Jumat, 31 Juli 2015

Indahnya senja ...

Aku memandang pesonamu, Senja
Dalam sinar lembayungmu
Bukan untuk mengiba
Apalagi memintamu tinggal
Tidak ..!!
Aku hanya ingin mengagumi
Menikmati hangat jinggamu
Ketika malam akan datang menyambutmu

"Begitu lugas kau berkata
Begitu lepas kau menyapa"

Tertawan aku karenamu
Tertambat erat oleh pelukmu
Seolah tak rela aku berbagi
Pada langit ataupun juga bumi
Meski aku sangat mengerti
Adamu jauh melebihi logika hati

"Begitu indah kau tersenyum
  Begitu gemulai saat lambaianmu terayun"

Di setiap helaan napas ini
Sejenak dalam pejaman mataku
Dan sesaat di mana kesadaranku enggan kembali
Gumammu lirih terdengar dari sini

"Aku telah bersamamu kini
Kau bisa menertawakan matahari
Mencibir bulan ..
Mengedip pada bintang
Seluas hamparanku ...
Sepuas yang kau mau ... "

Namun ....
Gelengan yang mampu aku lakukan
Sangkalan satu per satu aku biarkan
Berbisik senada dengan gumammu tadi
Dengarkanlah ... !!

"Aku memuja hadirmu, Senja
Tak hanya sebatas lukisan di mata
Menginginkanmu tak sekedar hayalan dalam nyata
Karena ...
Adamu adalah keajaiban dari seluruh rasa
Yang akam selalu berulang
Tiada ku pernah bosan ... "

Love u .. ( 010815 )

Rabu, 29 Juli 2015

Aku mencintaimu ..

Aku mencintaimu .. ( dalam senyap sekalipun )




Huruf demi huruf tertata sedemikian rupa, bagai barisan rapi dengan sesekali terpisah .... terpenggal jarak yang sama, berhiaskan pernik titik dan koma. Tapi aku masih saja mengeja, meski aku hafal hurufnya satu persatu. Bukan aku tak bisa membacanya ... aku hanya takut salah memahami tiap katanya hingga aku harus perhatikan lagi detailnya ... tak ingin ada yang terlewatkan ... tak mau ada yang terabaikan ... karena dari hurufnya aku bisa mengeja nama, dari katanya aku bisa mengeja cinta ... dan dari kalimatnya aku bisa mengeja rasa ....

Yaa ...... rasa yang aku ingin kau merasakan juga .....  bagaimana aku tuliskan perlahan bait-bait indahnya. Dan aku juga akan memintamu untuk temaniku berkisah. Kisah di mana hanya kau yang sanggup merangkainya ..
Sesungguhnya .. ... ini adalah tentang kisah kita ....




Ingatanmu masih belum puas membalik lembaran-lembaran lusuh di otakmu. Sesekali kau menarik napas panjang dan pelan kau hembuskan lagi seolah tak ingin terlihat bila kau membuangnya dengan enggan. Angin sore menggodamu dengan permainkan anak rambut yang tergerai. Kau tak merasa terganggu sedikitpun. Terlebih pada seseorang yang berada di sampingmu. Hanya diam.... Mengikuti sikap yang kau tunjukkan.

Pikiranmu tengah asyik sendiri menelusuri jejak hati yang bilur-bilurnya ingin kau urai sesegera mungkin sehingga kau merasa harus kembali beradu dengan kenangan.

Dia terdiam sengaja membiarkan  .....




" Aku mencintaimu ......"

Guratan kata yang kau dengar begitu indah nadanya saat itu. Nada yang bisa dipastikan merdu bagi setiap orang yang mendengarnya. Nada yang berupa bisikan dari surga dengan kesempurnaannya. Benar-benar tampilan yang mengagumkan. Adalah saat yang tak ingin terlewat dan waktu yang tak ingin berganti. Yang ada hanya kau dan keindahan .



Namun waktu selalu melaju, tak akan pernah berhenti seperti maumu, apalagi berdiam menunggumu. Bahkan lajunya bisa melebihi dari yang kau perkirakan. Cinta ... Selalu kau agungkan. Karena bagaimanapun, Cinta itu selalu indah. Itu yang kau yakini sampai detik ini.


" Apakah masih seperti itu arti keagungan nilai cinta bagimu? "

" Apakah nyanyiannya masih mampu ku alunkan untuk merayumu? "




Dengungan kata itu tiba-tiba menyeruak masuk dalam hatimu, menderu .. dan perlahan melirih.

Buluh berdengung mengajakku menari, menelanjangi awan yang selalu sembunyi. Aku mau tapi aku malu.. Bagiku, kau adalah keindahan dan aku?? hmm ....





Sejurus kau menoleh dan dia masih duduk terpekur di sampingmu. Tatapannya juga masih lurus ke depan. Begitu kelu dan penuh rasa kasian.
Kasian?? Aah .... !!  Kata yang sering kau singkirkan untuk memaknai satu sisi keadaan. Dia masih setia. Masih dengan tatapan yang sama,  menunggumu atas keputusan yang kau inginkan.


" Yang aku inginkan .... ?? "

" Tidaak ..... !!"


( Keegoisanku semakin meraja. Inikah yang aku inginkan?? Menjadi pemenang dalam lintasan cerita. Mengambil alih sebagai tokoh utama dalam sebuah kisah cinta???  )


" Tidaaak ..... !! "

" Itu salah ... salah besar .. keliru !! "

" Mana kata toleransi itu?? "

" Mana ... ?? "

" Maafkan aku .... maaff !! "


Otak aku letakkan agar tak jauh berjalan, benak aku bereskan agar tak terisi macam-macam, tentangmu .. Ku lafaldkan cinta dan rindu hingga aku tak akan mampu.



Guratan kata yang kau urai akhirnya sampai di sini. Di mana hamparannya tak selembut sutera, tak sesegar rumput bola, tak sewangi taman bunga, tak seindah nirwana. Guratan kata dengan pinggir kasar dan sedikit bergelombang permukaannya. Lebih terasa bila dipegang karena kerikilnya sedikit tajam.


( Guratan kerikil kehidupan ......)


Dan bagimu, guratannya tetap ingin kau nadakan cinta. Tak pernah ingin ada kesumbangan irama di sana. Tak juga akan tertukar dengan nada lainnya. Hanya satu nada, yaitu cinta. Mungkin, kau harus mendengarnya dengan seksama agar tahu nada cinta yang mana yang selalu ingin kau dengar. Terkadang nadanya memang tak sesuai maumu, namun kau tetap bisa menikmatinya karena kau hanya (merasa) punya satu nada. Dan itu akan menjadi nada satu-satunya.




Tiba-tiba kau memeluk seseorang yang berada di samping dari tadi. Seseorang yang menemanimu memutar ulang kisahmu dengannya juga. Kau merapatkan pelukanmu seolah meminta kehangatan dari tubuhnya. Seperti senja yang tak ingin sembunyi dari matahari.
Dia terperangah menyambutmu dan berusaha mengikuti maumu. Kau tersenyum padanya. Senyum paling manis yang ingin kau lukis di bibirmu sepanjang hari ini. Senyum yang ingin selalu kau persembahkan kepadanya. Senyum yang indah ... Dan akan tetap kau pelihara agar indah selamanya.


( Andai saja kau tau jika dia tak hanya tersenyum lega memelukmu ..... ada butiran bening yang hangat merembes di sudut matanya .... )



" Aku  (tetap) mencintaimu ....... "


..................... meski dalam senyap sekalipun ......................






Ketika kau menjadikan senyapmu adalah melodi cinta dan rindu .... Rasakanlah jika degupnya tak hanya berhenti di sini, di saat kau dengar ungkapannya untuk pertama kali .... Pastikan getarnya tak juga berhenti hanya di sini, di mana kau memetik dawai rindu itu tidak sendirian, Dan percayakan letaknya tetap pada tempatnya, yaitu di kelapangan hatimu yang terdalam.
Cintamu akan merubah senyap itu sebagai rasa yang tak berkesudahan dan akan selalu menyanjungmu habis-habisan ....







( Jakarta, Juni 2015 )

Dear You

Dear You ...






"Dear You,
Ku tulis catatan ini untuk menemuimu lagi. Seperti waktu kemarin-kemarin. Entahlah ... Aku sendiri juga heran, mengapa harus dengan begini kita bicara. Ataukah jejeran kilometer jarak yang tak hingga memisahkan sebagai alasannya? Ataukah kau sendiri yang memutuskan cara tepat mengurai rindu kita? Entahlah .. Padahal tulisanku ini pun juga tak bisa kau baca. Benar-benar tak aku pahami sejauh ini. Aaah ... Sudahlah !! Aku lagi tak ingin berdebat soal ini, yang aku inginkan .... kau bisa mengerti tentang arti rindu ... juga merasakannya. Seperti yang aku rasakan saat ini .... "




"Saat ini ..... "


Perlahan kau menutup notebook setelah mematikannya terlebih dahulu. Merapikannya dan memasukkan ke dalam tas. Sejurus kau tolehkan kepala ke jendela sebelah kanan dan memandang senja yang berbatas tipis dengan malam. " Malam akan datang lagi," gumammu tanpa sadar. " Malam akan menemaniku lagi. Seperti waktu kemarin-kemarin," kau meneruskan gumammu.



"Dan aku ..??"

"Di mana aku .. ?? "





Tak terasa senja benar-benar telah meredup, malam ingin secepatnya menggantikan kedudukan senja. Tampak kerlipan lampu-lampu taman seberang parkiran semakin membuatmu larut dalam ingatan tentangnya. Pada sudutnya, kau tengah duduk menikmati pergantian senja berteman dengan imajinasimu sendiri. Imajinasi yang nyata ingin kau hidupkan.



"Aku bungkam tak menghiraukan .... "




Kau telusuri lagi elegi cintamu itu. Mematik kenangan yang tlah berlalu. Entahlah ... semakin kau mengelaknya, tentangnya seolah begitu nyata terpampang jelas bersamaan dengan langkah kaki yang kau arahkan untuk menjauh. "Aku harus bagaimana?" usik hati kecilmu yang terkadang ikutan protes jika kau tampak mengabaikan keadaan. Kau menggeleng tanpa sengaja. Ada sebentuk penolakan namun tak kuasa kau lakukan.




"Dear You,
Mencintaimu dalam diam ... Entahlah apa yang kau rasakan, di sini sembilupun siap menyayat hati .. Kau tega !! Lepaskan panahmu pada sunyi tanpa peduli .. Aku terkapar !! dan kau hanya tertawa menusuk telinga .. Tidakkah kau punya hati ?? ataukah aku yang keliru mencari jarum pada tumpukan jerami ?? "




"Aku masih juga bungkam mengabaikan ..."





"Saat itu ..... "

Dia mencarimu. Menanyakan keberadaanmu. Menyanjungmu dengan kata-kata indahnya. Mencandaimu dengan cerita-cerita konyolnya. Memintamu bersabar jika keluhan datang, mengajakmu lomba menghitung bintang jika senyummu hilang. "Adakah yang lebih indah lagi dari sebuah kebersamaan??" kau mendesah. "Ataukah aku telah melewatkanmu seketika?? hingga layumu saat ini yang harus aku terima?? juga senyapmu yang menungguku jika malam tiba?? .....  Kau terlalu !! Tak bolehkah aku menemanimu ?? Bersama kita menikmati deru mesin yang berkeliaran tak jelas suaranya dari sana ?? ...





"Dear You,
Pujangga cinta bercerita .... jika layu hatinya karenamu, aku tak percaya dia ,,, Tidak !! Sebab aku bisa mencari adamu dengan hatiku, namun tidak dengan dia ..  Bahkan, menerka arti linangan airmatamu bisa jadi berabad ku lakukan jika dibandingkan mengartikan seulas senyuman di sudut bibirmu, apalagi dia yang tak mengenalimu??!! hmmm ... Kau jangan percaya .... Dia pembohong besarr !!! .."



"Aku juga rindu .... (akhirnya ku akui ... )"

"Aku sangat kelu .... (rintihku padamu ..)"

"Dengarkanlah, Sayang ...!!! ( bisikku lembut .. )"




Malam melarut dalam hening tak bergeming .....

Kau tersentak dari kenikmatan menyusuri ribuan angan tentangnya. Tanpa terasa malam telah menemuimu lagi. Bersama sepinya, gelapnya, sunyinya juga dinginnya. Enggan kau beranjak dari dudukmu dengan menahan jatuhnya butiran bening dari sudut matamu. Seperti waktu kemarin-kemarin, kau ingin sembunyikan semuanya darinya. Namun kali ini kau tak sanggup. Rindumu .... Cintamu .... Sayangmu ... Kasihmu ... Berhenti dalam sunyi. Senyapkan semua bersama alirannya.



Biarkanlah .. !!





"Dan aku hanya mampu memandangmu dari kejauhan alam pikiran .... "




"Dear You,
Ijinkan aku menangis, tangis dengan notasi kerinduan, tangis yang hanya bisa kau pahami dengan penggalan hatimu di sini ... Aku tau, kau telah menamaiku Rindu dan aku selalu memanggilmu Cinta ... Mengertilah .. Jika basahnya mata ini karenamu, begitu kuyup mencari sisihan waktu di ujung lelap keberadaanmu .. "








( Jakarta, April 2015 )

Selasa, 28 Juli 2015

Adamu sebagai pengulangan pagi

Adamu Sebagai Pengulangan Pagi ...












Otak telah aku letakkan agar tak jauh berjalan
Benak aku bereskan agar tak terisi pikiran macam-macam
Tentangmu ..
Ku akan lafaldkan cinta dan rindu itu
Hingga aku sendiri tak kan lagi mampu





Wajah kusutmu masih terpasang meski pagi hari telah tiba. Riak lelah menyisakan keruhnya. Kau tak berusaha menghilangkannya. Padahal matahari di sudut timur dengan ramah bersiap menyapa. Warna kuning keemasan tampak berpendar. Sisi-sisinya gumpalan awan putih mulai menipis dan berpencar. Kau berjalan menuju tempatmu biasa mengagumi pagi. Tetesan air dari ranting pohon flamboyan yang kau lalui terjatuh tiba-tiba namun jarang. Aroma tanah basah bekas hujan semalam tak mengusik hamparan langit biru yang memenuhi ruang pandangmu saat kau mencoba tengadahkan wajah dari balik payung yang kau kenakan.

Sungguh, pagi hari yang terlalu indah untuk dilewatkan ...




Kau belum juga akan beranjak dari tempatmu berdiri. Masih terpekur diam dan membisu. Tak ada marah, tak ada emosi. Sesekali kau rapikan anak rambut yang mengganggu keasyikkanmu memandang pesona pagi. Matamu kadang mengerjap agar butiran bening yang meleleh tak sengaja di sudut mata bukan menjadi alasan hilangnya menikmati pagi. Menikmati indahnya pagi dengan caramu sendiri.

Terkesan jika kau sedang menunggu.






Entah apakah sebuah senyuman yang akan kau suguhkan atau barisan gigi putihmu dengan kernyitan di dahimu yang ingin kau tampakkan untuk pagi kali ini. Kau masih saja diam, mengatupkan bibirmu dengan tenang. Ekspresi sedikitpun tak terlihat di situ. Seperti pagi dan pagi hari sebelumnya, kau menyambut datangnya seolah pilahan resahnya membawa dirimu yang tengah asyik menunggu.


Menunggu .. ??? ... hmm ....




Kau menghela napas dalam-dalam. Berusaha mencari sesosok bayangan yang begitu akrab tapi semakin hari semakin samar. Samar oleh ketiadaan wujud dan rupa. Samar dari keberadaannya dalam jiwa yang seolah tak bertuan. Kau tak pernah inginkan, namun itu yang harus kau rasakan. Kau tak ingin peduli, tapi akhirnya kau belajar mengerti. Satu sisi dari sebentuk cinta yang harus kau hargai. Kau mencoba pahami, membuat toleransi pada hatimu sendiri.


Namun sisi lain hatimu sangat terluka, terkapar tanpa daya memujanya ....

Bentangan cintamu memeluk hatiku dari kejauhan, celoteh sayangmu melemaskan nadiku hingga berurai semua kenikmatan.. Karena bagiku, kau adalah indahnya dari segala pemujaan.

Kau suka, kau terlena dan kau menikmatinya ....





Di kejauhan sayup terdengar lagu JIKUSTIK mengalun dari radio yang sembarangan saja tadi kau nyalakan, namun untuk pagi ini kau mengikuti iramanya seraya berdendang. Melagukan gundahmu bila pagi menjelang hingga menambah deretan hari yang harus kau coretkan. Saat di mana kau merasa dipaksa menunggu dengan rela dan berharap sebuah keajaiban itu benar-benar ada.



Deras hujan yang turun
Mengingatkanku pada dirimu
Aku masih disini untuk setia

Selang waktu berganti
Aku tak tahu engkau dimana
Tapi aku mencoba untuk setia

Sesaat malam datang
Menjemput kesendirianku
Dan bila pagi datang
Kutahu kau tak di sampingku

Aku masih disini untuk setia




Sedikit pongah kau berbisik pada matahari di pagi ini , " Aku menunggumu ... sampai waktu yang kau janjikan untuk kita bertemu, aku tak juga tahu keberadaanmu .... aku hanya merasakan kau selalu ada di sini bersamaku ....

( Lihatlah ... !!!! )

Tak ada lagi resah itu .... tak ada !! .. meski airmata mungkin harus tertahan karena rindu, meski keluh harus tersendat sampai di tenggorokanku .... Percayalah .. !!! aku akan selalu menyambut pagi hari seperti layaknya aku menyambut datangmu, karena adamu sebagai pengulangan pagi  di mana hangatnya memelukku tiada henti dan aku pastikan pula jika aku akan selalu setia pada sempurnanya cinta ....... "





Tertatih kau mendekap sang pujangga cinta, mengiba untuk setetes rindunya, ahh .. Sayatannya tak sanggup membuat hatimu terluka, namun teramat perih yang terasa.. Rindumu terus mendera, mengikatmu pada tiang dahaga, memasungmu dalam bayangan raga, taukah kau jika siksanya berupa belaian lembut yang bisa sirna tiba-tiba?? ..












( Jakarta, Maret 2015 )

Serpihan rasa liontin merah delima

Serpihan Rasa Liontin Hati Merah Delima ..








Malam mencarimu.. Ingin bertukar rindu, maukah kau?? Sedangkan kau sendiri memintaku untuk datang ke sini, juga dengan alasan yang sama, yaitu rindu .. Kepada siapa akan kuadukan rinduku ini,bukan bosan aku teriakkan.. aku hanya kasian, betapa ku ingin kau dengar, rinduku butuh penyelesaian







Semusim berselang, derai rintiknya masih terasa sesekali. Ranting kasihku berusaha kokoh menopang daun-daun cinta yang mulai bertunas baru lagi .. Dan aku mengharap akan tumbuh bermekaran bunga-bunga asmara di antaranya. Hanya menunggu, menggenggam erat hatiku.. Itu yang bisa aku lakukan. Bentukan rasa rindunya sengaja ku titipkan pada liontin hati berwarna merah delima pemberianmu. Tanpa sadar, aku menghela napas dalam-dalam.

" Ingatkah kau akan hal ini?? Atau musim yang silih berganti telah mengajarkanmu untuk abaikan maknanya??? mengenyahkan kenangannya?? ..", gumamku dalam hati.



Entahlah ...



Perlahan ku raih liontin hati yang tergantung di leher kemudian memegangnya dengan erat seolah takut lepas tiba-tiba. Ku amati warna merah delimanya dari balik cermin dan ku raba pinggiran bentuk hatinya. Sejurus pandanganku terpaku pada liontin hati itu. Mencoba menembus keutuhan batunya. Dan entah kekuatan dari mana, di sudut lancipnya ku temukan serpihan tipis beraneka ragam warna rasa. Tercampak di pinggir bawah liontin hati itu bagaikan mainan lego yang memelas minta dipunguti satu persatu dan disusun menjadi sesuatu yang indah. Serpihan warna cinta yang menawan dengan sedikit bias tangisan berjejal ingin tampil sebagai pemenang. Namun yang paling dominan adalah serpihan warna setumpuk kerinduan. Kembali aku termenung, menelusuri lorong panjang yang bernama penantian. Aah ...


" Ternyata, masih harus ku redakan rasanya agar tak mencemari waktu, " bisikan dari dalam hati ikut menenangkan.


Dan.. Rindumu tak akan pernah usai mencumbuku, dalam diam sekalipun.. Ku tangisi bukan karena lara, namun ku sengaja membungkam logika, agar rajahnya lebih mengena





Anganku mengembara tak tentu arah. Berkeliaran dengan liarnya hingga akhirnya tertuju padamu. Selalu begitu dan terus begitu. Seperti saat ini,untuk kesekian kalinya juga anganku mengarah lagi tentangmu. Seseorang yang mengajariku apa itu arti cinta, kasih,sayang dan airmata. Terlebih tentang hebatnya rasa rindu. Rindu?? ..... Haruskah ia sama artinya dengan menunggu?? Penantian yang berkepanjangan?? Padahal arti rindu bagiku adalah pengharapan atas sebuah keberadaan.


" Masih sama artikah denganmu?? ataukah kau telah berubah mengartikannya bersama lalunya angin yang membawamu jauh dariku? ataukah .... ataukaah... ," pertanyaan bergantian  hilir mudik bergilir memenuhi kepalaku.


Hmm ....




Jarak telah menjadikan siang hari yang panjang dan malam semakin kelam. Tak ada bagian waktu manapun yang ingin ku tunggu. Semua berlalu sesukanya. Seperti juga anganku yang seenaknya menggambar bayanganmu di setiap detiknya. Liontin hati berwarna merah delima pemberianmu tak pernah lepas ku kenakan. Tak pernah ketinggalan. Liontin dengan bahan batuan dan bentuk hati yang sederhana itu telah menjadi bagian dari cerita kita. Sebagai saksi berlabuhnya cinta,terurainya kerinduan dan jatuhnya lelehan airmata kehidupan. Padanya telah kau titipkan sebentuk rasa untukku, begitu kau dulu meyakinkanku tentangnya sewaktu pertama kau berikan padaku. Dan aku percaya itu.


" Warna merah delimanya melambangkan keagungan cinta dan bentuk liontin hati adalah sebagai gambaran hati kita yang akan selalu menyatukan rasa cintanya, sayangnya, rindunya dalam keabadian meski itu berupa serpihan rasa yang dikumpulkan," kau memaknai liontin hati berwarna merah delima secara sederhana namun sungguh mendalam makna yang terdengar olehku.






Tanpa terasa hari semakin malam. Aku masih terpekur sendiri. Kau juga masih berada jauh dari jangkauan. Ku pandang langit, terkesan malam ini berpihak padaku, rintik hujan telah berhenti dan aku berusaha meminta waktu untuk bicara padanya. Pada bintang, juga pada bulan sekalian. Ingin aku mengajaknya mereka berdendang dengan memamerkan adamu di dekatku dalam liontin hati itu. Keberadaan yang ku sebut dengan rindu. Sebagai salah satu serpihan rasa di hatiku.





Ku masih mengeja rindu pada bintang, padahal malam tlah berikan sebuah senyuman
"Berdendanglah bersamaku, ajaklah bulan sekalian .. hingga malam menjadi terang"
Namun aku melihat bulan sedang berjelanga
Mencoba untuk sembunyikan wajahnya
Dan bulan tak ingin aku tahu
Jika jelanganya itu juga karena gelisah menahan rindu







 ( Jakarta, Februari 2015 )

Ketika senjamu bernama rindu

Ketika Senjamu bernama Rindu ...










Ketika rasa rindu itu hanya mampu terangkai dalam sebuah kalimat.. Dan kaupun hanya bisa terpekur menahannya untuk keutuhan hatimu sendiri. Sebab kekuatan rindumu itu telah melebihi penguasaanmu tentang logika. Semakin dalam bukan malah teredam dan tenggelam, namun terasa semakin merajam.





Tak seperti biasanya, senja ini perlahan memudar dan kau terlihat enggan mengemasi peralatan melukismu. Padahal tadinya kau begitu semangat mendatangi tempat ini. Entah apa yang ada di pikiranmu sekarang. Botol-botol yang berisi aneka wana tak beraturan di tempatnya dengan posisi bercampur. Terlihat ada sedikit ceceran cat akrilik saat kau menaruh warna pada pallet di sebelahmu juga kau biarkan saja menghiasi sekitar tempatmu duduk. Pandanganmu ke depan di mana kanvas itu berada. Namun anehnya, matamu terkesan menatap jauh seolah menembus kanvas yang ada di depanmu. Terdiam dan terpaku dengan kanvas yang masih kosong... 

Kau hanya terbengong ....





Pantai selalu membuatmu terpesona. Dengan hamparan lautnya yang luas dan bentangan langit seolah tanpa berbatas cakrawala. Matahari yang meredup cahayanya di sore hari menambah warna langit terlihat jingga. Kaki langit yang kokoh seakan mengundang senja untuk selalu datang padanya. Air lautpun menjadi berkilauan keemasan. Sungguh indah pemandangan saat senja. Dan kau selalu ingin menjadi saksi akan keindahannya.

Seperti juga di senja kali ini ....



Setiap akhir pekan tiba, kau selalu luangkan waktu bersamanya untuk mampir ke pantai ini. Yaa ... Pantai di mana dulu tempat  kau menyatakan rasa suka padaku. Kebetulan juga tempat tinggal kita tak jauh dari pantai itu. Meski sudah berulangkali kau melewatkan senja di sana, tiada bosan-bosannya pantai itu sebagai tujuan. Dan akupun mengiyakan jika kau mengajakku menikmati senja. Kedatangan kita langsung disambut dengan hembusan angin pantai yang khas aromanya. Perlahan kita berjalan menuju tepi pantai. Tak lengkap rasanya bila jari-jari kaki ini belum tersapu oleh ombak. Sambil sesekali kau lontarkan candaan padaku disela obrolan yang berlangsung. Tawapun pecah. Senyuman kadang masih tersisa di bibirku. Kau ikut tersenyum juga.

Senja itu selalu indah .. Terlebih bila warna jingganya penuhi rongga jiwa, bersamaan dengan hadirmu selalu ada di sisiku ..



Dan telah menjadi kebiasaan yang berulang, indahnya senja seakan tak ingin kau lewatkan. Sesekali kau bawa peralatan melukismu juga. Kau abadikan cerianya hari bersamaku dalam kanvas-kanvas putihmu. Tanganmu dengan cekatan memadu warna dan menyapukan kuasnya. Dalam sekejap kanvas telah berubah menjadi lukisan sederhana tapi indah.
Potret senja kita ....

Selepas warna jingga senja semakin memudar, kita bergegas juga meninggalkan tepi pantai. Kau mengantarkanku pulang ke rumah dan langsung berpamitan. Dalam perjalananmu pulang, senyum seolah tak ingin kau lepas dari wajahmu. Senyum penuh sejuta rasa dan makna.


Inikah yang dinamakan Cinta ??? .... Hmm ....


Kadang keahlian verbalpun menjadi tanpa daya mengekspresikan tentangmu, karena tak ada sepatah kata yang bisa mewakili adamu, terlebih tentang rasa cinta yang ada di hatimu ....





"Bagaimana aku bisa melepaskan ingatanku tentangmu? Sedangkan kau begitu istimewa bagiku!!?, " begitu kau menggumam lirih. Tatapanmu masih seperti semula. Menerawang jauh seolah ingin mencari tau pada riak-riak deburan ombak di depanmu. Kanvas masih kau biarkan tanpa sapuan kuasmu. Justru kau lukis semua yang ingin kau tuangkan pada kanvas itu dalam ingatanmu sendiri.

Pujianku adalah bagian dari pemujaanku,tapi semua itu memang benar.. aku bukanlah penganyam kata yang bisa membuat tikar cinta untuk membaringkan rasa, bila rangkaian kataku ini tak sehalus sutra,.... tolong, maafkanlah..!!





Sanjungan tak habis selalu kau lontarkan padaku. Mungkin juga semua bilang jika itu adalah rayuan maut yang bisa membuat seseorang melayang ke angkasa. Namun bagimu tidak!! .. Kau anggap itu sebagai kewajaran karena kau merasa aku patut menerimanya. Kau yakinkan juga jika aku memang segala keindahan di mana kaupun terkadang masih tak percaya dapat memiliki cintaku ini. Bagimu, aku terlalu tinggi bagaikan matahari. Dan aku tak langsung percaya begitu saja. Hmmm ...


Cinta itu puisi jiwa, dimana bait-baitnya akan bersenandung sesuai nada hati dan barisan katanya terbaca oleh nurani




Kau semai cinta dengan perlahan, kau berikan alasan yang berlogika tentang rasa. Kau hadirkan kerinduan tanpa paksaan hingga sayangpun tumbuh di antara kita. Tak ada bantahan di sini, karena akupun merasakan hal yang sama. Semua mengalir apa adanya dengan begitu sempurna .



Sayangku telah mengakar hingga serabutnyapun aku tak tau dimana ujungnya. Jika mungkin ku diharuskan memenggal bagian terkecilnya sebagai persembahan rasaku padamu, tak akan pernah kulakukan.. Karena ku tak rela memisahkan dari batangnya.. Kan ku persilahkan kau memilah sendiri bagian serabut mana yang kau suka sebagai persembahan cinta..





Waktu yang terlalui bersama masih dalam hitungan bulan... Ada sayang, ada perhatian, ada pengertian, mengingatkan, memberi masukan, sebagai teman ngobrol bertukar pikiran bahkan perbedaan pendapat juga kau rasakan. Namun biasanya kesal itu tak berlangsung lama, karena tertutup oleh rasa rindu yang begitu menyesakkan dada. Hmm... ternyata benar apa yang diungkapkan lirik sebuah lagu itu, begitu kau biasa bilang padaku.
Belum lagi bila rasa cemburu yang datang. Sungguh, rasa yang amat menyiksa... tapi nikmat??!! .. dimana nikmatnya??? ...huuhhff ...!!! ... Entahlah ....


Cintamu menjadi sempurna jika kau perlakukan dia sebagaimana kau perlakukan hati dengan segenap rasa. Senang,sedih,kangen,kesal,marah juga cemburunya ....



Dan itu memang terjadi ....


Kau mengunjungi pantai ini kembali. Seperti akhir pekan biasanya, namun kali ini tanpaku, karena tugas yang mengharuskan aku untuk sementara jauh darimu. Peralatan melukis kau siapkan dengan maksud kau merekam jejak yang berserak pada pasir pantai itu saat aku tak datang.

"Mungkin, inilah caraku menunggu tolehan cintamu padaku, meredam rinduku saat kau jauh dariku, melampiaskan perihku bila rasa cemburuku mencoba mengurungmu. Akan ku sampaikan lewat goresan kuasku dan semoga kau bisa merasakannya betapa aku terlalu mencintaimu..." Kau berkata sendiri seolah aku ada di dekatmu.





Bersamaan dengan datangnya senja, di tempat yang sama dan kebiasaan yang sama pula namun dengan rasa yang sedikit berbeda. Cemburu sedang mengusikmu. Mematahkan semua imajinasimu. Siksaannya telah kau nikmati setiap menitnya bila kau berada jauh dariku. Sayangnya, semua terkalahkan oleh satu rasa saja, yaitu rindu. Dan kali ini, senjamu memang  bernama rindu karena aku sedang tak bersamamu menikmati luruhnya waktu.




"Sempurnaku adalah bersamamu
Bahagiaku karena adamu "

Ketika airmataku tak sadar terlukiskan, aku tak ingin tangisannya berupa kesedihan atau kekecewaan, aku mau lelehannya adalah nyanyian merdu sebagai pemujaanku padamu saat aku mencumbui waktu karena merindumu..

Taukah kau jika perihnya itu juga sebuah kenikmatan.... ??







( Jakarta, Januari 2015 )

selalu merindumu ..

Angin membawaku padamu
Semerbaknya selalu membius nadi
Aku tau ....
Kau selamanya akan diam
Tertinggal dalam bait kenangan
Dan bersama semilirnya angin
Aku akan terus mencarimu
Mengais kenangan itu ...

Aahh ...
Tak sabar rasanya dalam inginku
Merentangkan kedua tangan
Memelukmu ...
Menikmati setiap jengkal molek rayumu
Padaku ....
Memintaku untuk tinggal dengan tersengal
Dan aku hanya tersenyum bukan mengabaikan
Mengerjap sesaat manik-manik beningnya
Dalam sajak indah kerinduan
" Ahh kau ...
Tidakkah kau tau ...
Sampai kapanpun aku akan selalu merindumu ...."

salahkah??

Lantunan kalam-Mu mulai menggema
Menyelimuti indahnya merah senja
Saat itu ..
Mampuku hanya mengaduh kelu
Menjeritkan nestapa dalam jiwa
Tertunduk aku pada-Mu ....
Terpekur aku karena-Mu ....
Jauh setapak tak terasa berlalu
Menyusuri lorong dan ruang waktu
Entahlah ...!!
Apakah ini yang dinamakan rindu??
Saat itu ...
Saat lantunan kalam-Mu semakin lirih menggema
Dan jiwaku perlahan lunglai terluka ..
"Salahkah bila aku mencintai-Mu tanpa perlu kata ..??? .."

Kau di mana??

Ketika aku merasa tanpa daya
Harus mengulum pagi berikutnya
Desah pun sembunyi di antara mega
" Kau di mana ... ?? "
Ku hitung jarak yang menjulang
Jarak antara desir dan risaunya
Bait-bait indah sebagai satuan
Dan gumaman lirih menjadi taruhan
" Kau di mana ... ?? "
Ku menatap diam jingga senja
Ku kagumi indahnya
Ku persilahkan datangnya
Namun sayang ...
Jamuan pemujaannya tiada
" Kau di mana ...?? "
( Padamu ... Ku tlah jatuh cinta ... )

Tentang Jejak ..

Jejakmu yang berserak akan tertinggal
Bercampur debu lalu menghilang
Tanpa kau sadari tlah tersisih sendiri
-----------------------------------
Dan itu tak penting
Tak harus dipentingkan
Karena memang tak penting
Tak juga perlu mementingkan
-----------------------------------

Jika kau dipertemukan dengan hujan
Ataupun derunya angin
Tak usahlah kau mengiba
Meminta jejakmu disirna
Cukup bagimu tuk abaikan
Dan abaikan ....
Hingga jejak itu tiada
Menghilang
Dan melupa ..
Kaupun bisa lapang
Memandang titian di depan
Dan lantang berkata ...
----------------------------------
Wahai jejak yang berserak, bukan aku melewatkan atas apa yang tlah kau lukiskan .... Sungguh, aku tlah belajar banyak darimu .. Dari guratan kasar dan halusmu ..
Bagiku, tak ada yang tak berguna .. Adalah semua jawaban dari apa yang akan menjadi pertanyaan di depannya .... namun, aku harus meninggalkanmu sebagai masa lalu .. Ku abaikan sebagai penghargaanku padamu ... Dan ku lepaskan eleginya agar cukup hanya merindu..
Ku berharap ...
Kau akan pahami jika kau bisa mengerti
Kau akan mengerti dengan caramu memahami ..
-----------------------------------
" Inilah aku bersama senandungku sendiri ...."

Mencintaimu ....

Aku ingin genggam matahari
Agar aku bisa miliki sinarnya tanpa mencari
Aku ingin dekap sang rembulan
Agar aku bisa merasakan hangatnya sepanjang malam
Tapi ... Ternyata aku lupa ....
Jika matahari dan rembulan tak mungkin disatukan
Adanya juga harus bergantian
Aku alihkan pandangan ke depan
Bisikan sekeping hati melirih dalam goresan

Mungkin ...
Tiba saatnya aku pinta angin membelaimu
Agar terasa menyejukkan
Atau aku pinjam jemari hujan
Agar rinai basahnya mengguyurmu dengan kasih sayang
Namun ...
Aku lebih percaya pada hatiku sendiri
Yang akan menyanjungmu melebihi ucapanku
Mencumbumu melebihi naluri liarku
Mengingatmu melebihi anganku
Memelukmu melebihi kehangatan detak jantungku
Memang ...
Sesekali aku bisa dengar rintihannya
Memohon belas kasian walau seujung kata
Itupun aku abaikan
Taukah kau mengapa ??
Karena telah aku pahami
" Mencintaimu dengan hati adalah keindahan yang hakiki ..... "

Tentang malam

Malam ..
Dia memabukkan
Dia menghanyutkan
Tak ubahnya kebencian yang butuh kesudahan
Tunggulah dalam diam hingga pagi menggantikan
Malam ..
Bisa jadi adalah pecundang
Hempaskan benar pada pembenaran
Tepiskan jera dalam dera
Masihkah kau peduli ??
Peduli apa tentangnya??
Tak ada juga ..
"Enyahkan saja ..!!??!! "
Jika malam akan kembali temui
Itu bukan karena maunya
Atau maumu ..
Apalagi mauku ..
Tidak. ...!!
Bebaskan dengan caranya mengeja
Tidak ... !!
Lepaskan sejauh nanarnya mampu bicara
Dan biarkan ...
Percayamu mengikatnya perlahan
Taukah kau ..??
Dia tak akan sanggup ke mana- mana ..

masih kurang??

Dan kini menjadi malam
Gelap ada ..
Dingin ada ..
Sepi ada ..
Kau pun ada ..
Masih kurang apa lagi ??
Bintang ??
Bulan ??
Awan ??
Buat apa juga semua ..??
Sedang aku hanya ingin merayumu
Agar menculikku di antara waktu
Bersama candamu
Juga cintamu ..
Ahh ..
Malam menjadi tak ku butuhkan
Saat kau dalam keberadaan ..

Berubah rasa

Ketika malam hanya menjadi antara
Sepi yang tlah berkisah
Dan gelap yang akan meresah
Taukah kau jika nadanya menjadi sumbang!?
Mendekap perih yang teramat
Menyesalkan bait-bait yang terlewat
Mengoyak letih yang terhujat
Taukah kau jika syairnya bukan lagi kerinduan!?
Kau teriak namun tercekat
Tak ubahnya iklan yang bersyarat
Ahh ...
Malam hanya kau biarkan
Memadu nikmat itu sendirian
Padahal malam ada sebagai antara
Anyaman cerita yang kau ingin cipta juga
Taukah kau jika senandung itu akhirnya berubah rasa??!!!!??

matahari

Gerimis mengulum pagi
Tinggalkan bekas yg berserak
Kau tak bergeming pandangi langit
Tetap dgn tatapan yg sama
Rindu..
Jingga tiada bukan karena pudar
Dingin terasa bukan karena lapar
Kau hanya tahu satu hal
Pagi itu selalu indah..!!
Meski kali ini bernada gemericik hujan


"Haruskah ku jemput adamu,wahai Matahari?
Tp kemana jg?
Ah .. ku ingin percaya,saat ku buka mata,kau (akan) ada!"

kemuning

Kemuning tampak di kaki langit
Membawamu tuk temuinya
Resah kerontang lembaran daun yang mengering
Mengantar diammu padanya
Entah apa kau dalam pikirannya
Kau hanya temui ..
Masih sunyi ..

Ketika rumputpun tercabut dari akarnya
Kau tersenyum menahan luka
Menghibur lara bersama dahan di atasnya
Yang kau temui masih sunyi
Meski kemuning tak jua beranjak pergi
Kau merasa ..
Kemuning itu untukmu
Kemuning itu padamu
Melodi cintanya sayup terdengar merdu
Tak hanya sampai di telingamu
Syair kasihnya bernadakan rindu
Memenuhi sesak ruang hatimu
Kau mulai meliuk ikuti irama syahdu
Bersamanya ..
Mengajaknya berdansa bak sang raja
Kau kini tlah bertahta ..
Bermahkotakan gemerlap cintanya ..
Berbahagialah ..!!
Wujudkan mimpimu dalam nyatanya
Jika gelayut anganmu itu adalah dia
Jika dia memujamu tak kenal waktu
Kaupun berhak untuk menggapai keindahannya

kalah

Kau berdiri dengan pongahnya
Tak pedulikan awan ..
Tak pedulikan angin ..
Yang kau pikirkan hanya egomu
Kekuatanmu ..
Merasa bisa menakhlukkan dunia
Tapi kau lupa satu hal ..
Di saat awan tebal berarak mengelilingimu
Di saat angin hanya diam terpaku
Kau tak ubahnya pendaran bulatan tanpa daya

" Mana sinar yang kau banggakan??
Mana energi yang selalu kau sebarkan?? "
Semua sirna ..
Tertunduk kau ingin mengabaikannya
Berusaha sembunyi di balik indahnya pelangi
Semilir anginpun ikut berbisik lirih
" Kau kalah .. kau harus akui itu... "
Semua sirna ..
Letihmu tak lagi fatamorgana
Lemahmu langsung kau dekap seketika
Ketika hujan harus turun dengan tiba-tiba

Jumat, 10 Juli 2015

Sayangmu ...

Ribuan jarak itu hanya pemisah sementara, ratusan hari apalagi.... Karena hadirmu bukan soal indahnya lekuk waktu, namun seberapa dalam menyayangiku ...

Ingatanku ..

Aku merasa ... Ingatanku masih juga sederhana .... Mengingat tentangmu saat dulu kala ... Namun ternyata aku keliru... Menjadikan bibir ini kelu ... Saat rasa enggan beranjak .. Hingga napasku sendiri iramanya bersajak

I love u.. Untukmu dan hatimu ....muuachhh

Selasa, 30 Juni 2015

Janji Hati

Ketika kau belajar pada waktu
Dengan arah lajunya ..
Hingga kau merasa ini persinggahan sementara
Dengan ruang kedapnya ..
Hingga kau yakinkan sebagai rasa cinta

Mimpikah semuanya??

Dengan rindupun berada di sana
Mencari pengakuan jika ia ada
Ahh ...
Pilinan kasihmu tertambat di sini
Menganyam sebuah janji hati

Masihkah kau tanya lagi tentang rasa??

Ketika kau belajar pada waktu
Tapaknya memang akan tertinggal
Mungkin juga menjadi jejak kumal
Dan kau tak inginkan itu
Karena cintamu padanya adalah kekal ..

------ Love u ... ( 010715)

Kamis, 18 Juni 2015

Itulah cinta ...

Cinta itu sederhana ..

Antara jeritan dan lirihnya rindu adalah sama, menjanjikan kesunyian pada napas yang memburu, menyajikan gelisah tak bertuan. Ahh ... Daya pun tak terjamah karenanya. Taukah kamu, jika kamu kerahkan upayamu ... Dan itu adalah percuma, apa bedanya dengan langit yang berongga?? Kemustahilan ....

Antara senyum dan perihnya kesakitan adalah sama, melukis nestapa tanpa di sengaja, mencari keberadaannya entah di mana. Ahh ... Logika terlewat melampaui batas. Taukah kamu, jika kamu paksa binarkan  matamu ... Dan itu adalah sembilu, apa bedanya dengan kabut yang sirna perlahan?? Kesiaan ....

Bagaimana dengan aku??
Juga denganmu??

Ketika memar rasa itu adalah cinta, maka cinta itu sederhana, di mana kamu adalah aku dan aku adalah kamu. Pertautan yang hanya bisa dimengerti oleh hati. Perbedaan yang tak terlihat karena satu jiwa. Sakitmu adalah laraku, sayatannya melampaui kesakitanku sendiri, kemustahilannya bisa diterima akal, kesiaannya selalu membawa kerinduan yang kekal.

Itulah aku ..
Itulah kamu ...

Karena cinta itu sungguh sederhana ....

Rabu, 14 Januari 2015

puzzle 4

Aku tak merasa hayalanmu terlalu tinggi sebab pohon cinta itu kini tlah berbatang sayang yang kuat dan akarnya tlah menancap!! ..Aku percaya jika pohon cinta yang tercipta akan sanggup membawa impian kita setinggi angkasa.. Denganmu sebagai pengawalnya ...

puzzle 3

Kau persilahkanku memilah serabut yang kusuka.. untuk apa?? Hmmm ... Tak akan pernah ku lakukan itu ..Karena harapku... batang sayang itu akan tumbuh dan bersemi menjadi pohon cinta agar aku bisa berteduh dengan damai di sana ...Mungkin hayalanku terlalu tinggi ... Tapi tiada alasan lain ...tak juga akan kusangkal ...... itulah adanya..!!!

puzzle 2

Sayang itu tlah mengakar hingga serabutnyapun aku tak tau dimana ujungnya..Jika mungkin ku diharuskan memenggal bagian terkecilnya sebagai persembahan rasaku padamu, tak akan pernah kulakukan...Karena ku tak rela memisahkan dari batangnya.. Kan kupersilahkan kau memilah sendiri bagian serabut mana yg kau suka sbg persembahan cinta..

puzzle 1

Pujianku adalah bagian dari pemujaanku,tapi memang benar.. aku bukanlah penganyam kata yang bisa membuat tikar cinta utk membaringkan rasa..Jadi .... Jika rangkaian kataku tak sehalus sutra., maka maafkanlah..!!

rindu

ketika rasa rindu itu hanya mampu terangkai dalam sebuah kalimat.. Kaupun hanya bisa terpekur menahannya untuk keutuhan hatimu sendiri ..Sebab kekuatan rindumu telah melebihi penguasaan logika. Semakin dalam bukan malah teredam dan tenggelam, namun kau akan semakin merajam ...

Senin, 12 Januari 2015

sebuah angan

Aku selalu melihatmu
Dalam kejauhan hatiku
Tanpa sadar aku menggumam sendiri
Mengeja kalimat sayangku
Padamu...

Ku berharap kau mendengarnya
Meski kita tak pernah jumpa lama
Ku ingin kau juga merasakannya
Saat belaian tangan ini menyentuhmu dengan doa

Tahun bergulir seolah tak terhiraukan
Besarmu kini bisa ku bayang
Tanpa kau harus dalam pelukan
Dan...
Aku akan pahaminya
Jika kau lebih memilih berada di sana
Jauh melewati batas nyata
Karena kasihmu..
Karena cintamu..
Padaku jua..

Ketika ku terdiam
Seperti menunggumu
Menginginkanmu ada bukan dalam semayam
Mungkin karena celoteh rinduku menimangmu
Bidadari kecilku...
Walau itu hanya di ujung angan


"Haninanda Putri Seputro"

kamu ..

Tak habis warna ku lukiskan TENTANGmu
Tak kurang kata ku puisikan EKSPRESImu
KARENA bagiku...
Tak ada satupun ISTILAH yang dapat mewakili ADAmu
Selain ..
Indahnya RASA di hatiku ...

doaku ..

Tuhan ..
Segala pujiku hanya untuk-Mu
Dan rasa syukurku atas nikmat-Mu
Tiada mungkin aku dustakan karenanya
Juga tiada pernah aku akan melewatkannya
Tuhan ..
Jika aku selalu berharap kemurahan-Mu
Ku tau pasti hanya Engkau yang ku tuju
Dengan doa-doa kebaikanku..
"Pada-Mu..
Aku titipkan orang-orang terkasihku
Bersama-Mu..
Aku serahkan alur hidupku"
Tuhan ..
Aku selalu percaya
Kau Maha Bijaksana atas semua
Kau Maha Sempurna pengatur segalanya
Amien..

yakinku ..

Aku tau ..
Kau pasti tepati janji
Bisa ku percaya itu

Dan aku juga yakin
Kau akan mengerti ketidakhadiranku
Bukan ku melewatkanmu karena aku tak mau bertemu
Bukan aku tak datang tanpa alasan

"Rindu ini terlalu kuat untuk dialihkan .. "

Itu yang tak aku mau!!
Di penghujung waktu kau tinggalkan pesan
Aku justru bisa datang ..
Namun aku ragu..
Masihkah kau 'menunggu' sementara waktu??
Sebelum berlalu??
Niat aku urungkan
Aku hanya bisa meemandangmu dari kejauhan
Harapku padamu dalam hati ..
Kau akan juga merasakan
Aku tak datang bukan tanpa alasan

I l u

Arti Ketulusan







Waktu seolah kelu
Dan berada di penghujungnya
Kau diam..
Menanti detikan yang berserak
Perih itu semakin menikam
Pilu...
Lara...
Tak jua kau indahkan
Tetap terdiam
Menunggu ragamu lelah
Dan menepi..


Kau berjalan cepat saat pulang dari tempat kerjamu, sambil memandang langit sore ini, mendung... seolah memburumu untuk segera sampai ke rumah. Namun bagimu, ada alasan yang lebih memburumu untuk sesegera mungkin sampai ke rumah. Langkah yang kau ayun terasa memberat meski pintu rumah tinggal beberapa meter di depanmu. Tak sabar kau raih gagang pintunya, kau buka dengan tergesa dan kau menghambur menuju peraduan.

Tangispun kau tumpahkan ....



Bersamaan di luar sana pula, hujan mulai turun. Rintiknya membasahi daun dan samar tercium aroma tanah basah . Hujan deras akhirnya tak terelakkan. Seperti halnya juga denganmu, tak puas deraian tangis itu hanya sebatas genangan di sudut mata. Kau biarkan aliran beningnya jatuh membasahi wajahmu. Tak ada niatmu untuk menyeka,kau begitu menikmati dingin lelehannya masuk dalam pori-pori kulitmu. Isakmu bagai melodi tersendiri. Sesekali kau gelengkan kepala seperti ingin menepis pikiran yang ada di otakmu. Terdengar desis halus dari bibirmu yang kelu...

"Enyahlah!! ........"




Dan ini rasaku
Bukanlah untuk basa basi

Biarlah...!!
Kidung itu akan berhenti
Melagu dalam sunyi

Biarlah...!!
Rindu itu rapat terkunci
Tak jua akan ku nikmati kembali


Perlahan kesadaranmu pulih. Ingatan tentangnya satu persatu menari di pelupuk mata. Yaa... Dia..!! Sosok yang telah mengisi mimpimu akhir-akhir ini, menjadikan siangmu ceria dan malammu sempurna. Hari berubah bulan, kau melewatinya tanpa terasa. Senyummu tersungging tipis tatkala ingat kejadian-kejadian konyol dengannya. Bersamanya itu bagaikan lengkungan pelagi tanpa batas, karena kau merasa bila dia sangat mengerti tentangmu, seakan hanya dia sebagai tempat pelabuhan hati yang harus kau tuju. Tak ada lain...



Ketika aku jatuh cinta
Padamu..
Ku penuhi hatiku dengan dendang cintamu
Ku bingkai senyummu tanpa pernah ku ragu
Ku rayu jiwaku tuk selalu setubuhi waktu
Kapanpun..
Gaung namamu tlah meluber di otakku



Rindu adalah menu yang berulang. Biru juga gambaran suasana hatimu setiap hari. Tak berjumpa sehari, bisa jadi sewindu terasanya. Hmm.... kau tersenyum, teringat akan lirik lagu tempo dulu. Penggambaran yang mungkin cukup sederhana tapi sulit untuk dapat lugas kau ungkapkan. Karena ini sebentuk rasa cinta, rasa yang teramat agung bila dituangkan pada deretan kalimat definisi. Cinta hanya bisa dirasa, sebab cinta adalah bahasa rasa dalam hati.

Bagimu, cinta itu indah ......




Dan tibalah saat dimana kau dipertemukan dengan kejadian yang tak kau duga sebelumnya. Kejadian yang membuat kau mendekap lara. Kenyataan yang mengharuskanmu untuk berfikir lagi memilihnya. Kepingan hatimu telah tergores dengan bilahan kata-kata. Periih .... Terluka ... ,namun sisi lain, kau sangat mencintainya.  Ahh.... !!

Masih berartikah di sini sebuah kata toleransi...???




Di sisi hati yang tersembunyi
Ada secuil ketakutan di sana
Cinta yang tlah kujatuhkan padamu
Akankah juga terpatahkan olehmu!!??
Aku tak mau..
Aku tak bisa..
Anganku tlah jauh mengembara
Dan tak ingin kembali lagi



Tak terasa airmata yang mulai berhenti tertumpah lagi saat mengingat penggalan cerita tentang dia pada bagian itu. Kau meradang menahan pilunya. Cintamu terkoyak. Antara maaf yang teramat berat terucap dan lembayung cinta yang terpilin tampak sempurna berbaur saling mendominasi. Kau berusaha mencari arti  ketulusan  pada cintanya. Hingga akhirnya kau tersentak seketika saat tiba-tiba sebuah keputusan telah berada di tanganmu.


Dan kau kembali menangis tersedu.....



Ku buka serpihan lembaran
Letihpun butuh penyelesaian
Ketika koyakan lara itu bernama cinta
Terpekur sendiri
Mendekap jeritan hati
Yang seharusnya berujung rindu

 Menyingkirlah...!!

Kau tak ubahnya seorang pecundang
Hanya tahu perkataan sayang
Tanpa bisa pahami...
Arti sebuah ketulusan




( Jakarta, Desember 2014 )

Rabu, 17 Desember 2014

Kecewa

Sepi menghujat kenikmatan
Perihmu hanya bisa tertahan
Pada siapa ingin kau adukan
Biasan dari segala keindahan

Kau membisu..
Kau abaikan hatimu..

Sepipun masih sendiri
Kini, entah apa yang dipikirkan
Seperti juga kau acuhkan rindumu
Melepasnya pada titik ketiadaan

Kaupun terluka ... Ahh!!

Senin, 08 Desember 2014

Andai aku..

Andai aku bisa terbang
Ku kepak sayap pengharapan ini
Padamu...
Agar kau mampu pahami inginku
Bersamamu...
Agar kau bisa merasakan
Jika malam tak selalu kelam
Dan bila letih mengajakmu bercengkrama
Dan bila perihmu senandungkan dera
Tak akan ku biarkan
Tak akan ku ijinkan


Tak akan pernah....!!!

Andai aku bisa terbang
Ku ajak kau melintasi nirwana
Menjelajah indahnya hayalan rasa

Aku tau...
Sayapku mungkin tlah rapuh
Ataupun penuh peluh
Tapi aku yakin..
Rentangan tanganmu membantuku
Pelukan eratmu menopangku
Pada pinggiran sudut hati

Andai aku bisa terbang
Ku sanjung adamu tiada henti
Dalam liarnya mimpi...

Sepi

Jika sepi itu memanggilmu
Mengertilah...
Bukan ia merasa tau
Keberadaanmu..
Ia sebatas meminta
Kau mengingatnya tiap waktu

Aahh..

epi hanya berceloteh dalam diam
Merajukpun ia tak sanggup
Merindupun seolah tlah tabu
Entahlah...

Jika sepi itu memanggilmu
Inginnya...
Tuk sampaikan sesuatu
Atas ingatan itu...
Pada sudut mana ia harus mendekam
Ia lebih tau...
Saat di mana ia akan memelukmu dalam angan
Ia juga tau...

Tentangmu..
Sepi tak pernah inginkan kau berlalu

Bersamaku..

Lentara malam tlah berpijar
Meliukkan sinarnya sesekali
Berlomba terangnya dengan kejora
Entah siapa pemenangnya
Siapapun... kau tak peduli
Biarlah...!!


Sedangkan kau masih asyik bersama kirana
Di sini..
Dengan peluk hangat sinarnya
Meski malam itu adalah sepi
Dingin ..

Kau abaikan semua
Kau cukup inginkan itu
Hanya itu...
Meletakkan dera rindumu
Pada tepian hati yang mulai meletih
Hingga tak kau rasa lagi
Jeritannya...

Kau rayu kirana agar tersenyum
Kau goda kirana mencarimu
Dan sapaanlah sebagai balasannya
Lirih kiranapun berbisik...

"Menarilah di ujung mimpi ini
Bersamaku
Hingga waktu menepis semua lara
Tanpa perlu adaku
Sekalipun itu... !! "

Diantaramu..

Kembali malam memelukku
Nyanyikan sebuah kidung rindu
Menuju ke peraduan
Dan bintang hanya bisa mengiyakan
Keberadaannya..

Tak menyela...
Tak seperti biasa...

Ku lihat rembulan hanya diam
Mengamati gelapnya malam
Tak ingin berteguran
Tak juga ada senyuman
Ku ikut diam bersama malam
Dan bintang masih juga mengiyakan
Keberadaannya...

Sekian kali aku masih terdiam
Merasakan hadirnya rembulan
Dalam pelukan malam
Dan bintang tetap mengiyakan
Keberadaannya...

"Di antaramu kini aku berada..."

Tentang langit..

Kau kembali menatap langit
Birunya berubah gelap
Perlahan hujan mengguyurmu
Menebarkan hawa dingin
Di sekitarmu...
Kau tak inginkan itu
Hitam awan menegurmu
Apa daya....
Dia lebih tau atas semua yang ada


Tatapanmu masih ke langit
Mencoba singkap awan gelapnya
Berharap matahari berpihak padamu
Mencari warna langit lain meski itu bukan biru
Dia tau....
Dia sangat tau itu....

" Jika aku meminta hujan kau tarik jatuhnya dari bumi...
Mungkinkah???
Jika aku meminta langit selalu biru....
Mungkinkah???
Karena aku percaya semua itu tak mungkin...
Tak mungkin.....!!!

Aku hanya sanggup meminta padamu...
Ijinkan aku menepikan awanmu bukan untuk melupakanmu
Namun...
Menyanjung adamu pada sudut hatiku...."

Indahnya persahabatan

Memandangmu dari kejauhan
Ku teringat masa silam
Saat semua rasa dilalui bersama
Susahnya...
Sedihnya...
Senangnya...
Sungguh...!!
Bagaikan riak rindu dalam hidupku
Tak akan terlupa...
Berbagi canda juga cerita
Tak terlewatkan begitu saja
Denganmu...

Aku tersenyum..
Kini...
Mampuku hanya memandangmu
Dari kejauhan...
Menyematkan melodi keindahan kasih sayang
Merengkuhmu walau cukup di angan
Bertalikan eratnya persaudaraan
Aku kembali tersenyum
Jika suatu saat nanti
Ku temuimu di pinggiran senja
Akan aku ceritakan padamu
Tentang segarnya embun pagi
Tentang keikhlasan sang matahari
Tentang perkasanya dunia
Tentang indahnya semuanya
Semuanya...!!
Tak ada kecuali
Namun...
Kan ku pinta padamu
Tuk percaya satu keindahan saja
Karena bagiku...
Tak ada yang lebih indah
Selain indahnya persahabatan kita

sayangku

Aku sayang kamu ....
Hanya itu yang ku tau ...
Hanya itu yang ku mau ...
Entah kau inginkan
Entah kau abaikan
Aku tak mau tau itu ....
Yang ku tau tentang hatiku
Aku sayang kamu ....

Rindu..

Dan aku berkawan dengan rindu
Malam ini..
Bersama senyummu yang hanya berupa sketsa
Juga tatapanmu yang terwakilkan nirwana
Inginku meronta..
Anganku mengembara..
Di antara belukar ketiadaan semu
Ku terkapar..
Menunggu hari cepat berganti

Entahlah...!!
Detiknya sang waktu seolah tak juga menghiburku
Kali ini...
Sunyi...
Menapaki satu persatu jeruji hati
Melewati ranting buaian mimpi
Ku merasa enggan..
Karena adamu masih lelap
Jauh pada batas ragawi...

milikku..

Kau begitu dekat..
Seperti malam dengan sunyinya
Terpekur aku sendiri di sini
Merasakan hangat pelukmu
Juga rajuk manjamu dari kejauhan
Sungguh....
Senandung yang kupinta padamu
Selalu..
Tak kan ku biarkan dingin angin merusaknya
Tidak..!!
Tak sedesirpun aku rela melepasnya
Meski aku tau...
Pagutan dingin mungkin lebih mengerti malammu
Namun...
Senandungmu itu hanya milikku
Milikku...!!!

menyayangimu...

Indah..
Aku merasakannya juga
Darimu...
Menghangat pada sekujur tubuh
Seolah berada dalam pelukanmu
Perlahan ku letakkan rasa rindu ini
Agar bisa menyatu lelehannya
Dengan rasamu...
Helaan napaspun menjadi teratur iramanya
Adamu..
Adamu..
Itu yang slalu ku pinta
Dekap tubuhku... jiwaku..
Semampumu menyayangiku
Akan kurasa hingga ujung waktuku..

celoteh antara bulan dan malam

...........................................................
Ketika kau sangkakan
Rembulan itu kelam karena awan
Percayalah...
Jika ia mungkin sengaja menepikan sinarnya
Untukmu..
Agar kau bisa menikmatinya di lain hari
Dengan warna yang berbeda

..........................................................
Aku tahu tentang awan
Aku tahu tentang garis peredaran bulan
Aku tahu kapan bulan muncul dan tenggelam
Aku tahu....
Tapi aku juga tau tentang indah purnamanya
Dan inginku setiap saat bersama indahnya
Salahkah...??
...........................................................
Tak ada yang keliru
Kau adalah kehebatan bagi purnamanya bulan
Juga indahnya sebuah keinginan
Percayalah satu hal..!!
Di mana bulan itu menyapamu
Adalah ajakan padamu
Menikmati panjang malammu
Bersamanya
Karena...
Bulan memahamimu
............................................................

Hari Ayah

Nada yang mengalun lembut ini
Aku persembahkan padamu
Sebagai lukisan segenap rasaku
Tentangmu...
Tak ada kalimat lain lagi
Kecuali...
" Aku sayang Kamu.. "

- Selamat Hari Ayah -

kangen

Dan ...
Bila aku diharuskan berucap
Satu kata
Padamu...
Tak akan ragu ku sapa
Indah malammu itu
Dengan hati yang bernada
Rindu ....

"Kangennya tuh di sini... Huuhh!!!!"