpengaruh masuk pada cerita yang kukemas sedemikian rupa. Antusiasmu terlihat saat kau bercerita tentang kejadian bersama tim basketmu, di mana itu terjadi pada waktu kau bertanding ataupun saat latihan. Gantian aku mendengar ceritamu tanpa ingin menyela. Sesekali aku menimpali apa yang kau ceritakan sambil tersenyum. Dan akhirnya kita tertawa bersama.



Hari itu kurasa dunia sungguh bernuansa beda......



Sungguh.... senang itu tak terkira bisa membuatmu tersenyum kembali. Aku tak hendak tahu apa yang kau pikirkan. Aku juga tak memaksamu untuk bercerita apa yang membuatmu risau. Yang aku inginkan kau selalu tersenyum dengan senyum khasmu yang menurutku begitu menarik itu. Untuk urusan lain....hmmm...aku tak peduli. Mungkin, bila suatu saat kau memberiku perhatian khusus barulah hal itu juga menjadi urusanku. Sayangnya, aku sendiri berpikir terlalu jauh bila mengharapkan hal itu. Terlalu takut aku menerima kenyataan yang mungkin saja berbeda. Mungkin.... mungkin.... Hanya itu yang ada dalam hati. Kusembunyikan kebenaran perasaanku jika itu menyangkut tentangmu. Aku tak ingin terluka bukan karena laranya. Aku lebih memilih mengabaikan rasaku agar aku bisa dekat denganmu tanpa kau harus tahu perasaanku sebenarnya. Dan hanya aku yang tahu alasan tepatnya.



Membayangkan hal itu terjadi saja sudah merupakan kebanggaan buat aku..........




Kau adalah segala keindahan
Dari seluruh persembahan
Jiwaku hanya menuntutmu
Di sini dengan sembunyi
Hatiku selalu mencintaimu
Di sini tanpa harus dipeduli





Lepas sekolah kita memilih tempat yang berbeda untuk melanjutkan kuliah. Dan entah bagaimana bisa terjadi, aku bertemu kau tanpa sengaja. Aku tertegun. Antara heran tapi suka. Aku melihatmu dengan ekspresi yang sama denganku juga. Hampir bersamaan kita tertawa. Kau asyik bercerita seolah kita sering bertemu. Tak ada canggung,tak ada malu. Kali ini bagianku yang terdiam menyimak apa yang kau sampaikan sambil sesekali  tersenyum. Bukan aku tak ingin ikutan bercerita, saat itu lebih pada kesibukanku mengendalikan gemuruh rasa hati yang selama ini kusembunyikan. Yaa.... rasa itu tak pernah hilang.



Kita sepakat untuk saling komunikasi setelah pertemuan itu.



Hingga suatu saat kau meminta waktu untuk bertemu denganku. Kau sempatkan datang ke kota tempat aku menuntut ilmu. Saat itu baru mulai masuk senja. Kau datang dan aku persilahkan untuk menikmati teh hangat yang kusajikan. Setelah mengobrol tanpa arah, akhirnya aku menanyakan maksudmu ingin menemuiku. Kau tersenyum seolah ingin menyembunyikan kegugupanmu. Aku juga ikut tersenyum.


"Aku sayang kamu, bolehkah aku meminta tempat teristimewa di hatimu? Aku tak memintamu menjawabnya sekarang..... "


Tertegun aku seketika. Apakah ini nyata? ataukah saat ini aku bermimpi dengan mimpi yang sama seperti yang ada di dalam hati? Kau datang padaku dan menyatakan itu. Memintaku menjadi teristimewa bagimu. Impian yang selama ini kuendapkan kini hadir tanpa ku duga. Sesuatu yang benar-benar menakjubkan.......
Sampai waktu mengharuskanmu pergi, aku masih belum memberikan jawabannya. Kau tak mempermasalahkan karena kau juga tak memintaku menjawab sekarang. Kau berlalu dengan iringan senyuman. Tinggal aku yang sendiri masih dalam ketertegunan. Lamunan tentangmu di waktu lalu terulang kembali tak terhindarkan. Hmmm.....






" Andai kau tahu rasa di hatiku saat ini, juga di waktu dulu ketika kita masih diberikan kesempatan bisa berjumpa lebih lama, kau tak perlu menunggu jawaban seperti sekarang. Aku akan menjawabnya dengan tegas karena aku merasakan hal yang sama. Tapi bila itu kau tanyakan sekarang, butuh waktu dulu untuk memilah lagi rasa yang kuendapkan dan mempercayaimu jika kau juga merasakannya. Tanpa sadar, telah kuagungkan keberadaanmu di hatiku dengan satu alasan, yaitu cinta. Dan itu adalah alasan terbesar aku  menjaga hati ini dari dulu hingga kini tentangmu. Aku bisa pastikan itu memang untukmu..."



Cinta.....
Kau tlah menjadi alasan terbesarku
Meniti panjangnya kisah ini
Pada detikan waktu
Tentangmu..
Sengaja kusembunyikan indahnya rasa
Hingga saat dimana akan ku urai kembali itu tiba
Bersamamu..
Hanya denganmu
Di sini






( Jakarta, Nopember 2014 )

Senin, 13 Oktober 2014

tentangmu

Langit akan membawaku
Temuimu..
Pada sudutnya yang mana
Aku tak tau..
Tapi aku bisa yakini
Dan aku tlah bersiap
Saat dirimu datang menjemputku
Sebagai bidadari surga
Seperti maumu...


Ku bersolek secantik mungkin
Ku berdendang semerdu lagu

Letih ku tepiskan
Gundah ku tanggalkan
Ku ingin hadirkan kau nyata
Dalam rasaku bercerita

Aku tau..
Ini sekedar permainan imajinasi hati
Atau mungkin angan lama yang tertunda
Namun ku mohon padamu
Percayalah..!!
Atas alur cerita cintanya
Yang digariskan untuk kita
Akan selalu indah pada waktunya

itu kamu

Perlahan kau urai rasa
Di waktu yang berlalu
Entahlah..
Ku tak ingin tau apa-apa
Ku hanya inginkan adamu
Di sini..
Bersamaku memberi arti
Pada sketsa lirih yang kian kentara
Deranya 

Aah..!!

Aku mau itu kamu..!!
Sapukan kuas pada kanvasku
Dengan warna semaumu
Itu memang kamu..!!
Melukiskan malam terang benderang
Dan pagi temaniku menari
Entahlah..
Mungkin layak jika aku dijuluki pemimpi
Karenamu..
Aku tak peduli lagi

Jingga

Ketika pagi akhirnya menyapaku
Masihkah itu kamu??
Segaris siluet jingga
Ataukah...
Ku harus menunggu datangnya senja
Tuk katakan itu memang kamu??

Bagiku...
Antara pagi ataupun senja hari
Aku enggan peduli
Adamu pada siluet jingga itu
Karena...
Aku hanya ingin pahami
Rasamu sebagai rindu
Dan akan selalu mencariku
Tanpa henti di sini ...

Rindu

Rindu...
Entah pada lapisan hati mana kini kuletakkan
Adamu..
Begitu menyesakkan tapi syahdu
Begitu menyakitkan meski merdu
Airmata yang mengalir untukmu
Tak berarti ternyata bagimu
Sayangnya...
Hatiku akan tetap peduli
Tertatih ku selalu hampirimu
Ingin panggil kenangan indahmu
Bukan pada lelehan perihmu
Namun apa daya ku tak mampu bersuara lantang lagi
Tentangmu...
Tak ubahnya butiran debu
Di ujung resah cintaku
Saat aku merindumu
Kekasihku....

Aku memanggilmu...
Aku memintamu...
Sayup...
Lirih...
Dan aku hanya dapati letih
Menunggu adaku
Pada hatimu

Di sini..

Ketika airmatamu berkisah
Tanganpun tak sanggup mengusap alirannya
Tuk sampaikan hatiku senantiasa
Bersamamu...
Dan ketika senyummu menghiasi
Rumitnya sketsa wajahmu
Dari luluh lantahnya bumi
Tanganpun tak mampu memeluk tubuhmu
Tuk ungkapkan hatiku turut bahagia
Menyaksikannya

Bukan aku tak mau
Bukan juga tak ingin
Aku kan menemui..
Saat kau sedang merasa sendiri
Dan ku akan tampakkan semua
Atas lembutnya pendaran rasa
Bagiku..
Kau adalah segala keindahan
Dari seluruh persembahan
Jiwaku hanya menuntutmu
Di sini dengan sembunyi
Hatiku selalu mencintaimu
Di sini tanpa harus dipeduli
Karena...
Kau tlah menjadi alasan terbesarku
Meniti alurnya kisah
Pada detikan waktuku
Di sini
Love u...

Sang Jengkerik

Jika saja jengkerik itu punya daya
Ingin rasanya terbang menghampiri rembulan
Mengajaknya berdansa di antara bintang
Tapi ia paham....
Sayapnya terlalu lemah
Untuk mewujudkannya
Kecewakah??
Tidak..!!
Walaupun bisanya sekedar menatap
Ia telah merasa bahagia
Jengkerik akan tetap bernyanyi
Meski lagu pemujaannya belum tentu sampai
Dia juga sadar..
Garisnya hanya berlompatan di rerumputan..


..................................................

Jika saja rembulan itu dipercaya
Sanggup turun ke bumi
Tanpa harus lewati awan dan bintang
Tuk temui jengkerik di sini
Akankah jengkerik itu mau berdansa?
Memamerkan liuk tariannya
Juga perdengarkan nyanyian bernada memuja
Ataukah rembulan hanya mendapatinya terdiam??
Karena masih merasa tanpa daya...

....................................................

"Percayalah...
 Aku mampu untuk turun ke bumi
Dan akan mengajakmu terbang tinggi
Tanpa perlu sayap lagi
Melainkan dengan hati..."
...................................................

Semangat

Jiwa-jiwa kecil mengais asa
Pada dingin pagi kau harus berkelana
Mengadu ilmu bekalmu
Yang kau sendiri tak menyadari
"Haruskah ini semua aku pelajari?"
Aku suguhkan sebuah senyuman
Dan mencarikan segudang alasan
Untukmu..
Agar kau bisa percaya
Jika titianmu mencari asa
Tak akan pernah sia-sia

Rabu, 24 September 2014

Bidadari Surga

........................................................................



Dimanakah kecantikan itu bertahta?
Bukankah dia terlahir bersama pemujanya?
Dan jika saat ini ada yg memujamu dg cinta
Saat ini pulalah dirimu bidadari dr surga


..........................................................................



 Kiranya ingin ku nikmati dayumu
Yang kau bisikkan lembut
Padaku..
Sanjungmu atas nama cinta
Adamu sebagai pemuja rasa
Hingga aku hanya mampu kembali bertanya
Pantaskah bagiku sebagai bidadari dari surga??




...............................................................................

Senja

Kali ini..
Kau pandang indahnya senja
Tak ingin terlewat lagi
Siluet jinggany yg menawan
Jadikan diri terpesona
Hangat kilaunya yg kau rasa
Jadikan hatimu jatuh cinta
Entah berapa kali kau nikmati
Secuil bosanpun tiada
Dan..
Ketika senja menghampirimu
Kali ini..
Kau lukis senyuman
Kau biarkan tubuhmu diselimuti rasa girang
Menepis malam yg meradang
Kau percaya..
Indah senja bukan sementara

Senja ini untukmu,Sayang..

Tentangmu..

Aku mencarimu
Di antara riuhnya rinai hujan
Yang tersisa..
Lembutmu masih bisa ku sentuh
Tanpa harus ku nyata
Rasa yang sengaja ku endapkan
Tlah menjerakan anganku seketika

Kau memang ada
Dan akan selalu ada
Jika kini aku temuimu lagi
Bukan untuk mengadu hati
Namun...
Ingin ku lewatkan mimpi beribu malam
Bersama lalunya gemerecah hujan
Tentang rasamu untukku...
Tentang adamu bagiku...
Adalah hal terindah yang ku puja
Meski tak bersama

Hal Terindah..

Aku mencarimu
Di antara riuhnya rinai hujan
Yang tersisa..
Lembutmu masih bisa ku sentuh
Tanpa harus ku nyata
Rasa yang sengaja ku endapkan
Tlah penjarakan anganku seketika
Kau memang ada
Dan akan selalu ada







Perlahan Abim merapikan rambutnya yang berantakan. Pandangannya masih tak lepas dari hamparan pantai di depannya. Angin pantai berhembus sedikit nakal tak juga mengganggu Abim dalam menikmati senja di pinggir pantai tersebut. Sore itu hujan telah berhenti dan menyisakan gerimis tipis. Deburan ombak sesekali terdengar beriring dengan gaduh tak karuan di dalam dadanya. Pertemuan dengan seseorang karyawati baru di kantornya menjadikan Abim tertegun. Pertemuan yang tak diduganya. Dan ia merasa harus mengunjungi tempat ini. Tempat di mana ia dan angan yang tak pernah terungkapkan itu beradu pandang. Angan yang ia rasa begitu indah namun ingin ia lewatkan keberadaannya bukan karena enggannya. Ia tak punya keberanian atas rasa sukanya itu.
Abim menarik napas panjang. Angin masih dibiarkan menyapu rambutnya. Kali ini ia enggan merapikannya lagi.



Ingatan Abim melayang kembali pada kejadian duapuluh tahun silam...



Pada pinggir pantai yang sama, terbayang lagi bagaimana repotnya ia mengatur irama jantungnya sendiri saat ia harus bertatap muka dengan seorang gadis yang telah menghiasi mimpinya. Dinda,nama gadis itu...Teman sekolah Abim tapi beda kelas. Gadis yang sederhana cenderung cuek menurut Abim.  Namun entah bagian sisi mana yang bisa membuatnya jatuh hati. Abim hanya memperhatikan Dinda dari kejauhan. Keinginan untuk menyapa  Dinda dipendamnya. Abim merasa berat memulai percakapan bila itu menyangkut orang yang istimewa baginya. Tak terbayang juga dalam benaknya bila gadis itu akan membalas rasa sukanya. Jauuh..... Tak terbayangkan.....  Dan ia hanya bisa diam tanpa sepatah katapun terucap untuk menyampaikan rasa sukanya itu.




Diam ku nikmati sayatannya
Sepi ku jerakan perihnya
Ranting kasihku yang rapuh
Patah sebelum tersentuh
"Apakah itu ragu?"
Tak ku iyakan
Bukan juga sebuah tolakan
Bilurnya tetap ku nikmati
Meski dengan sembunyi




Saat kelulusan,sekolah mengadakan tour dan salah satunya obyek wisata yang dituju adalah pantai Pangandaran. Seperti kebanyakan siswa lainnya, Abim menikmati momen tersebut dengan riang. Hingga di sisi pinggir pantai bagian kanan, Abim harus berpapasan... bertatap muka dengan Dinda, gadis yang telah mencuri hatinya. Rasa kikuk menghampiri. Tanpa disadari, Abim hanya diam mematung. Dinda tersenyum padanya  dan permisi ingin mengumpulkan kerang yang berserak di sekitar pinggir pantai itu. Abim menyilahkan Dinda berlalu dan membalas senyuman Dinda dengan sedikit tersipu dan buru-buru menolehkan wajahnya berlawanan arah untuk menyembunyikan pendaran rasa yang ada di hatinya. Ada rasa senang... bingung... malu.... tapi lega.




Abim merasa harus tahu diri soal ini namun ia juga tak mau mengingkari kata hati...



Ketika bait-baitmu bertebaran di sekelilingku
Aku tersentak..
Kucium aroma embun pagi
Aroma tanah basah
Perlahan ceceran hati ini kembali
Mengundang bayang yang pernah hilang
Bayang yang pernah ku puja
Saat purnama tiba..





Kembali Abim menghela napas panjang. Menggeser kursi yang ada di depannya dengan maksud ingin meluruskan kaki agar lebih santai lagi. Senja belum hilang siluet jingganya. Dan Abim tak peduli bila jingga itu akhirnya menghilang. Dia ingin menikmati riak angannya sampai ia merasa lega dan puas.
Angan yang senantiasa ia puja keberadaannya tanpa maksud untuk terus mendekapnya. Angan yang hanya ia dan hatinya yang tahu betapa indahnya sketsa cinta yang ingin ia punya. Mata Abim terpejam mencari arti hadirnya seorang Dinda di hatinya. Masih saja logikanya buntu untuk satu hal itu.





Bila aku boleh meminta
Adamu pada bayangan itu
Aku ingin kau punguti ceceran hati ini
Dan kau rangkum menjadi satu kisah elegi
Untukku...
Jangan pernah berhenti lagi





Ketika senja benar-benar menghilang, haripun merangkak malam. Angin malam menyapanya lirih namun dingin. Abim membuka mata perlahan seolah bersiap menyambut sepinya malam. Ia beranjak dari duduknya dan mulai merapikan rambutnya. Jaket ia kenakan untuk sekedar menepis hawa dingin di tepi pantai. Sebuah senyuman ia lukis sendirian sebagai ekspresi bahwa ia telah lega dan puas mengurai endapan angan di hatinya. Yaa.. lega...  Abim merasa lega. Dimana ia bisa merasakan kehadiran nyata angannya saat ini dan melepaskan rasa yang ternyata tak pernah hilang. Rasa yang masih ada dan hanya sembunyi di dasar hatinya. Langkahnya ringan seringan ia merasakan hatinya kali ini.






" Dan aku tau... rasaku padamu... adamu untukku adalah hal terindah bagi alur hidupku... dan tak ingin aku ingkari tentang hal itu..."






Kini aku temuimu lagi
Bukan untuk mengadu hati
Namun...
Ingin ku lewatkan mimpi beribu malam
Bersama lalunya gemerecah hujan
Tentang rasamu untukku...
Tentang adamu bagiku...
Adalah hal terindah yang ku puja
Meski kita tak bersama





( Jakarta, September 2014 )

Selasa, 09 September 2014

Persembahan Cinta untuk Renta

Maafkan aku..  
Untuk kali ini saja  
Aku tak mau mengerti  
Tentangmu..  
Aku juga tak mau pahami  
Karena...  
Aku telah terlanjur jatuh hati  
Padamu..  

Maafkanlah.....




Renta menghela napas panjang. Mencoba berdamai dengan hati. Pelan-pelan ia mengumpulkan semua rasa untuk dipadukan dengan logika. Sambil asyik mengamati tingkah sepasang love bird yang ada di sangkar teras rumahnya. Dengan lincah sang burung menari tanpa terusik dengan keberadaan Renta. Kembali Renta menghela napas lebih dalam. Burung itu telah membawa ingatannya pada seseorang yang sangat berarti. Sosok yang tak ditemuinya dalam waktu dekat. Dan untuk saat ini.


Sosok itu bernama Levi, orang yang telah menawan hatinya juga memberi warna lukisan rasa di hatinya dan sekarang sedang berada jauh dari jangkauan matanya.





"Love bird ini akan menjadi teman saat kamu merindukanku.. ia akan mengerti apa yang kamu rasa sebagaimana aku juga merasakannya dari sana. Dan ini adalah bagian kecil persembahan cintaku padamu yang nyata selain kesetiaan pastinya, aku mohon...jagalah...!! rawatlah...!! seperti aku dan kamu akan selalu menjaga dan merawat cinta kita menjadi sebuah cerita," ucapmu saat hari di mana aku harus melepasmu untuk berada jauh dariku karena study sebagai kesempatan dari instansi tempat kamu bekerja.





Terbayang saat-saat bersama Levi di awal masuk kuliah. Tak sedikitpun ia tertarik pada Levi,seorang mahasiswa Tehnik 2 tahun di atasnya yang dengan gaya khasnya menyapa Renta setiap hari meski hanya sepatah kata ucapan selamat pagi. Renta nyengir membalas sapaan Levi.  Sikap antara menghargai Levi sebagai seniornya tapi juga sedikit risih karena godaan dari teman-temannya.


Saat itu ia merasa biasa saja.…


Seperti senior sebelumnya, pada akhir semester 2 di kampus Renta diadakan kegiatan orientasi mahasiswa baru yang biasa disebut OMB dan diakhiri dengan sebuah acara,yaitu malam keakraban. Kegiatannya berlangsung 3 hari dan dilaksanakan di lereng perbukitan pinggir kota. Tibalah pada hari pelaksanaan OMB, terlihat Renta sedang sibuk meneliti barang bawaannya. Dirasa tidak ada yang kurang atau ketinggalan,berangkatlah ia ke kampus setelah berpamitan dengan orang tuanya. Hari itu adalah hari jumat siang setelah selesai ibadah sholat jumat. Sesampai di kampus,Renta cepat bergabung dengan kelompoknya. Hatinya senang karena ini adalah pengalaman pertamanya menikmati alam bebas. Jarum jam telah menunjukkan saat untuk berangkat.

Setelah berdoa bersama yang dipimpin seniornya, Renta dan rombongan berangkat menuju tempat pelaksanaan OMB. Renta larut dalam canda bersama teman-temannya.



Setiba di lokasi, Renta menuju tempat yang telah disiapkan. Dengan sigap para mahasiwa baru memberesi barang bawaannya seolah telah tahu apa yang harus dilakukan. Begitu juga dengan Renta. . Para seniorpun tak segan turun langsung memberi arahan. Malam di hari pertama bukan dilewati dengan langsung istirahat,melainkan para mahasiswa baru tersebut sibuk meminta tanda tangan seniornya minimal 10 orang di sela-sela kesibukan yang mereka lakukan. Batas pengumpulan tanda tangan tersebut adalah sabtu siang,karena pada malam harinya saat malam keakraban akan diumumkan siapa saja senior favorit dan juga junior avorit pilihan teman-temannya sendiri. Namun, untuk memperoleh tanda tangan tidak cuma-cuma. Berbagai syarat dilontarkan untuk sedikit menguji nyali adik kelasnya. Dengan tingkah beraneka ragam terlihat para senior ingin menunjukkan popularitasnya dengan cara masing-masing. Ada yang bersikap galak,arogan atau tegas tak mau dibantah sampai dengan sikap yang ramah, lembut dalam arti pelan intruksinya hingga sikap yang biasa saja.



Singkat cerita, Renta juga aktif mencari tanda tangan dan berinteraksi dengan senior-seniornya tersebut. Tak terasa juga tinggal seorang saja dan Renta memutuskan untuk menunda esok pagi karena badan Renta sudah lelah. Keesokan harinya,saat Renta sedang mengumpulkan ranting untuk memasak air, ada sosok yang sedang asyik dengan kanvasnya menghadap arah hutan tempat OMB berlangsung. Renta berhenti sejenak dan memperhatikan dengan seksama karena hari masih sedikit gelap. Sambil mengendap ia menghampiri sosok tersebut. Tepat setelah ia berada di belakang sosok itu,ia memekik tertahan sambil menutup  mulutnya dengan tangan kanannya. Tangan kirinya memegang ranting yang telah dipungut di sekitar tendanya. Tak sadar pekikan Renta membuat sosok tersebut menoleh ke arahnya. Keduanya sama-sama kaget. Renta buru-buru mengucapkan maaf.

“Maaf mengganggu konsentrasi melukisnya,saya tidak sengaja tadi,” Renta menunduk malu.

Ia telah membuyarkan konsentrasi sosok itu melukis bentangan hutan yang menjadi latar tempat OMB berlangsung lengkap dengan liukan burung-burung liar yang tengah asyik menari. Sosok yang tak lain adalah Levi menjawab, “Gak apa-apa, aku cuma kaget karena mendengarmu memekik, takut kalau ada masalah.”  Renta meringis sambil berkata, “ maaf sekali lagi kak.. abisnya lukisanmu bagus sih! Seolah seperti barisan pohon-pohon dan burung-burung kecilnya yang tertempel pada kanvas. Begitu hidup kelihatannya,sungguh mengagumkan.”

Levi tertawa pelan, “ Kirain ada apaan, bikin aku kaget saja. Lebih kaget lagi setelah mendengar pujianmu, hiperboliknya itu loh!!”  begitu Levi menanggapi komentar Renta pada goresan kanvasnya. Renta ikutan tertawa seraya bertanya pada Levi, "Kalo saya di sini sebentar kira-kira mengganggu gak kak?" Levi mempersilahkan Renta duduk di sebelahnya. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Renta untuk meminta tanda tangan Levi untuk menggenapi tugas OMBnya. Tapi tak semudah itu Levi memberi tanda tangan. Renta diminta meneruskan apa yang Levi lukis. Mudah bagi Renta karena ia bisa melukis meski tak terlalu mahir. Matahari mulai tampak menguning di sisi timur,bergegas Renta pamit untuk kembali bergabung dengan teman-temannya. Levi tersenyum mengiringi kepergian Renta.

Dan ia masih merasa biasa saja.....



OMB telah usai tapi ada yang lain setelah kegiatan tersebut. Semakin hari Levi dan Renta semakin dekat. Di samping membantu dalam tugas-tugas Renta, Levi juga asyik sebagai teman ngobrol sekaligus teman bercanda.Tak ketinggalan sapaan selamat pagi dengan gaya khas Levi. Untuk kali ini Renta tidak nyengir lagi namun menyahut dengan suara merdunya.

" Selamat pagi jugaa kak Levi...."




Waktu terus melaju dan Levi telah menyelesaikan skripsinya. Suatu hari,pada malam minggu entah yang ke berapa Levi memberanikan diri menyatakan ketertarikannya pada Renta. " Bolehkah aku menjadi teman spesialmu,Ren?" tanya Levi. Renta menatap Levi dalam-dalam seakan mencari kebohongan sedikitpun bila itu ada. Ia tak menemukannya. Renta tersenyum dan mengangguk. Kembali Levi berkata, " Waktu akan membuktikan cintaku ini bila kau masih belum percaya,Ren..." 

"Aku sayang kamu... bangettt!! " ....kata Levi lirih sambil meraih tangan Renta untuk digenggamnya seakan ingin meyakinkan kesungguhan cintanya pada Renta. Dan Renta membiarkan tangannya untuk digenggam Levi tanda ia juga mempunyai perasaan yang sama.





Pada jiwamu kau berbisik
Pada hatimu kau titipkan
Tentang kalimat cinta
Juga rangkaian rindu yang mendera
Namun...
Tanyamu tetap ada
"Untuk akukah semua itu"

Kiranya..
Kau hanya mampu untuk percaya
Rangkaian kata itu
Di antara ragumu yang ada

"Aku sayang kamu......."





( Jakarta, September 2014 )

Minggu, 07 September 2014

Diamku hanya untuk mengertimu..

Pada satu titik kau bertahan
Menjawab semua letih keraguan
Dan..
Pada satu titik kau membisu
Mengharap tiada kata cinta lagi
Hingga ..
Pada satu titk kau harus luruh
Bawa rasamu sendiri
Begitu lara..
Begitu rapuh..
Kau tak peduli
Atas dirimu sendiri

"Kali ini aku tak ingin memujamu,CINTA.."




Perlahan kau rasakan sebuah aliran hangat melintasi pipimu. Dan kau masih saja mendiamkannya,seolah tak peduli wajahmu ikutan basah, tak hanya di bagian pipi. Kau hela napas dengan segan. Tatapanmu masih kosong ke arah jendela. Di luar gerimis juga tak kunjung reda, tanpa sengaja begitu setia menemanimu berurai airmata.



Kau coba memutar kejadian semalam. Masih seperti semula,tatapan belum lepas juga dari sisi jendela sambil menggumam, "Dimanakah letak kekeliruannya?? tak mungkin..!!!.. Teganya kau perlakukan aku, sungguh tak punya perasaan.. aahh!!" ..tak sadar kepalamu menggeleng untuk menegaskan penolakan di hatimu.

Dia berlalu tanpa kata.... tak seperti saat semua bermula. Begitu banyak tanya yang tak terjawab dengan sikapnya.Pengecutkah..?? Kau tepiskan anggapan itu seketika karena kau sama sekali tak inginkan kata itu disandangnya.


"Aahh.........."


Termangu kau menahan kelu di hatimu yang seolah merasakan tindihan sebongkah batu tak juga mau berpindah tempat.


"Entahlah........."




Jalinan cerita yang baru di ujung terbentang akhirnya harus kau relakan untuk ditinggalkan.Yaa.. ditinggalkan. Dan tepatnya dibiarkan tertinggal. Atau apa lagi istilah kerennya kau tak peduli lagi. Karena itu tak kau inginkan tapi harus terjadi. Kau masih percaya akan kekuatan cinta, dan akan selalu percaya.. Seperti kau percayakan cintamu memilihnya, memilih jiwanya mencumbui hatimu dengan segala rasa. Kembali kau menghela napas panjang dan terdiam.


Bagiku..
Kau tak ubahnya jalur yang berdebu
Enggan ku mengabaikan
Segan kakiku ditapakkan
Kau menoleh sekedar ingin tau
Mengapa!??
Aku palingkan rasa buru-buru
Seolah tanya itu tiada
Dan senyap kembali yang kau temui
Entahlah...


Riak di matamu mulai mengering, bersamaan dengan datangnya kesadaranmu untuk mengurai cerita ini kembali. Kau mengenalnya tak ubahnya seperti belasan kalimat dalam satu kata,yaitu cinta. Namun bagimu....tak ada yang tak mungkin bila itu tentang rasa. Dan sekali lagi,kau selalu percaya cinta. Padanya, kau lukis kerinduan,kau anyam keindahan dan kau hiasi pernik tangisan. Senyummu senantiasa tersungging di bibir manakala kau bersamanya. Tak jarang senyum itu berubah menjadi tawa saat dengar dan melihat tingkah konyolnya. Tak sedikitpun jiga kau merasa letih mendengar ceritanya tentang apapun berikut keluh kesahnya. Dan begitu pula sebaliknya. Tak ada beban dan tak pernah bosan. Itu yang kau rasa....


"Bagaimana dengan yang dia rasa.......??"


Kembali kau menekuni pilahan-pilahan jalan cerita. Di mana kau dan dia sebagai tokoh utama. Dia...?? Tak ada satu orangpun yang bisa menebak isi hati orang lain selain daripada telah ada kedekatan secara emosional sebelumnya. Itupun tak sepenuhnya benar. Dan bila kau merasakan ada yang berbeda dengannya, tak lain karena satu alasan juga,yaitu cinta. Cinta itu selalu dapat dipercaya. Entah pergerakannya,pengertiannya juga tentang rasanya. Kau hanya mampu memegang satu kata...


"Percaya........"


Pada akhirnya kau hanya bisa percaya akan kekuatan cinta. Tak ingin lagi kau nikmati sayatan perih di hatimu karena cintanya. Bukan karena kebencian atau dendam. Tidak..!!.. Hatimu telah rela terdiam untuk cintamu. Dan kau tulis dalam kerelaan itu atas cintanya. Kau dekap sendiri semua lara. Kau lacurkan sendiri keegoisan rasa.

Karena diammu hanya untuk mengerti cintanya......


Adamu kini pada jeruji rindu
Ku sebut namamu cinta
Dan...
Kau kenalkan aku pada bilur laranya
Aku juga terima..
Tapi...
Jangan kau berani mengais luka
Seujungpun ku tak akan rela

Aku tetap memanggilmu cinta
Meski lirih..

Dengarkanlah..!!!




( Jakarta, September 2014 )

Kamis, 04 September 2014

merindumu

Ku akan temui kau lagi..
Sebagai lapisan yang abadi
Setiap rasaku memanggilmu
Di sini..
Dan aku akan selalu kembali
Untuk semua kenangan itu
Meski sekedar melewatkan rindu
Ato hanya rasa ingin berjumpa
Denganmu..
Ku jelajahi deretan sketsa hati
Di sini..
Selalu akan berada di sini

Kutuangkan..
Kuekspresikan..
Kuabadikan..

Ku akan temui kau lagi..
Tak pernah aku merasa bosan
Dengan jiwaku yang semakin melirih
Aku tetap inginkan kau
Bersamaku..
Di sini..
Mengurai kembali serakan rindu
Entah kau mengaku
Entah kau belagu
Aku tak peduli
Karena...
Yang aku tau...kau tetap menjadi lapisan abadi
Di antara lirihan jiwaku dan peso na jiwamu sendiri
Di sini...

cemburu

Menunggu pagimu
Bersama senyum yg kusajikan
Diantara lugasnya tikaman
Rindu dan cemburu
Tangisnya tlah kuseka
Agar tak kurasa esoknya
"Apakah itu keliru?"
Diam kunikmati sayatannya
Sepi kujerakan perihnya
Ranting kasihku yang rapuh
Patah sebelum tersentuh
"Apakah itu ragu?"
Tak ku iyakan
Bukan juga sebuah tolakan
Bilurnya tetap kunikmati
Meski dengan sembunyi

Aku rindu..
Tapi juga cemburu..
Padamu

melewatkan waktu

Aku melihatmu di kejauhan
Dan aku tau pasti
Itu kamu...
Ketika ku hampiri tuk menyapamu
Kau tersenyum...
Aku tersenyum...
Ku lewatkan waktu tanpa peduli
Seolah waktu tak berhenti
Kau tertawa...
Aku bahagia...
Hingga ku dapati kau tersedu
Menahan pilu..
Aku terdiam seketika
Mencoba ulang yang terjadi
Sekali lagi aku tau
Itulah kamu...
Sayangnya...
Dengan rasamu yang tersembunyi

Aku melihatmu di kejauhan
Dan aku tau pasti
Itu kamu..
Namun kali ini tak kuhampiri
Bukan karena benci
Atau belagak lupa diri
Aku tetaplah di sini
Aku hanya ingin...
Agar kau bisa mengerti
Juga sekedar memahami
Jika rasa itu jangan sembunyi

diam

Menyusuri tepian hati
Dan kau diharuskan diam
Hanya terus berjalan
Sedangkan aku tengah asyik mengamati
Ke manapun kau melangkah pergi
Bagiku..
Kau tak ubahnya jalur yang berdebu
Enggan ku mengabaikan
Segan kakiku ditapakkan
Kau menoleh sekedar ingin tau
Mengapa!??
Aku palingkan rasa buru-buru
Seolah tanya itu tiada
Dan senyap kembali yang kau temui
Entahlah...


Selamat pagiii,Cinta....
Tiadamu...
Sungguh aku tak berarti

inilah cinta

Ketika aku bertanya
Padamu..
Tentang alasan kita bertemu
Kau hanya tersenyum
Seolah mengabaikan tanyaku
Dan ketika ku meminta
Sekali lagi tuk menjawabnya
Kau isyaratkan agar diam
"Dengarkanlah..
Kidung janji itu bernyanyi
Sebagai alunan rasa saling mencintai.."

Aku mendengarnya
Aku merasakannya
Aku menikmatinya
Tak ingin lagi ku bertanya
Alasan kita berjumpa
Tlah ku pahami melodinya
Tlah kurasakan getarannya
Dan aku percaya...
Kidung janji itu lebih indah bila dinyanyikan bersama
Seperti kebersamaan pagi dan matahari
Karena pagi tak pernah mencari tau
Alasan matahari menemuinya selalu
Dan kita...
Tak cukup alasan tak berkata
Inilah cinta..
Love u....

sebuah rencana

Berceloteh di suatu pagi
Denganmu..
Ku inginkan yg terbaik
Untukmu..
Apapun itu tanpa kecuali
Bagiku..
Kau adlh malaikat kecil
Hidupku..
Tlah kulontarkan kata dan kalimat
Entah pd hitungan ke berapa kali ini
Dan aku tak peduli
Tiada prnh bosan jg
Karena..
Ku ingin kau mengerti
RencanaNya itu penuh warna
Utk selalu diterima

menjaga hati

Dan ini bukan sesaat,karena aku mau semua tiada akhir..
Dan ini bukan hanya rasa,karena aku inginkan kau selalu segalanya
Meski di sini..
Tetap di sini..
Dan selalu di sini..
Bersama cintamu
Tak pernah berhenti
Menjaga hati dengan peduli

I love u...

rindu

Ketika langit itu bercelah
Ingin ku sampaikan
Padamu..
Tentang hati yang merindu
Atas keindahan yang ku puja
Di waktu tersendiri
Dan ketika bumipun enggan berhenti
Aku yakinkan hati lagi
Jika rindu ini
Padamu...
Tanpa basa basi

Senin, 07 Juli 2014

waktu...

Kembali menyusuri lorong waktu
Yang lalu..
Pada gelapnya aku slalu bercerita
Entah tlah kuulang berapa kali
Mungkin sampai kau merasa bosan
Aku tak peduli..
Karena pada waktmu aku berjanji
Melewatkan indahnya pahatan lagi
Dan akan meletakkan hatimu
Di sini...

Dear you...

sajak itu...

Sajak berupa deretan kalimat yang bermelodi
Dan kamu adalah salah satunya..
Ketika sajak itu menginginkanmu lepaskan sembunyi..
Kau hadirkan senyum sebagai tirainya

"Senandungkan sajakmu untukku..."

Aku pun berharap hal serupa
Aku ingin dengar sajakmu tanpa tirai dan seadanya
Karena aku percaya..
Sajakmu lebih merdu bila itu yang semestinya

kamu..

Karena adamu pada jeruji rindu
Ku sebut namamu cinta
Dan..
Kau kenalkan aku pada bilur laranya
Aku juga terima..
Tapi...
Jangan kau berani mengais luka
Seujungpun ku tak akan rela

Aku tetap memanggilmu cinta
Meski lirih..
Dengarkanlah..!!!

Cinta Tak Pernah Usai..

Jika aku mencarimu lagi
Dan memintamu kembali
Aku percaya..
Kau adalah puing yang tertata
Untukku..
Karena..
Luruhmu telah setubuhi waktu
Hingga rasamu tak pernah usai
Mencintaiku....


Aku menyusuri jalanan dengan perasaan tak menentu. Antara otak dan langkah kaki ini seolah beradu cepat ingin segera sampai rumah. " Rumah??"....Aku  bergumam sendiri tanpa sengaja. Mencari lagi definisi "rumah" yang kuinginkan. Berulang kali pula logikaku riuh bersahutan menyodorkan kenyataan. Dan anehnya, kenapa kata itu selalu berdefinisi kembali tentangmu. Tentang cintamu..

Cinta..
Satu kata yang tak tak perlu penjabaran menurutku, karena ia hanya sebuah permainan hati dengan semua rasa. Dan aku menganggapnya sebagai kebohongan belaka. Hingga hari ini aku bertemu kau lagi. Terhenyak aku mendengarkan celotehmu tentang makna cinta. Lebih terkejut lagi setelah tahu rasa cintamu padaku yang sengaja kau endapkan sekian lama. Begitu dasyatnya kekuatan cinta, sampai sanggup tertahan luapannya tanpa meminta pengakuan. Tersenyum.. adalah ekspresi pertama yang kulihat saat kau katakan itu semua. Yaa.. senyum kerelaan menahan sakit teraniaya sendiri oleh rasa cintamu itu.


Kau coba tepiskan semua rasa
Seolah tak mau tau..
Jika waktu telah setubuhimu
Bersama gulana di hatimu
Dan kau terjaga seketika..
Saat kau terlanjur mendekap lara
Kaupun kembali bertanya
"Di manakah aku berada??"
Tentangmu tetaplah tiada....


"Cinta itu indah..."
Begitu kau mulai memberiku sebuah sketsa pertama tentang cinta. Aku mulai menyimak setiap perkataanmu. Matamu tajam melihat jauh dengan tatapan yang melembut ketika beralih padaku. Aku juga menatapmu dan berharap kau melanjutkannya lagi. Terdangar lagi suaramu...

"Cinta itu indah.. Mungkin kau akan merasa cinta itu benar-benar indah saat di setiap helaan napasmu dipenuhi canda,tawa yang tak pernah tau kapan berhentinya. Ketika kau temui cinta itu di kesunyian,apalagi saat dia bersama yang namanya airmata,kau akan menolak pernyataan itu. Memang, kesedihan dapat membuyarkan semua angan tentang indahnya cinta. Tapi mengertilah, dibalik kesunyian itu tersimpan berjuta keindahan yang bernama rindu. Tahukah kau tentang rindu?? adalah ruang kosong yang tersimpan di hatimu ketika kau menginginkan keberadaannya. Rindu pula yang akan membawamu pada suatu tempat dimana hanya kita yang bisa rasa" , katamu dengan lembutnya. Aku mendengarkanmu tanpa menyela. Lalu kau lanjutkan cerita lagi.. " Cinta itu indah.. meski harus berurusan dengan cemburu. Tak usah heran.. memang,di manapun namanya cemburu itu berarti kelu..tak ada manisnya sama sekali,tapi kenapa cinta tetap indah di situ? Aku menamainya bukan cemburu,tapi cinta yang teramat sangat. Cemburu itu tak ubahnya tolok ukur kita tentang indahnya cinta itu sendiri. Tak ada cemburu sama halnya tak ada cinta. Tapi,cemburu yang berlebihanpun bukanlah cinta,dia telah menjelma menjadi penguasa,penguasa cinta. Cinta itu indah.. meski tangisan kekecewaan selalu di sekelilingnya. Entah kekuatan darimana keindahan itu bisa muncul di balik tangisannya. Kekuatan itulah yang bisa kita rasakan sebagai keindahannya, yaitu rasa rela berdamai dengan hati sendiri dan orang yang kita cintai. Karena cinta sebuah kerelaan diri mengasihi,menyayangi,berkorban juga mengerti secara tulus tanpa perlu pengakuan sekalipun. Dimanapun cinta berada,bagaimanapun keadaannya dan pada siapapun dia menghampiri untuk jadi cerita...cinta itu indah."



Rembulan...
Hanya menggeliat perih
Di kejauhan
Sesekali bias sinarnya
Tertutup awan hitam
Dan membuatnya terdiam
Termangu..
Segan rasanya menyeruak
Meminta sebuah pengakuan


"Cinta itu rumah.."
Sketsa kedua menurutmu tentang makna cinta.. Aku masih asyik menyimak apa yang akan kau katakan. Dan kau sendiri tetap tersenyum di sela-sela kalimat yang kau ucap.

"Cinta itu rumah.... di mana kita sanggup berekspresi apapun tanpa ragu,tanpa malu karena kita merasakan kenyamanan di situ. Sepanjang kau bisa memberikan kenyamanan padanya maka kemanapun cinta itu pergi..dia akan mencarimu untuk kembali. Dia akan selalu kembali... seperti kita selalu rindu untuk pulang ke rumah. Ibaratnya,tak perlu seutas tali untuk mengikatnya,tak perlu juga jeruji untuk memenjarakannnya,cukuplah kau berikan kepercayaan dan kau persembahkan kesetiaanmu pada cinta maka dia akan selalu datang padamu. Kau pasti bertanya mengapa bisa begitu bukan??.. Jika kau merasakan cinta....kau akan meleburkan hatimu menjadi satu dengan semua rasa di dalam cintamu hingga kau tak sanggup mengenali lagi mana rasamu sendiri. Serasa seperti kau berada di hatimu, rumahmu sendiri.. Dan pada akhirnya cintamu akan tahu juga mengerti,hanya kepada hatimulah cinta akan selalu berlabuh membuang sauh. Yaa.. pada hatimu.. " .. kau menoleh padaku, masih dengan tatapan lembutmu. Aku tersenyum memberi tanda kalo aku dapat mencerna apa yang barusan kau katakan.


Aku hanya mengikuti hatiku
Di mana hati ini memanggilmu
Aku ikuti..
Aku mengerti..
Karena ini tentang rasa
Rasa tanpa butuh sebuah logika
Seperti aku menyayangimu
Sayang yang tak perlu ditanya
Sayang yang tak tahu jawabnya
Cukup engkau pahami sendiri
Bersamamu..
Aku tlah menemukan arti


"Dan yang terakhir menurutku adalah... Cinta tak pernah salah.." .. kau masih memberikan pengertian tentang cinta. Anehnya, aku tak merasa bosan sedikitpun.. masih juga dengan ekspresi yang sama kau pun bercerita. Tetap dengan senyum manis di bibir penyempurna garis-garis ketampananmu.

"Cinta tak pernah salah...  cinta tau kapan harus datang. Tak pernah salah memilih waktu,tempat terlebih subyek yang merasakan. Karena cinta adalah interaksi bersama dengan segala rasa yang sanggup mengubah perasaanmu menjadi berwarna. Dan kau dapat merasakannya di saat kau jatuh cinta. Jatuh cinta??..hmmm.. kau tak perlu mengenalnya karena dia tak pernah terkenali tanpa merasakan sendiri. Seperti kata orang-orang,jatuh cinta berjuta rasanya... begitulah!!..tapi itu masih kata orang,bukan menurutmu.... " kau tertawa kecil bukan bermaksud mengejekku karena aku juga masih sendiri sepertimu. Aku tersipu mencoba buang senyumku agar tak ketahuan.  "Ketika orang merasakan jatuh cinta...perasaan yang tergambar hanya satu kata.. indah. Tapi jika kau diminta berlalu dari sisi orang yang telah membuatmu jatuh cinta,masihkah kau bilang jatuh cinta itu indah??.. pasti jawabnya cepat..... sakit!! Salahkah cinta??.. Tidak!!.. Cobalah kau pahami kalo cintamu masih sembunyi,mungkin kau saja yang salah mengerti... karena cinta itu tak pernah salah. Dia akan mencari dan terus mencari pasangan hati."....kau mengakhiri sketsa makna cinta tanpa senum namun kali ini kau tatap aku tajam seolah tatapanmu itu ingin mencari tau apa yang tergambar di hatiku. Aku balas menatapmu masih dengan senyum yang sama ku hadirkan tadi meski dalam hati berkecamuk rasa yang aku sendiri tak tau definisinya.


Hati..
Di sinilah awal sebuah cerita bermula
Mengalun dan meliukkan segala rasa
Anggap waktu tak adil bagimu
Pada hati ini jua...
Bilur rindumu begitu tersengal
Peluh cintamu sungguh megah
Desah merana tetesan airmata
Bukan ingin dikasihani


Sejurus kita terdiam ,saling memandang.. tak sadar aku berucap lirih,"Tuhan.. inikah cinta untukku yang Kau hadirkan?..mengapa aku merasa dekat meski aku belum cukup mengenalnya? mengapa cinta untukku tetap terjaga olehnya??..masih bertanya lagikah aku tentang alasannya?? ..hanya cinta... yaa yaa... karena cinta,itulah jawaban dari alasan kau menjaganya."... Kau tersenyum dan mengangguk. "Aku yakin, cinta itu indah,cinta itu tak pernah salah dan cinta akan selalu kembali ke rumah..dan semua itu terjawab pada hatimu. Aku juga tak ingin memaksamu membalas cintaku karena aku percaya, jika kau dan aku ditakdirkan mempunyai cinta yang sama,suatu saat kita akan bertemu untuk merangkai cerita, tapi...jika kau dan aku hanya ditakdirkan untuk melihat kesamaan cinta kita,tak ada kata terlambat menyatakannya, karena cinta tak pernah usai mendampingimu bahagia dalam doa. Dan kita akan selalu berhutang pada waktu,dimana waktulah media utama cinta kita,"..... begitu kau meyakinkanku. Aku pun mengatakan hal yang sama..."Yaa.. aku bisa pahami semua,aku bisa rasakan dan aku juga percaya jika suatu saat waktu tlah menjawabnya,maka kupastikan jawaban itu adalah cinta kita dengan segala toleransinya. Biarlah semua mengalir mengikuti alur waktu hingga tiba saatnya cintamu akan memanggilku sendiri."
( Chaiya naa )


Satu lirihan hati
Padamu..
Mampuku mengaduh sepi
Di setiap denyutan nadi
Atas rindu yang kau sampaikan
Lugas tanpa bias
Dan aku tetap melirih
Pada hatimu..
Hanya sebatas itu..
Dan kamu juga enggan melewatkan
Hingga anganku terpuaskan
Satu lirihan hatiku
Akan selalu menyanjungmu tiada henti 
Di sini..



( Jakarta, Juli 2014 )

Minggu, 29 Juni 2014

tak peduli

Ingin kau ada
Tapi ada yang tiada..
Jauh sudah..
Kini..
Tentangmu..
Hanya tau sebuah lagu..
Dawai sudah tak lagi
Bermelodi..
Hanya tau kata sunyi..
Iramanya hentikan
Ku menari..
Entahlah!!
Aku tak peduli
Lagi..
Antara ingin dan janji
Berserak
Berarak
Aku tak peduli
Sekali lagi..
Sepertimu juga
Yang tlah melupa
Dan ku terima
Karenamu..
Aku mampu!! ..

entahlah..

Entahlah..
Diam adalah kenikmatan
Mencumbu detik yang terlewat
Meski sesak..
Meski perih..
Rasa tlah terlanjur kuendapkan
Tapi aku tak pernah inginkan
Dan..
Jiwaku pun hanya tau kau harus ada
Menuntut kau hadir juga
Tau apa aku atas diriku ini?
Tiada..

Jika aku mencarimu lagi
Dan memintamu kembali
Aku percaya..
Kau adalah puing yang tertata
Untukku..
Karena..
Luruhmu telah setubuhi waktu
Hingga rasamu tak pernah usai
Mencintaiku..

aku dan kamu

Terdiam..
Mengoyak rapuh pagutan lara
Di manakah kau berada?
Dan relung waktu akan menyebutmu
Rindu..

Sayup sapamu sempat melirih
Mencari tau tentangku
Aku??
Ribuan kata tlah menahanku
Di sini..
Seolah kau juga tak peduli
Masihkah perlu tanya adaku lagi?

Kau selalu memanggilku cinta
Karena kau adalah rindunya
Yang siap mengoyakku..
Menghujamku..
Tanpa harus sembunyi
Nikmat piluku tak perlu kau tau
Akan ku rasa sendiri

Aku adalah cintamu..
Kau tetaplah rinduku..
Di sini..

Aaahh...!!!!!!!!!!!!

hebatmu..

Kau selalu bilang
Aku hebat....
Aku tlah percaya sekarang
Karena kau yang katakan
Jika sekali lagi kau bilang
Aku hebat....
Aku semakin percaya lagi
Karena hebatku menurutku
Jauh sudah dibandingmu..
Dan jika kau tetap bilang
Aku hebat....
Aku tak sanggup lagi berucap
Tentangmu..
Tentang apapun itu
Karena..
Tak ada yang perlu terucap
Olehku..
Selain aku yakini
Jika hebatmu bermakna tersendiri
Di hatiku ini..

Aku tak peduli katamu lagi
Tentangku..
Bagiku adalah kau dan hebatmu
Bersamaku di sini.. ..

antara aku dan Kamu

Tuhan...
Aku tak pernah meragukanMu
Seperti juga saat ini
Kau letakkan bayanganku
Di hadapanku sendiri..
Meski berada di lain sisi

Ku menangis tak seperti tangisnya
Ku meradang tak seperti lukanya
Ku tertawa tak seperti indahnya

Mengapa Kau hadirkan itu padaku??
Di antara semua rasa yang Kau cipta..
Apa karena pongahku yang Kau anggap lupa
Tuk mengakui keagunganMu??
Ataukah Kau ingin tunjukkan kuasaMu
Dengan bahasa lain untukku??

Tuhan..
Ku tundukkan hati bukan karena terpaksa
MemujiMu tiada henti sebagai perantara
Dan....
Pintakupun juga sederhana saja
Jagalah rasa yang Kau beri tentangnya
Tetapkan takdirMu juga atas dirinya
Sebagai sisi lain teman hidupku
Selamanya...

pasrah

Dan..
Larimu tak sekencang dulu
Teriakanmu tak selantang lalu
Masihkah kau mencari arti percaya?
Jika itu berupa nyata..
Kau coba lagi menghitung bintang
Saat langit tanpa rembulan
Kau juga ingin sandarkan angan
Melewati senyapnya malam
Berlalu..
Adalah kiasan untuk hatimu
Terseok lagi kau tepiskan ragu
Hingga letih yang menyisakan tanyamu
"Inikah batas toleransi itu?"

Karena rasamu itu ada..
Karena adamu itu terasa..

tentangmu..

Aku ingin menyanjungmu
Di lorong sempit yang berdebu
Ku lembutkan senyum kerasmu
Bukan tuk merayu..
Ku lebarkan lengan memelukmu
Karena letihmu jangan pernah sendiri

Aku ingin menyanjungmu
Di antara malam hari yang kelabu
Entahlah..!!
Aku hanya ikuti rasa ini
Sampai batas toleransi akan berhenti
Entahlah..!!
Jangan tanya tentang itu lagi
Aku juga tlah acuhkan semua alasan

Aku ingin menyanjungmu
Sekali lagi..!!
Hingga kau sanggup pahami
Sungguh berartinya dirimu sendiri..

ayah..

Menginginkanmu kembali
Begitu mustahil bagiku
Karena..
Adamu telah tersembunyi
Di antara sepinya waktu
Yang melirih..
Tak ada candaan
Tak ada omelan sayang
Tak ada nasehat bernada pelan
Apalagi sebuah pelukan..
Rindu..??
Entah di lapisan mana rasa itu berada
Aku tak juga ingin tau tentangnya
Bagiku..
Sayatannya telah menjadi tak hingga
Melebihi jarak di antara kita
Antara sayang yang nyata dan doa..

Ayah..
Ijinkan aku mengenangmu
Tanpa ada airmata
Di hari ini..
Hari kelahiranmu..

tentang aku..

Terpejam..
Ketika malam memanggilmu
Mencari tahu tentangku
Di antara syair sang pujangga
Dan bisikan para pemuja cinta
Masih perlukah kau tanya?
Alur yang ingin kau lewatkan
Tentangku..
Begitu saja..

Kau coba tepiskan semua rasa
Seolah tak mau tau..
Jika waktu telah setubuhimu
Bersama gulana di hatimu
Kau terjaga seketika..
Kau terlanjur mendekap lara
Dan kaupun kembali bertanya
Di manakah aku berada??
Tentangku..
Tetap tiada..

"Aku berada di ujung sempit pandanganmu
Tanpa terjaga kau bisa rasa
Tanpa raga kau telah menjadi jiwa
Dan bersama letihnya malam
Aku sanggup memelukmu dengan sempurna.. "

arah angin

Bila angin berbisik 'tidak' padamu
Apakah awan mau mengerti??
Sedangkan bulan tak juga mulai menari
Langitpun terlihat gelap
Seakan ingin menoleh dalam enggannya
Dan kamu??
Hanya ikut terdiam sambil menatap semuanya..

Selasa, 13 Mei 2014

bisakah??

Begitulah..!!
Kau hanya sanggup biarkan
Dingin malam memelukmu
Tanpa pesona
Hening..
Sepi..
Semua akan menjadi biasa
Denganmu..

..........................................

"Masih ingatkah kau..
Saat aku (malam) selalu menimangmu dalam sekali ayun
Menuju ke peraduan??
Masih ingatkah juga..
Kau menikmati gelapku (malam)
Hingga hanya lelapmu yang tertinggal?? .."

.........................................

Dan kau..
Tak melewatkannya
Meski perlahan kau rasa
Pelukan dingin malam kian mencengkeram
tiada ampun!!
Lunglai..
Letih..
Kau tetap bisa menahan
Karena bagimu..
Malam masih inginkanmu
Bersamanya dengan caranya
Dan kau sendiri..
Tak sanggup berlari
Saat ini..

............................................

"Aku akan menjadi malam hangatmu kembali
Bersama sunyiku yang ingin bicara tentang cinta
Dan sapuan lirih anginku yang selalu bermanja
Padamu,Kekasihku...
Bisakah..?? "

tentangmu..

Aku menyanjungmu...
Seperti angin yang berbisik tentang rinduku
Seperti ombak yang menimang riak resahku
Seperti langit yang menangis lirih ketika jiwaku mengadu padamu
Seperti daun yang kerontang jatuh terdiam
Usah berkata..
Sembunyikan penat letihnya
Seperti lagu tanpa dawai sekalipun
Iramanya samar mendayu..

"Angin hanya mencoba permainkan letihmu
Bukan mengabaikan heningmu..
Aku sanggup yakinkan itu
Padamu..."

Tentangmu....
Seperti hadirnya matahari yang tersenyum pagi hari
Setiap jengkal hangatmu
Selalu ku nikmati..
Meski perlahan harus luruh
Tiada ku peduli
Karenamu..
Aku akan hidup dan aku harus mati..

Senin, 14 April 2014

Tentang rasa di suatu senja

Tentangmu..

Seperti aku selalu inginkan pagi

Juga aku indahkan rebah senja

Tiada lelah ku berharap

Menuju pagimu

Mencumbui sang waktu

Dan..

Masih tentangmu

Aku rela mengiba pada pagi

Tak bosan tuk menunggu

Juga meminta padamu..



        Aku masih memandang langit yang semakin keemasan karena hari mulai senja. Dan aku masih berharap hadirmu saat ini menemaniku di sini. Yaa... di sini, di kelokan jalan ini. Dengan pinggiran terhampar padi yang menguning seolah tanpa batas. Sama halnya juga denganku yang selalu menunggumu, tiada batas waktu.





     Terbayang tiga tahun yang lalu,aku terima telepon darimu,dengan nada panik kau berkata, “ Nay,kita ketemu di tempat biasanya sekarang yaa.. penting!! “ langsung aku mengiyakannya. Bergegas ku keluarkan sepedaku dengan tak lupa kukenakan topi kesayanganku. Tanpa peduli terik matahari yang berangsur akan meluruh, ku kayuh sepedaku secepatnya. Akhirnya, dari kejauhan tampak tempat itu, kelokan jalan di pinggir bentangan sawah yang luas, tempat biasa kita berjumpa. Aku lihat kau sedang duduk di salah satu pematang tengah asyik mengamati matahari sore. Perlahan ku sandarkan sepedaku dan kamu menoleh ke arahku. “Nay… kemarilah!!” katamu .. Ku hampiri dan duduk bersebelahan denganmu. “Ada berita apa Sad,penting bangetkah??”  Kau tersenyum dan menoleh ke arahku sambil jari telunjukmu ditempelkan bibir sebagai isyarat agar aku diam.  “ Eesst, lihatlah dulu alam ini, di mana hamparan padi mulai menguning bersamaan dengan hamparan langit yang juga akan beralih menjadi merah jingga.. nikmatilah!!.. mungkin saja ini senja terakhir kita bersama..” … “ Terakhir??..apa maksudnya??  aku semakin tak mengerti apa maksudmu..?” sambarku menjawab buru-buru. Kau kembali menoleh dan tertawa melihat ekpresi wajahku yang keheranan bercampur cemas. “ Katakanlah, ada apa ini sebenarnya??” pintaku ..  “Yaa.. yaa.. tapi ku harap kamu bisa menerimanya dengan bijak..” kau menjawabnya dengan lembut. … Aku mengangguk tanda setuju seraya tak sabar untuk mendengar apa yang ingin kau katakan.  “ Besok aku harus meninggalkan kota ini untuk tinggal bersama nenekku di tempat asalku.. Sekaligus juga aku meneruskan kuliah di sana. Aku tak ingin kau sedih karenaku dan aku tak bisa menjanjikanmu tentang apapun kecuali  secuil hati dan kesetiaan cintaku ini,tapi aku juga bebaskan kau bila kau bertemu seseorang yang lebih memahamimu,sebab aku mungkin tak bisa menemani hari-harimu lagi dalam waktu yang lumayan lama di sini…” dengan terbata kau mengatakan itu semua.  … Aku melongo, antara sadar dan tidak ku coba mendengarkan apa yang kau katakan. Masih tak percaya jika kau akan pergi esok hari. Dan ternyata itu memang benar.. aah!!

          Kau masih asyik menatap dalam langit yang semakin temaram. Aku juga masih asyik dengan gemuruh hati yang segan ku redam. “ Mengapa secepat ini? mengapa harus sekarang??  mengapa harus pergi?? Mengapa…. Mengapaa… ??” tanyaku tak henti memberondong keluar meminta jawaban. Namun semua hanya tercekat dalam hati saja. Kuberanikan diri menatapmu dalam-dalam,namun justru kudapati riak kecil yang kau tahan. Kau juga sedih,kau juga tak inginkan..



Ketika airmata hanya sanggup tertahan

Untuk sebuah rasa 

Haruskah ku masih pinta kau memanggilku cinta? 

Sedangkan hatiku tak ingin ingkari 

Atas adamu saat ini 

Mungkin..


          Sebuah tepukan lembut membangunkanku dari lamunan yang telah menjadi kenyataan. Aku menoleh padamu dan berucap, “ Apakah ini artinya semua harus berakhir?” .. Kau tersenyum dan berkata, “ Aku tak inginkan berakhir tapi aku juga tak bisa berbuat apa-apa untuk ini selain pembuktian atas cinta kita. Namun, aku juga tak tahu rencana–Nya atas kita.. ya kan? “ Aku hanya bisa mengangguk dengan enggannya.





         “Sadyan Dewa Lawani”, sebuah nama yang ku kenal sebagai teman sekolahku. Anak pindahan dari pulau seberang, Kalimantan tepatnya. Karena kenekadannya menyelipkan sebuah puisi pada buku catatanku yang dia pinjam. Awalnya aku tertawa saja menghadapi ulahnya, “Waahh.. bisa sebuku deh nih ntar dikumpulin, konyol ahh!!” begitu selalu kukatakan padanya. Dia hanya tersenyum kemudian tertawa mendengar ledekanku itu. Tak bosannya dia menyapaku dengan sebait kalimat indahnya setiap hari dan seperti biasa ku tulis ulang pada sebuah buku lagi dengan maksud untuk membuktikan bahwa apa yang kukatakan padanya itu benar. Sambil menyalin bait-bait indah darinya, aku memutar ulang juga kejadian saat aku bersamanya. Ada canda,kesal,marah juga cemburu. Bila dia tak masuk sekolah ada rasa kehilangan tak biasanya. Dan bila musim ulangan tiba, ada rasa ingin bersaing mengunggulinya.  

         Di waktu senggang, aku baca ulang juga bait-bait indahnya sambil tersenyum sendiri. Hingga suatu saat aku terhenyak sendiri, inikah yang dinamakan cinta? Sebuah rasa yang tak pernah aku duga datangnya… Ataukah ini hanya sebatas rasa suka karena terbiasa?... Seorang “Nayla Lissanaya” telah jatuh cinta??  Perlahan kurapikan larik-larik kidung  yang berserakan di hatiku dan berusaha mengeja rasa yang ada.



Aku menyapamu pada satu nada 

Kurangkaikan pada laguku 

Yang juga hanya bernada satu 

Jika itu kau ijinkan 

Karena bagiku.. 

Tak ada lagi nada lainnya 

Dengarkanlah!!





Begitulah, hari-hari kulewati bersamamu. Tak pernah ada pernyataan cinta darimu,namun bait-bait indahmu telah berbicara tentang rasamu padaku. Aku senang dan aku terima itu. Karenamu, aku lebih semangat menikmati riuhnya detikan waktu yang terasa cepat berjalan. Kau membuat hatiku selalu mencari keindahan langit di atas langit lagi setiap harinya. Kau juga bisa melukis cemberutnya wajahku begitu kau goda. Tak terbayang lagi warna yang berganti pada deretan hari. Penuh warna itulah kesimpulannya. Dan kita mempunyai kesukaan yang sama,yaitu menatap senja. Bagimu, senja adalah perpaduan dua rasa yang meluruh antara matahari dan bulan dimana matahari melepaskan terik siangnya dan bulan menyambut malam dengan sinar lembutnya. Dan bagiku, senja itu  adalah indah titik tanpa koma. …. Hehehe…  


Padamu..
Ku tulis segenap asaku
Seperti juga senja ini
meski ku harus terdiam
Pejamkan rasa..
Kau dengarkanku lagi
Lewat angin yang menyapa lirih
Dalam jiwa rapuh ini




          Di akhir pekan, sepulang kita mengikuti ekstrakulikuler kita selalu bertemu di seberang sekolah,terdapat lapangan bola yang kebetulan di sisi pinggir kelokannya masih terhampar luas sawah berikut pematang-pematangnya yang terbujur lurus. Sambil melihat anak-anak ramai bermain bola,kita juga bisa menikmati indahnya senja.

         


         Hingga tibalah saat di mana aku terima telepon darimu mengajakku bertemu di tempat biasa kita berjumpa. Di sini… yaa di sini. Bersama senja yang perlahan mulai terganti. Bersama hatiku yang luruh setelah mendengarkan apa yang kau ucapkan. Dan aku masih belum bisa percaya atas semua itu. 


Temaram senja di kesunyian  

Menjadikan awan sebagai sandarannya  

Tertoreh indah di ujung kaki langit  

Lihatlah..!!  

Matahari masih begitu gagah  

Untuk kau ditaklukkan  

Dan sunyi adalah jawabannya  

Menuju hening malammu  





          Kau tersenyum untuk ke sekian kalinya sebagai usahamu menghiburku. Aku juga mencoba tersenyum mengabaikan kecemasan yang tersisa. “Baiklah..!! aku harus bisa bijak memahaminya sejauh logikaku berbicara”...gumamku dalam hati. Kau berucap seraya meyakinkanku, “Tak usah menangis untuk hari ini.. di senja ini,aku ingin melukis indahnya rasa tentang kita sebelum aku pergi, meski aku tau.. hatimu tetap ku yakini untukku,tapi aku tak ingin memaksakan keadaan atas jarak dan waktu yang terus melaju.. tersenyumlah untukku.. untuk rasa kita ini.. “ Aku tersenyum lagi dengan menahan aliran sungai kecil di sudut mataku dan menjawab “ Aku tak menangis bukan karena aku tak lara namun karena aku percaya apa yang kau kata… aku percaya apa yang ku rasa.. hingga akupun harus percaya pada-Nya tentang semua rencana-rencana-Nya”..

Senja semakin menghilang bilur-bilur jingganya, bersama dirimu yang akan berlalu dari hari-hariku. Dan aku akan mencoba mengakrabi sepi ini sebagai ganti hadirmu di sini.






           Aku masih memandang langit di tempat yang sama di saat terakhir kita berjumpa meski kali ini tanpamu. Aku juga masih berharap hadirmu lagi menemaniku di sini seperti tiga tahun yang lalu. Tetap menunggumu dan aku percaya, walaupun malam mampu mengalihkan senja,namun kau tak akan sanggup kecewakanku tentang rasa kita..  



Antara hamparan waktumu

Aku berada di sudut salah satunya

Menunggu..

Bersama erangan cintaku sendiri

Ku nikmati..

Meski desahnya harus kuyup

Dalam lautan ragumu

Kupercaya..

Jika kau akan rangkum waktumu

Hingga lelahku tak pernah usai

Sampai saatnya ku semai rindu

Entah kapan adamu

Aku terima..  


( Jakarta, April 2014 )