Selasa, 09 September 2014

Persembahan Cinta untuk Renta

Maafkan aku..  
Untuk kali ini saja  
Aku tak mau mengerti  
Tentangmu..  
Aku juga tak mau pahami  
Karena...  
Aku telah terlanjur jatuh hati  
Padamu..  

Maafkanlah.....




Renta menghela napas panjang. Mencoba berdamai dengan hati. Pelan-pelan ia mengumpulkan semua rasa untuk dipadukan dengan logika. Sambil asyik mengamati tingkah sepasang love bird yang ada di sangkar teras rumahnya. Dengan lincah sang burung menari tanpa terusik dengan keberadaan Renta. Kembali Renta menghela napas lebih dalam. Burung itu telah membawa ingatannya pada seseorang yang sangat berarti. Sosok yang tak ditemuinya dalam waktu dekat. Dan untuk saat ini.


Sosok itu bernama Levi, orang yang telah menawan hatinya juga memberi warna lukisan rasa di hatinya dan sekarang sedang berada jauh dari jangkauan matanya.





"Love bird ini akan menjadi teman saat kamu merindukanku.. ia akan mengerti apa yang kamu rasa sebagaimana aku juga merasakannya dari sana. Dan ini adalah bagian kecil persembahan cintaku padamu yang nyata selain kesetiaan pastinya, aku mohon...jagalah...!! rawatlah...!! seperti aku dan kamu akan selalu menjaga dan merawat cinta kita menjadi sebuah cerita," ucapmu saat hari di mana aku harus melepasmu untuk berada jauh dariku karena study sebagai kesempatan dari instansi tempat kamu bekerja.





Terbayang saat-saat bersama Levi di awal masuk kuliah. Tak sedikitpun ia tertarik pada Levi,seorang mahasiswa Tehnik 2 tahun di atasnya yang dengan gaya khasnya menyapa Renta setiap hari meski hanya sepatah kata ucapan selamat pagi. Renta nyengir membalas sapaan Levi.  Sikap antara menghargai Levi sebagai seniornya tapi juga sedikit risih karena godaan dari teman-temannya.


Saat itu ia merasa biasa saja.…


Seperti senior sebelumnya, pada akhir semester 2 di kampus Renta diadakan kegiatan orientasi mahasiswa baru yang biasa disebut OMB dan diakhiri dengan sebuah acara,yaitu malam keakraban. Kegiatannya berlangsung 3 hari dan dilaksanakan di lereng perbukitan pinggir kota. Tibalah pada hari pelaksanaan OMB, terlihat Renta sedang sibuk meneliti barang bawaannya. Dirasa tidak ada yang kurang atau ketinggalan,berangkatlah ia ke kampus setelah berpamitan dengan orang tuanya. Hari itu adalah hari jumat siang setelah selesai ibadah sholat jumat. Sesampai di kampus,Renta cepat bergabung dengan kelompoknya. Hatinya senang karena ini adalah pengalaman pertamanya menikmati alam bebas. Jarum jam telah menunjukkan saat untuk berangkat.

Setelah berdoa bersama yang dipimpin seniornya, Renta dan rombongan berangkat menuju tempat pelaksanaan OMB. Renta larut dalam canda bersama teman-temannya.



Setiba di lokasi, Renta menuju tempat yang telah disiapkan. Dengan sigap para mahasiwa baru memberesi barang bawaannya seolah telah tahu apa yang harus dilakukan. Begitu juga dengan Renta. . Para seniorpun tak segan turun langsung memberi arahan. Malam di hari pertama bukan dilewati dengan langsung istirahat,melainkan para mahasiswa baru tersebut sibuk meminta tanda tangan seniornya minimal 10 orang di sela-sela kesibukan yang mereka lakukan. Batas pengumpulan tanda tangan tersebut adalah sabtu siang,karena pada malam harinya saat malam keakraban akan diumumkan siapa saja senior favorit dan juga junior avorit pilihan teman-temannya sendiri. Namun, untuk memperoleh tanda tangan tidak cuma-cuma. Berbagai syarat dilontarkan untuk sedikit menguji nyali adik kelasnya. Dengan tingkah beraneka ragam terlihat para senior ingin menunjukkan popularitasnya dengan cara masing-masing. Ada yang bersikap galak,arogan atau tegas tak mau dibantah sampai dengan sikap yang ramah, lembut dalam arti pelan intruksinya hingga sikap yang biasa saja.



Singkat cerita, Renta juga aktif mencari tanda tangan dan berinteraksi dengan senior-seniornya tersebut. Tak terasa juga tinggal seorang saja dan Renta memutuskan untuk menunda esok pagi karena badan Renta sudah lelah. Keesokan harinya,saat Renta sedang mengumpulkan ranting untuk memasak air, ada sosok yang sedang asyik dengan kanvasnya menghadap arah hutan tempat OMB berlangsung. Renta berhenti sejenak dan memperhatikan dengan seksama karena hari masih sedikit gelap. Sambil mengendap ia menghampiri sosok tersebut. Tepat setelah ia berada di belakang sosok itu,ia memekik tertahan sambil menutup  mulutnya dengan tangan kanannya. Tangan kirinya memegang ranting yang telah dipungut di sekitar tendanya. Tak sadar pekikan Renta membuat sosok tersebut menoleh ke arahnya. Keduanya sama-sama kaget. Renta buru-buru mengucapkan maaf.

“Maaf mengganggu konsentrasi melukisnya,saya tidak sengaja tadi,” Renta menunduk malu.

Ia telah membuyarkan konsentrasi sosok itu melukis bentangan hutan yang menjadi latar tempat OMB berlangsung lengkap dengan liukan burung-burung liar yang tengah asyik menari. Sosok yang tak lain adalah Levi menjawab, “Gak apa-apa, aku cuma kaget karena mendengarmu memekik, takut kalau ada masalah.”  Renta meringis sambil berkata, “ maaf sekali lagi kak.. abisnya lukisanmu bagus sih! Seolah seperti barisan pohon-pohon dan burung-burung kecilnya yang tertempel pada kanvas. Begitu hidup kelihatannya,sungguh mengagumkan.”

Levi tertawa pelan, “ Kirain ada apaan, bikin aku kaget saja. Lebih kaget lagi setelah mendengar pujianmu, hiperboliknya itu loh!!”  begitu Levi menanggapi komentar Renta pada goresan kanvasnya. Renta ikutan tertawa seraya bertanya pada Levi, "Kalo saya di sini sebentar kira-kira mengganggu gak kak?" Levi mempersilahkan Renta duduk di sebelahnya. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Renta untuk meminta tanda tangan Levi untuk menggenapi tugas OMBnya. Tapi tak semudah itu Levi memberi tanda tangan. Renta diminta meneruskan apa yang Levi lukis. Mudah bagi Renta karena ia bisa melukis meski tak terlalu mahir. Matahari mulai tampak menguning di sisi timur,bergegas Renta pamit untuk kembali bergabung dengan teman-temannya. Levi tersenyum mengiringi kepergian Renta.

Dan ia masih merasa biasa saja.....



OMB telah usai tapi ada yang lain setelah kegiatan tersebut. Semakin hari Levi dan Renta semakin dekat. Di samping membantu dalam tugas-tugas Renta, Levi juga asyik sebagai teman ngobrol sekaligus teman bercanda.Tak ketinggalan sapaan selamat pagi dengan gaya khas Levi. Untuk kali ini Renta tidak nyengir lagi namun menyahut dengan suara merdunya.

" Selamat pagi jugaa kak Levi...."




Waktu terus melaju dan Levi telah menyelesaikan skripsinya. Suatu hari,pada malam minggu entah yang ke berapa Levi memberanikan diri menyatakan ketertarikannya pada Renta. " Bolehkah aku menjadi teman spesialmu,Ren?" tanya Levi. Renta menatap Levi dalam-dalam seakan mencari kebohongan sedikitpun bila itu ada. Ia tak menemukannya. Renta tersenyum dan mengangguk. Kembali Levi berkata, " Waktu akan membuktikan cintaku ini bila kau masih belum percaya,Ren..." 

"Aku sayang kamu... bangettt!! " ....kata Levi lirih sambil meraih tangan Renta untuk digenggamnya seakan ingin meyakinkan kesungguhan cintanya pada Renta. Dan Renta membiarkan tangannya untuk digenggam Levi tanda ia juga mempunyai perasaan yang sama.





Pada jiwamu kau berbisik
Pada hatimu kau titipkan
Tentang kalimat cinta
Juga rangkaian rindu yang mendera
Namun...
Tanyamu tetap ada
"Untuk akukah semua itu"

Kiranya..
Kau hanya mampu untuk percaya
Rangkaian kata itu
Di antara ragumu yang ada

"Aku sayang kamu......."





( Jakarta, September 2014 )

Minggu, 07 September 2014

Diamku hanya untuk mengertimu..

Pada satu titik kau bertahan
Menjawab semua letih keraguan
Dan..
Pada satu titik kau membisu
Mengharap tiada kata cinta lagi
Hingga ..
Pada satu titk kau harus luruh
Bawa rasamu sendiri
Begitu lara..
Begitu rapuh..
Kau tak peduli
Atas dirimu sendiri

"Kali ini aku tak ingin memujamu,CINTA.."




Perlahan kau rasakan sebuah aliran hangat melintasi pipimu. Dan kau masih saja mendiamkannya,seolah tak peduli wajahmu ikutan basah, tak hanya di bagian pipi. Kau hela napas dengan segan. Tatapanmu masih kosong ke arah jendela. Di luar gerimis juga tak kunjung reda, tanpa sengaja begitu setia menemanimu berurai airmata.



Kau coba memutar kejadian semalam. Masih seperti semula,tatapan belum lepas juga dari sisi jendela sambil menggumam, "Dimanakah letak kekeliruannya?? tak mungkin..!!!.. Teganya kau perlakukan aku, sungguh tak punya perasaan.. aahh!!" ..tak sadar kepalamu menggeleng untuk menegaskan penolakan di hatimu.

Dia berlalu tanpa kata.... tak seperti saat semua bermula. Begitu banyak tanya yang tak terjawab dengan sikapnya.Pengecutkah..?? Kau tepiskan anggapan itu seketika karena kau sama sekali tak inginkan kata itu disandangnya.


"Aahh.........."


Termangu kau menahan kelu di hatimu yang seolah merasakan tindihan sebongkah batu tak juga mau berpindah tempat.


"Entahlah........."




Jalinan cerita yang baru di ujung terbentang akhirnya harus kau relakan untuk ditinggalkan.Yaa.. ditinggalkan. Dan tepatnya dibiarkan tertinggal. Atau apa lagi istilah kerennya kau tak peduli lagi. Karena itu tak kau inginkan tapi harus terjadi. Kau masih percaya akan kekuatan cinta, dan akan selalu percaya.. Seperti kau percayakan cintamu memilihnya, memilih jiwanya mencumbui hatimu dengan segala rasa. Kembali kau menghela napas panjang dan terdiam.


Bagiku..
Kau tak ubahnya jalur yang berdebu
Enggan ku mengabaikan
Segan kakiku ditapakkan
Kau menoleh sekedar ingin tau
Mengapa!??
Aku palingkan rasa buru-buru
Seolah tanya itu tiada
Dan senyap kembali yang kau temui
Entahlah...


Riak di matamu mulai mengering, bersamaan dengan datangnya kesadaranmu untuk mengurai cerita ini kembali. Kau mengenalnya tak ubahnya seperti belasan kalimat dalam satu kata,yaitu cinta. Namun bagimu....tak ada yang tak mungkin bila itu tentang rasa. Dan sekali lagi,kau selalu percaya cinta. Padanya, kau lukis kerinduan,kau anyam keindahan dan kau hiasi pernik tangisan. Senyummu senantiasa tersungging di bibir manakala kau bersamanya. Tak jarang senyum itu berubah menjadi tawa saat dengar dan melihat tingkah konyolnya. Tak sedikitpun jiga kau merasa letih mendengar ceritanya tentang apapun berikut keluh kesahnya. Dan begitu pula sebaliknya. Tak ada beban dan tak pernah bosan. Itu yang kau rasa....


"Bagaimana dengan yang dia rasa.......??"


Kembali kau menekuni pilahan-pilahan jalan cerita. Di mana kau dan dia sebagai tokoh utama. Dia...?? Tak ada satu orangpun yang bisa menebak isi hati orang lain selain daripada telah ada kedekatan secara emosional sebelumnya. Itupun tak sepenuhnya benar. Dan bila kau merasakan ada yang berbeda dengannya, tak lain karena satu alasan juga,yaitu cinta. Cinta itu selalu dapat dipercaya. Entah pergerakannya,pengertiannya juga tentang rasanya. Kau hanya mampu memegang satu kata...


"Percaya........"


Pada akhirnya kau hanya bisa percaya akan kekuatan cinta. Tak ingin lagi kau nikmati sayatan perih di hatimu karena cintanya. Bukan karena kebencian atau dendam. Tidak..!!.. Hatimu telah rela terdiam untuk cintamu. Dan kau tulis dalam kerelaan itu atas cintanya. Kau dekap sendiri semua lara. Kau lacurkan sendiri keegoisan rasa.

Karena diammu hanya untuk mengerti cintanya......


Adamu kini pada jeruji rindu
Ku sebut namamu cinta
Dan...
Kau kenalkan aku pada bilur laranya
Aku juga terima..
Tapi...
Jangan kau berani mengais luka
Seujungpun ku tak akan rela

Aku tetap memanggilmu cinta
Meski lirih..

Dengarkanlah..!!!




( Jakarta, September 2014 )

Kamis, 04 September 2014

merindumu

Ku akan temui kau lagi..
Sebagai lapisan yang abadi
Setiap rasaku memanggilmu
Di sini..
Dan aku akan selalu kembali
Untuk semua kenangan itu
Meski sekedar melewatkan rindu
Ato hanya rasa ingin berjumpa
Denganmu..
Ku jelajahi deretan sketsa hati
Di sini..
Selalu akan berada di sini

Kutuangkan..
Kuekspresikan..
Kuabadikan..

Ku akan temui kau lagi..
Tak pernah aku merasa bosan
Dengan jiwaku yang semakin melirih
Aku tetap inginkan kau
Bersamaku..
Di sini..
Mengurai kembali serakan rindu
Entah kau mengaku
Entah kau belagu
Aku tak peduli
Karena...
Yang aku tau...kau tetap menjadi lapisan abadi
Di antara lirihan jiwaku dan peso na jiwamu sendiri
Di sini...

cemburu

Menunggu pagimu
Bersama senyum yg kusajikan
Diantara lugasnya tikaman
Rindu dan cemburu
Tangisnya tlah kuseka
Agar tak kurasa esoknya
"Apakah itu keliru?"
Diam kunikmati sayatannya
Sepi kujerakan perihnya
Ranting kasihku yang rapuh
Patah sebelum tersentuh
"Apakah itu ragu?"
Tak ku iyakan
Bukan juga sebuah tolakan
Bilurnya tetap kunikmati
Meski dengan sembunyi

Aku rindu..
Tapi juga cemburu..
Padamu

melewatkan waktu

Aku melihatmu di kejauhan
Dan aku tau pasti
Itu kamu...
Ketika ku hampiri tuk menyapamu
Kau tersenyum...
Aku tersenyum...
Ku lewatkan waktu tanpa peduli
Seolah waktu tak berhenti
Kau tertawa...
Aku bahagia...
Hingga ku dapati kau tersedu
Menahan pilu..
Aku terdiam seketika
Mencoba ulang yang terjadi
Sekali lagi aku tau
Itulah kamu...
Sayangnya...
Dengan rasamu yang tersembunyi

Aku melihatmu di kejauhan
Dan aku tau pasti
Itu kamu..
Namun kali ini tak kuhampiri
Bukan karena benci
Atau belagak lupa diri
Aku tetaplah di sini
Aku hanya ingin...
Agar kau bisa mengerti
Juga sekedar memahami
Jika rasa itu jangan sembunyi

diam

Menyusuri tepian hati
Dan kau diharuskan diam
Hanya terus berjalan
Sedangkan aku tengah asyik mengamati
Ke manapun kau melangkah pergi
Bagiku..
Kau tak ubahnya jalur yang berdebu
Enggan ku mengabaikan
Segan kakiku ditapakkan
Kau menoleh sekedar ingin tau
Mengapa!??
Aku palingkan rasa buru-buru
Seolah tanya itu tiada
Dan senyap kembali yang kau temui
Entahlah...


Selamat pagiii,Cinta....
Tiadamu...
Sungguh aku tak berarti

inilah cinta

Ketika aku bertanya
Padamu..
Tentang alasan kita bertemu
Kau hanya tersenyum
Seolah mengabaikan tanyaku
Dan ketika ku meminta
Sekali lagi tuk menjawabnya
Kau isyaratkan agar diam
"Dengarkanlah..
Kidung janji itu bernyanyi
Sebagai alunan rasa saling mencintai.."

Aku mendengarnya
Aku merasakannya
Aku menikmatinya
Tak ingin lagi ku bertanya
Alasan kita berjumpa
Tlah ku pahami melodinya
Tlah kurasakan getarannya
Dan aku percaya...
Kidung janji itu lebih indah bila dinyanyikan bersama
Seperti kebersamaan pagi dan matahari
Karena pagi tak pernah mencari tau
Alasan matahari menemuinya selalu
Dan kita...
Tak cukup alasan tak berkata
Inilah cinta..
Love u....

sebuah rencana

Berceloteh di suatu pagi
Denganmu..
Ku inginkan yg terbaik
Untukmu..
Apapun itu tanpa kecuali
Bagiku..
Kau adlh malaikat kecil
Hidupku..
Tlah kulontarkan kata dan kalimat
Entah pd hitungan ke berapa kali ini
Dan aku tak peduli
Tiada prnh bosan jg
Karena..
Ku ingin kau mengerti
RencanaNya itu penuh warna
Utk selalu diterima

menjaga hati

Dan ini bukan sesaat,karena aku mau semua tiada akhir..
Dan ini bukan hanya rasa,karena aku inginkan kau selalu segalanya
Meski di sini..
Tetap di sini..
Dan selalu di sini..
Bersama cintamu
Tak pernah berhenti
Menjaga hati dengan peduli

I love u...

rindu

Ketika langit itu bercelah
Ingin ku sampaikan
Padamu..
Tentang hati yang merindu
Atas keindahan yang ku puja
Di waktu tersendiri
Dan ketika bumipun enggan berhenti
Aku yakinkan hati lagi
Jika rindu ini
Padamu...
Tanpa basa basi

Senin, 07 Juli 2014

waktu...

Kembali menyusuri lorong waktu
Yang lalu..
Pada gelapnya aku slalu bercerita
Entah tlah kuulang berapa kali
Mungkin sampai kau merasa bosan
Aku tak peduli..
Karena pada waktmu aku berjanji
Melewatkan indahnya pahatan lagi
Dan akan meletakkan hatimu
Di sini...

Dear you...

sajak itu...

Sajak berupa deretan kalimat yang bermelodi
Dan kamu adalah salah satunya..
Ketika sajak itu menginginkanmu lepaskan sembunyi..
Kau hadirkan senyum sebagai tirainya

"Senandungkan sajakmu untukku..."

Aku pun berharap hal serupa
Aku ingin dengar sajakmu tanpa tirai dan seadanya
Karena aku percaya..
Sajakmu lebih merdu bila itu yang semestinya

kamu..

Karena adamu pada jeruji rindu
Ku sebut namamu cinta
Dan..
Kau kenalkan aku pada bilur laranya
Aku juga terima..
Tapi...
Jangan kau berani mengais luka
Seujungpun ku tak akan rela

Aku tetap memanggilmu cinta
Meski lirih..
Dengarkanlah..!!!

Cinta Tak Pernah Usai..

Jika aku mencarimu lagi
Dan memintamu kembali
Aku percaya..
Kau adalah puing yang tertata
Untukku..
Karena..
Luruhmu telah setubuhi waktu
Hingga rasamu tak pernah usai
Mencintaiku....


Aku menyusuri jalanan dengan perasaan tak menentu. Antara otak dan langkah kaki ini seolah beradu cepat ingin segera sampai rumah. " Rumah??"....Aku  bergumam sendiri tanpa sengaja. Mencari lagi definisi "rumah" yang kuinginkan. Berulang kali pula logikaku riuh bersahutan menyodorkan kenyataan. Dan anehnya, kenapa kata itu selalu berdefinisi kembali tentangmu. Tentang cintamu..

Cinta..
Satu kata yang tak tak perlu penjabaran menurutku, karena ia hanya sebuah permainan hati dengan semua rasa. Dan aku menganggapnya sebagai kebohongan belaka. Hingga hari ini aku bertemu kau lagi. Terhenyak aku mendengarkan celotehmu tentang makna cinta. Lebih terkejut lagi setelah tahu rasa cintamu padaku yang sengaja kau endapkan sekian lama. Begitu dasyatnya kekuatan cinta, sampai sanggup tertahan luapannya tanpa meminta pengakuan. Tersenyum.. adalah ekspresi pertama yang kulihat saat kau katakan itu semua. Yaa.. senyum kerelaan menahan sakit teraniaya sendiri oleh rasa cintamu itu.


Kau coba tepiskan semua rasa
Seolah tak mau tau..
Jika waktu telah setubuhimu
Bersama gulana di hatimu
Dan kau terjaga seketika..
Saat kau terlanjur mendekap lara
Kaupun kembali bertanya
"Di manakah aku berada??"
Tentangmu tetaplah tiada....


"Cinta itu indah..."
Begitu kau mulai memberiku sebuah sketsa pertama tentang cinta. Aku mulai menyimak setiap perkataanmu. Matamu tajam melihat jauh dengan tatapan yang melembut ketika beralih padaku. Aku juga menatapmu dan berharap kau melanjutkannya lagi. Terdangar lagi suaramu...

"Cinta itu indah.. Mungkin kau akan merasa cinta itu benar-benar indah saat di setiap helaan napasmu dipenuhi canda,tawa yang tak pernah tau kapan berhentinya. Ketika kau temui cinta itu di kesunyian,apalagi saat dia bersama yang namanya airmata,kau akan menolak pernyataan itu. Memang, kesedihan dapat membuyarkan semua angan tentang indahnya cinta. Tapi mengertilah, dibalik kesunyian itu tersimpan berjuta keindahan yang bernama rindu. Tahukah kau tentang rindu?? adalah ruang kosong yang tersimpan di hatimu ketika kau menginginkan keberadaannya. Rindu pula yang akan membawamu pada suatu tempat dimana hanya kita yang bisa rasa" , katamu dengan lembutnya. Aku mendengarkanmu tanpa menyela. Lalu kau lanjutkan cerita lagi.. " Cinta itu indah.. meski harus berurusan dengan cemburu. Tak usah heran.. memang,di manapun namanya cemburu itu berarti kelu..tak ada manisnya sama sekali,tapi kenapa cinta tetap indah di situ? Aku menamainya bukan cemburu,tapi cinta yang teramat sangat. Cemburu itu tak ubahnya tolok ukur kita tentang indahnya cinta itu sendiri. Tak ada cemburu sama halnya tak ada cinta. Tapi,cemburu yang berlebihanpun bukanlah cinta,dia telah menjelma menjadi penguasa,penguasa cinta. Cinta itu indah.. meski tangisan kekecewaan selalu di sekelilingnya. Entah kekuatan darimana keindahan itu bisa muncul di balik tangisannya. Kekuatan itulah yang bisa kita rasakan sebagai keindahannya, yaitu rasa rela berdamai dengan hati sendiri dan orang yang kita cintai. Karena cinta sebuah kerelaan diri mengasihi,menyayangi,berkorban juga mengerti secara tulus tanpa perlu pengakuan sekalipun. Dimanapun cinta berada,bagaimanapun keadaannya dan pada siapapun dia menghampiri untuk jadi cerita...cinta itu indah."



Rembulan...
Hanya menggeliat perih
Di kejauhan
Sesekali bias sinarnya
Tertutup awan hitam
Dan membuatnya terdiam
Termangu..
Segan rasanya menyeruak
Meminta sebuah pengakuan


"Cinta itu rumah.."
Sketsa kedua menurutmu tentang makna cinta.. Aku masih asyik menyimak apa yang akan kau katakan. Dan kau sendiri tetap tersenyum di sela-sela kalimat yang kau ucap.

"Cinta itu rumah.... di mana kita sanggup berekspresi apapun tanpa ragu,tanpa malu karena kita merasakan kenyamanan di situ. Sepanjang kau bisa memberikan kenyamanan padanya maka kemanapun cinta itu pergi..dia akan mencarimu untuk kembali. Dia akan selalu kembali... seperti kita selalu rindu untuk pulang ke rumah. Ibaratnya,tak perlu seutas tali untuk mengikatnya,tak perlu juga jeruji untuk memenjarakannnya,cukuplah kau berikan kepercayaan dan kau persembahkan kesetiaanmu pada cinta maka dia akan selalu datang padamu. Kau pasti bertanya mengapa bisa begitu bukan??.. Jika kau merasakan cinta....kau akan meleburkan hatimu menjadi satu dengan semua rasa di dalam cintamu hingga kau tak sanggup mengenali lagi mana rasamu sendiri. Serasa seperti kau berada di hatimu, rumahmu sendiri.. Dan pada akhirnya cintamu akan tahu juga mengerti,hanya kepada hatimulah cinta akan selalu berlabuh membuang sauh. Yaa.. pada hatimu.. " .. kau menoleh padaku, masih dengan tatapan lembutmu. Aku tersenyum memberi tanda kalo aku dapat mencerna apa yang barusan kau katakan.


Aku hanya mengikuti hatiku
Di mana hati ini memanggilmu
Aku ikuti..
Aku mengerti..
Karena ini tentang rasa
Rasa tanpa butuh sebuah logika
Seperti aku menyayangimu
Sayang yang tak perlu ditanya
Sayang yang tak tahu jawabnya
Cukup engkau pahami sendiri
Bersamamu..
Aku tlah menemukan arti


"Dan yang terakhir menurutku adalah... Cinta tak pernah salah.." .. kau masih memberikan pengertian tentang cinta. Anehnya, aku tak merasa bosan sedikitpun.. masih juga dengan ekspresi yang sama kau pun bercerita. Tetap dengan senyum manis di bibir penyempurna garis-garis ketampananmu.

"Cinta tak pernah salah...  cinta tau kapan harus datang. Tak pernah salah memilih waktu,tempat terlebih subyek yang merasakan. Karena cinta adalah interaksi bersama dengan segala rasa yang sanggup mengubah perasaanmu menjadi berwarna. Dan kau dapat merasakannya di saat kau jatuh cinta. Jatuh cinta??..hmmm.. kau tak perlu mengenalnya karena dia tak pernah terkenali tanpa merasakan sendiri. Seperti kata orang-orang,jatuh cinta berjuta rasanya... begitulah!!..tapi itu masih kata orang,bukan menurutmu.... " kau tertawa kecil bukan bermaksud mengejekku karena aku juga masih sendiri sepertimu. Aku tersipu mencoba buang senyumku agar tak ketahuan.  "Ketika orang merasakan jatuh cinta...perasaan yang tergambar hanya satu kata.. indah. Tapi jika kau diminta berlalu dari sisi orang yang telah membuatmu jatuh cinta,masihkah kau bilang jatuh cinta itu indah??.. pasti jawabnya cepat..... sakit!! Salahkah cinta??.. Tidak!!.. Cobalah kau pahami kalo cintamu masih sembunyi,mungkin kau saja yang salah mengerti... karena cinta itu tak pernah salah. Dia akan mencari dan terus mencari pasangan hati."....kau mengakhiri sketsa makna cinta tanpa senum namun kali ini kau tatap aku tajam seolah tatapanmu itu ingin mencari tau apa yang tergambar di hatiku. Aku balas menatapmu masih dengan senyum yang sama ku hadirkan tadi meski dalam hati berkecamuk rasa yang aku sendiri tak tau definisinya.


Hati..
Di sinilah awal sebuah cerita bermula
Mengalun dan meliukkan segala rasa
Anggap waktu tak adil bagimu
Pada hati ini jua...
Bilur rindumu begitu tersengal
Peluh cintamu sungguh megah
Desah merana tetesan airmata
Bukan ingin dikasihani


Sejurus kita terdiam ,saling memandang.. tak sadar aku berucap lirih,"Tuhan.. inikah cinta untukku yang Kau hadirkan?..mengapa aku merasa dekat meski aku belum cukup mengenalnya? mengapa cinta untukku tetap terjaga olehnya??..masih bertanya lagikah aku tentang alasannya?? ..hanya cinta... yaa yaa... karena cinta,itulah jawaban dari alasan kau menjaganya."... Kau tersenyum dan mengangguk. "Aku yakin, cinta itu indah,cinta itu tak pernah salah dan cinta akan selalu kembali ke rumah..dan semua itu terjawab pada hatimu. Aku juga tak ingin memaksamu membalas cintaku karena aku percaya, jika kau dan aku ditakdirkan mempunyai cinta yang sama,suatu saat kita akan bertemu untuk merangkai cerita, tapi...jika kau dan aku hanya ditakdirkan untuk melihat kesamaan cinta kita,tak ada kata terlambat menyatakannya, karena cinta tak pernah usai mendampingimu bahagia dalam doa. Dan kita akan selalu berhutang pada waktu,dimana waktulah media utama cinta kita,"..... begitu kau meyakinkanku. Aku pun mengatakan hal yang sama..."Yaa.. aku bisa pahami semua,aku bisa rasakan dan aku juga percaya jika suatu saat waktu tlah menjawabnya,maka kupastikan jawaban itu adalah cinta kita dengan segala toleransinya. Biarlah semua mengalir mengikuti alur waktu hingga tiba saatnya cintamu akan memanggilku sendiri."
( Chaiya naa )


Satu lirihan hati
Padamu..
Mampuku mengaduh sepi
Di setiap denyutan nadi
Atas rindu yang kau sampaikan
Lugas tanpa bias
Dan aku tetap melirih
Pada hatimu..
Hanya sebatas itu..
Dan kamu juga enggan melewatkan
Hingga anganku terpuaskan
Satu lirihan hatiku
Akan selalu menyanjungmu tiada henti 
Di sini..



( Jakarta, Juli 2014 )

Minggu, 29 Juni 2014

tak peduli

Ingin kau ada
Tapi ada yang tiada..
Jauh sudah..
Kini..
Tentangmu..
Hanya tau sebuah lagu..
Dawai sudah tak lagi
Bermelodi..
Hanya tau kata sunyi..
Iramanya hentikan
Ku menari..
Entahlah!!
Aku tak peduli
Lagi..
Antara ingin dan janji
Berserak
Berarak
Aku tak peduli
Sekali lagi..
Sepertimu juga
Yang tlah melupa
Dan ku terima
Karenamu..
Aku mampu!! ..

entahlah..

Entahlah..
Diam adalah kenikmatan
Mencumbu detik yang terlewat
Meski sesak..
Meski perih..
Rasa tlah terlanjur kuendapkan
Tapi aku tak pernah inginkan
Dan..
Jiwaku pun hanya tau kau harus ada
Menuntut kau hadir juga
Tau apa aku atas diriku ini?
Tiada..

Jika aku mencarimu lagi
Dan memintamu kembali
Aku percaya..
Kau adalah puing yang tertata
Untukku..
Karena..
Luruhmu telah setubuhi waktu
Hingga rasamu tak pernah usai
Mencintaiku..

aku dan kamu

Terdiam..
Mengoyak rapuh pagutan lara
Di manakah kau berada?
Dan relung waktu akan menyebutmu
Rindu..

Sayup sapamu sempat melirih
Mencari tau tentangku
Aku??
Ribuan kata tlah menahanku
Di sini..
Seolah kau juga tak peduli
Masihkah perlu tanya adaku lagi?

Kau selalu memanggilku cinta
Karena kau adalah rindunya
Yang siap mengoyakku..
Menghujamku..
Tanpa harus sembunyi
Nikmat piluku tak perlu kau tau
Akan ku rasa sendiri

Aku adalah cintamu..
Kau tetaplah rinduku..
Di sini..

Aaahh...!!!!!!!!!!!!

hebatmu..

Kau selalu bilang
Aku hebat....
Aku tlah percaya sekarang
Karena kau yang katakan
Jika sekali lagi kau bilang
Aku hebat....
Aku semakin percaya lagi
Karena hebatku menurutku
Jauh sudah dibandingmu..
Dan jika kau tetap bilang
Aku hebat....
Aku tak sanggup lagi berucap
Tentangmu..
Tentang apapun itu
Karena..
Tak ada yang perlu terucap
Olehku..
Selain aku yakini
Jika hebatmu bermakna tersendiri
Di hatiku ini..

Aku tak peduli katamu lagi
Tentangku..
Bagiku adalah kau dan hebatmu
Bersamaku di sini.. ..

antara aku dan Kamu

Tuhan...
Aku tak pernah meragukanMu
Seperti juga saat ini
Kau letakkan bayanganku
Di hadapanku sendiri..
Meski berada di lain sisi

Ku menangis tak seperti tangisnya
Ku meradang tak seperti lukanya
Ku tertawa tak seperti indahnya

Mengapa Kau hadirkan itu padaku??
Di antara semua rasa yang Kau cipta..
Apa karena pongahku yang Kau anggap lupa
Tuk mengakui keagunganMu??
Ataukah Kau ingin tunjukkan kuasaMu
Dengan bahasa lain untukku??

Tuhan..
Ku tundukkan hati bukan karena terpaksa
MemujiMu tiada henti sebagai perantara
Dan....
Pintakupun juga sederhana saja
Jagalah rasa yang Kau beri tentangnya
Tetapkan takdirMu juga atas dirinya
Sebagai sisi lain teman hidupku
Selamanya...

pasrah

Dan..
Larimu tak sekencang dulu
Teriakanmu tak selantang lalu
Masihkah kau mencari arti percaya?
Jika itu berupa nyata..
Kau coba lagi menghitung bintang
Saat langit tanpa rembulan
Kau juga ingin sandarkan angan
Melewati senyapnya malam
Berlalu..
Adalah kiasan untuk hatimu
Terseok lagi kau tepiskan ragu
Hingga letih yang menyisakan tanyamu
"Inikah batas toleransi itu?"

Karena rasamu itu ada..
Karena adamu itu terasa..

tentangmu..

Aku ingin menyanjungmu
Di lorong sempit yang berdebu
Ku lembutkan senyum kerasmu
Bukan tuk merayu..
Ku lebarkan lengan memelukmu
Karena letihmu jangan pernah sendiri

Aku ingin menyanjungmu
Di antara malam hari yang kelabu
Entahlah..!!
Aku hanya ikuti rasa ini
Sampai batas toleransi akan berhenti
Entahlah..!!
Jangan tanya tentang itu lagi
Aku juga tlah acuhkan semua alasan

Aku ingin menyanjungmu
Sekali lagi..!!
Hingga kau sanggup pahami
Sungguh berartinya dirimu sendiri..

ayah..

Menginginkanmu kembali
Begitu mustahil bagiku
Karena..
Adamu telah tersembunyi
Di antara sepinya waktu
Yang melirih..
Tak ada candaan
Tak ada omelan sayang
Tak ada nasehat bernada pelan
Apalagi sebuah pelukan..
Rindu..??
Entah di lapisan mana rasa itu berada
Aku tak juga ingin tau tentangnya
Bagiku..
Sayatannya telah menjadi tak hingga
Melebihi jarak di antara kita
Antara sayang yang nyata dan doa..

Ayah..
Ijinkan aku mengenangmu
Tanpa ada airmata
Di hari ini..
Hari kelahiranmu..

tentang aku..

Terpejam..
Ketika malam memanggilmu
Mencari tahu tentangku
Di antara syair sang pujangga
Dan bisikan para pemuja cinta
Masih perlukah kau tanya?
Alur yang ingin kau lewatkan
Tentangku..
Begitu saja..

Kau coba tepiskan semua rasa
Seolah tak mau tau..
Jika waktu telah setubuhimu
Bersama gulana di hatimu
Kau terjaga seketika..
Kau terlanjur mendekap lara
Dan kaupun kembali bertanya
Di manakah aku berada??
Tentangku..
Tetap tiada..

"Aku berada di ujung sempit pandanganmu
Tanpa terjaga kau bisa rasa
Tanpa raga kau telah menjadi jiwa
Dan bersama letihnya malam
Aku sanggup memelukmu dengan sempurna.. "

arah angin

Bila angin berbisik 'tidak' padamu
Apakah awan mau mengerti??
Sedangkan bulan tak juga mulai menari
Langitpun terlihat gelap
Seakan ingin menoleh dalam enggannya
Dan kamu??
Hanya ikut terdiam sambil menatap semuanya..

Selasa, 13 Mei 2014

bisakah??

Begitulah..!!
Kau hanya sanggup biarkan
Dingin malam memelukmu
Tanpa pesona
Hening..
Sepi..
Semua akan menjadi biasa
Denganmu..

..........................................

"Masih ingatkah kau..
Saat aku (malam) selalu menimangmu dalam sekali ayun
Menuju ke peraduan??
Masih ingatkah juga..
Kau menikmati gelapku (malam)
Hingga hanya lelapmu yang tertinggal?? .."

.........................................

Dan kau..
Tak melewatkannya
Meski perlahan kau rasa
Pelukan dingin malam kian mencengkeram
tiada ampun!!
Lunglai..
Letih..
Kau tetap bisa menahan
Karena bagimu..
Malam masih inginkanmu
Bersamanya dengan caranya
Dan kau sendiri..
Tak sanggup berlari
Saat ini..

............................................

"Aku akan menjadi malam hangatmu kembali
Bersama sunyiku yang ingin bicara tentang cinta
Dan sapuan lirih anginku yang selalu bermanja
Padamu,Kekasihku...
Bisakah..?? "

tentangmu..

Aku menyanjungmu...
Seperti angin yang berbisik tentang rinduku
Seperti ombak yang menimang riak resahku
Seperti langit yang menangis lirih ketika jiwaku mengadu padamu
Seperti daun yang kerontang jatuh terdiam
Usah berkata..
Sembunyikan penat letihnya
Seperti lagu tanpa dawai sekalipun
Iramanya samar mendayu..

"Angin hanya mencoba permainkan letihmu
Bukan mengabaikan heningmu..
Aku sanggup yakinkan itu
Padamu..."

Tentangmu....
Seperti hadirnya matahari yang tersenyum pagi hari
Setiap jengkal hangatmu
Selalu ku nikmati..
Meski perlahan harus luruh
Tiada ku peduli
Karenamu..
Aku akan hidup dan aku harus mati..

Senin, 14 April 2014

Tentang rasa di suatu senja

Tentangmu..

Seperti aku selalu inginkan pagi

Juga aku indahkan rebah senja

Tiada lelah ku berharap

Menuju pagimu

Mencumbui sang waktu

Dan..

Masih tentangmu

Aku rela mengiba pada pagi

Tak bosan tuk menunggu

Juga meminta padamu..



        Aku masih memandang langit yang semakin keemasan karena hari mulai senja. Dan aku masih berharap hadirmu saat ini menemaniku di sini. Yaa... di sini, di kelokan jalan ini. Dengan pinggiran terhampar padi yang menguning seolah tanpa batas. Sama halnya juga denganku yang selalu menunggumu, tiada batas waktu.





     Terbayang tiga tahun yang lalu,aku terima telepon darimu,dengan nada panik kau berkata, “ Nay,kita ketemu di tempat biasanya sekarang yaa.. penting!! “ langsung aku mengiyakannya. Bergegas ku keluarkan sepedaku dengan tak lupa kukenakan topi kesayanganku. Tanpa peduli terik matahari yang berangsur akan meluruh, ku kayuh sepedaku secepatnya. Akhirnya, dari kejauhan tampak tempat itu, kelokan jalan di pinggir bentangan sawah yang luas, tempat biasa kita berjumpa. Aku lihat kau sedang duduk di salah satu pematang tengah asyik mengamati matahari sore. Perlahan ku sandarkan sepedaku dan kamu menoleh ke arahku. “Nay… kemarilah!!” katamu .. Ku hampiri dan duduk bersebelahan denganmu. “Ada berita apa Sad,penting bangetkah??”  Kau tersenyum dan menoleh ke arahku sambil jari telunjukmu ditempelkan bibir sebagai isyarat agar aku diam.  “ Eesst, lihatlah dulu alam ini, di mana hamparan padi mulai menguning bersamaan dengan hamparan langit yang juga akan beralih menjadi merah jingga.. nikmatilah!!.. mungkin saja ini senja terakhir kita bersama..” … “ Terakhir??..apa maksudnya??  aku semakin tak mengerti apa maksudmu..?” sambarku menjawab buru-buru. Kau kembali menoleh dan tertawa melihat ekpresi wajahku yang keheranan bercampur cemas. “ Katakanlah, ada apa ini sebenarnya??” pintaku ..  “Yaa.. yaa.. tapi ku harap kamu bisa menerimanya dengan bijak..” kau menjawabnya dengan lembut. … Aku mengangguk tanda setuju seraya tak sabar untuk mendengar apa yang ingin kau katakan.  “ Besok aku harus meninggalkan kota ini untuk tinggal bersama nenekku di tempat asalku.. Sekaligus juga aku meneruskan kuliah di sana. Aku tak ingin kau sedih karenaku dan aku tak bisa menjanjikanmu tentang apapun kecuali  secuil hati dan kesetiaan cintaku ini,tapi aku juga bebaskan kau bila kau bertemu seseorang yang lebih memahamimu,sebab aku mungkin tak bisa menemani hari-harimu lagi dalam waktu yang lumayan lama di sini…” dengan terbata kau mengatakan itu semua.  … Aku melongo, antara sadar dan tidak ku coba mendengarkan apa yang kau katakan. Masih tak percaya jika kau akan pergi esok hari. Dan ternyata itu memang benar.. aah!!

          Kau masih asyik menatap dalam langit yang semakin temaram. Aku juga masih asyik dengan gemuruh hati yang segan ku redam. “ Mengapa secepat ini? mengapa harus sekarang??  mengapa harus pergi?? Mengapa…. Mengapaa… ??” tanyaku tak henti memberondong keluar meminta jawaban. Namun semua hanya tercekat dalam hati saja. Kuberanikan diri menatapmu dalam-dalam,namun justru kudapati riak kecil yang kau tahan. Kau juga sedih,kau juga tak inginkan..



Ketika airmata hanya sanggup tertahan

Untuk sebuah rasa 

Haruskah ku masih pinta kau memanggilku cinta? 

Sedangkan hatiku tak ingin ingkari 

Atas adamu saat ini 

Mungkin..


          Sebuah tepukan lembut membangunkanku dari lamunan yang telah menjadi kenyataan. Aku menoleh padamu dan berucap, “ Apakah ini artinya semua harus berakhir?” .. Kau tersenyum dan berkata, “ Aku tak inginkan berakhir tapi aku juga tak bisa berbuat apa-apa untuk ini selain pembuktian atas cinta kita. Namun, aku juga tak tahu rencana–Nya atas kita.. ya kan? “ Aku hanya bisa mengangguk dengan enggannya.





         “Sadyan Dewa Lawani”, sebuah nama yang ku kenal sebagai teman sekolahku. Anak pindahan dari pulau seberang, Kalimantan tepatnya. Karena kenekadannya menyelipkan sebuah puisi pada buku catatanku yang dia pinjam. Awalnya aku tertawa saja menghadapi ulahnya, “Waahh.. bisa sebuku deh nih ntar dikumpulin, konyol ahh!!” begitu selalu kukatakan padanya. Dia hanya tersenyum kemudian tertawa mendengar ledekanku itu. Tak bosannya dia menyapaku dengan sebait kalimat indahnya setiap hari dan seperti biasa ku tulis ulang pada sebuah buku lagi dengan maksud untuk membuktikan bahwa apa yang kukatakan padanya itu benar. Sambil menyalin bait-bait indah darinya, aku memutar ulang juga kejadian saat aku bersamanya. Ada canda,kesal,marah juga cemburu. Bila dia tak masuk sekolah ada rasa kehilangan tak biasanya. Dan bila musim ulangan tiba, ada rasa ingin bersaing mengunggulinya.  

         Di waktu senggang, aku baca ulang juga bait-bait indahnya sambil tersenyum sendiri. Hingga suatu saat aku terhenyak sendiri, inikah yang dinamakan cinta? Sebuah rasa yang tak pernah aku duga datangnya… Ataukah ini hanya sebatas rasa suka karena terbiasa?... Seorang “Nayla Lissanaya” telah jatuh cinta??  Perlahan kurapikan larik-larik kidung  yang berserakan di hatiku dan berusaha mengeja rasa yang ada.



Aku menyapamu pada satu nada 

Kurangkaikan pada laguku 

Yang juga hanya bernada satu 

Jika itu kau ijinkan 

Karena bagiku.. 

Tak ada lagi nada lainnya 

Dengarkanlah!!





Begitulah, hari-hari kulewati bersamamu. Tak pernah ada pernyataan cinta darimu,namun bait-bait indahmu telah berbicara tentang rasamu padaku. Aku senang dan aku terima itu. Karenamu, aku lebih semangat menikmati riuhnya detikan waktu yang terasa cepat berjalan. Kau membuat hatiku selalu mencari keindahan langit di atas langit lagi setiap harinya. Kau juga bisa melukis cemberutnya wajahku begitu kau goda. Tak terbayang lagi warna yang berganti pada deretan hari. Penuh warna itulah kesimpulannya. Dan kita mempunyai kesukaan yang sama,yaitu menatap senja. Bagimu, senja adalah perpaduan dua rasa yang meluruh antara matahari dan bulan dimana matahari melepaskan terik siangnya dan bulan menyambut malam dengan sinar lembutnya. Dan bagiku, senja itu  adalah indah titik tanpa koma. …. Hehehe…  


Padamu..
Ku tulis segenap asaku
Seperti juga senja ini
meski ku harus terdiam
Pejamkan rasa..
Kau dengarkanku lagi
Lewat angin yang menyapa lirih
Dalam jiwa rapuh ini




          Di akhir pekan, sepulang kita mengikuti ekstrakulikuler kita selalu bertemu di seberang sekolah,terdapat lapangan bola yang kebetulan di sisi pinggir kelokannya masih terhampar luas sawah berikut pematang-pematangnya yang terbujur lurus. Sambil melihat anak-anak ramai bermain bola,kita juga bisa menikmati indahnya senja.

         


         Hingga tibalah saat di mana aku terima telepon darimu mengajakku bertemu di tempat biasa kita berjumpa. Di sini… yaa di sini. Bersama senja yang perlahan mulai terganti. Bersama hatiku yang luruh setelah mendengarkan apa yang kau ucapkan. Dan aku masih belum bisa percaya atas semua itu. 


Temaram senja di kesunyian  

Menjadikan awan sebagai sandarannya  

Tertoreh indah di ujung kaki langit  

Lihatlah..!!  

Matahari masih begitu gagah  

Untuk kau ditaklukkan  

Dan sunyi adalah jawabannya  

Menuju hening malammu  





          Kau tersenyum untuk ke sekian kalinya sebagai usahamu menghiburku. Aku juga mencoba tersenyum mengabaikan kecemasan yang tersisa. “Baiklah..!! aku harus bisa bijak memahaminya sejauh logikaku berbicara”...gumamku dalam hati. Kau berucap seraya meyakinkanku, “Tak usah menangis untuk hari ini.. di senja ini,aku ingin melukis indahnya rasa tentang kita sebelum aku pergi, meski aku tau.. hatimu tetap ku yakini untukku,tapi aku tak ingin memaksakan keadaan atas jarak dan waktu yang terus melaju.. tersenyumlah untukku.. untuk rasa kita ini.. “ Aku tersenyum lagi dengan menahan aliran sungai kecil di sudut mataku dan menjawab “ Aku tak menangis bukan karena aku tak lara namun karena aku percaya apa yang kau kata… aku percaya apa yang ku rasa.. hingga akupun harus percaya pada-Nya tentang semua rencana-rencana-Nya”..

Senja semakin menghilang bilur-bilur jingganya, bersama dirimu yang akan berlalu dari hari-hariku. Dan aku akan mencoba mengakrabi sepi ini sebagai ganti hadirmu di sini.






           Aku masih memandang langit di tempat yang sama di saat terakhir kita berjumpa meski kali ini tanpamu. Aku juga masih berharap hadirmu lagi menemaniku di sini seperti tiga tahun yang lalu. Tetap menunggumu dan aku percaya, walaupun malam mampu mengalihkan senja,namun kau tak akan sanggup kecewakanku tentang rasa kita..  



Antara hamparan waktumu

Aku berada di sudut salah satunya

Menunggu..

Bersama erangan cintaku sendiri

Ku nikmati..

Meski desahnya harus kuyup

Dalam lautan ragumu

Kupercaya..

Jika kau akan rangkum waktumu

Hingga lelahku tak pernah usai

Sampai saatnya ku semai rindu

Entah kapan adamu

Aku terima..  


( Jakarta, April 2014 )

Minggu, 13 April 2014

aku

Bila tiba saatnya
Kamu akan mengerti
Apa yang ku mau
Di sela segala mimpimu
Mungkin..
Kataku tak selembut ibu peri
Dekapku tak sehangat mentari
Namun..
Hatiku selalu ada saat kau gulana
Dan raga..
Sekuatnya menjadikanmu luar biasa
Janji sekeping hati ini
Padamu
Apapun itu..

sebuah janji

Saat kau harus belajar lagi pada malam
Tentang sebuah keteguhan
Menemani senyap..
Melewati sepi..
Tak harus ada bulan
Tak perlu kawalan bintang
Hanya kau dengan kepatuhan
Atas janji sang Illahi..

Malam hanya sanggup bergumam...

Aku di sini
Dan akan tetap begini
Meski ada dan tiadamu lagi
Karena kau tak pernah terganti..

rindu

Ku rasa..
Jika kamu adalah matahari
Aku tau..
Tak mungkin ada saat ini
Tapi..
Mengapa aku yakin itu kamu?
Dalam kedap malam yang berjalan
Dan lirih nada cengkrama awan
Itu kamu..
Aku tak keliru!!
Karena..
Aku sangat tau
Jika kamu selalu menjadi matahari
Di sini..

percuma

Karena..
Kau ditakdirkan untuk melayani bukan dilayani
Memanjakan bukan dimanjakan
Berhentilah berharap..
Sebuah keajaiban merubahnya
Tersenyum adalah pelampiasanmu
Untuk menutupi perihmu
Dan menangis adalah keindahanmu
Untuk mencari kepuasanmu
Yang hanya kau tau sendiri

Percuma..

Rabu, 19 Februari 2014

mengeja cinta

Ketika aku belajar mengeja cinta
Pada hatimu ku letakkan huruf-hurufnya
Satu persatu..
Dan aku tak inginkan ejaan itu
Berubah..
Bahkan berganti
Meski sapamu akan melirih
Ku tetap dengar..
Ku telah rasa..
Di setiap desahannya

Karena....
Aku adalah kamu
Kamu adalah aku
Dan selalu akan menjadi KITA
Sebagai sebuah persembahan CINTA.

rindumu..

Satu lirihan hati
Padamu..
Mampuku mengaduh sepi
Di setiap denyutan nadi
Atas rindu yang kau sampaikan
Lugas tanpa bias
Dan aku tetap melirih
Pada hatimu..
Hanya itu..
Kamu juga enggan melewatkan
Hingga anganku terpuaskan

"Aku rindu..
Aku kelu..
Aku inginmu..
Hanya itukah sapamu untukku??"

Satu lirihan hatiku
Akan selalu menyanjungmu tiada henti
Di sini..

berserah..

Ketika langit harus bercelah
Juga..
Bila hamparan jalan bisa terbentang di sana
Ketahuilah..
Betapa keloknya tak kan pernah buatmu lelah
Sebab inginmu adalah di sana
Usah tanya lagi jalan mana kini kau berada
Simpan tanyamu itu!!
Sebagai bilur-bilur jiwa merindu
Pada langit..
Pada celahnya
Karena..
Tlah kau tundukkan keegoisanmu
Mengalahkan ragumu sendiri
Hingga kaupun tak lagi meminta jawabnya..

Elegi hari

Malam begitu mendera
Masih pedulikah saat pagi jg mengiba?
Sepi..
Sunyi..
Anginpun tak ingin mencari daun lain
Tuk rasakan hembusan yg sama
Dingin..
Hening..
Meredam gejolak alam yg tersembunyi
Pada sisi lain belahan bumi
Larut..
Letih..
Dan tetes embun mulai turun
Temani waktu cumbui hari
Rengekan malam terabaikan
Hanya sekedar menunggu sapaan pagi

Malam semakin mendera
Pagi masih mengiba
Aahh..

- Elegi hari -

Masih di hari yang sama

Masih di hari yg sama
Ketika riakmu bercerita lagi
Pertama kali..
Dari endapan waktu berlalu
Kau letih..
Kau perih..
Kau marah..
Kau diam..
Kau ingin lupakan kemunafikan

Masih di hari yg sama
Ketika senyum kepasrahan itu
Kau coba hadirkan
Tuk kelabuhi nyanyian syair lara
Padaku..
Padanya..
Pada mereka..
Pada angkuhnya angkara
Terseok..
Kau tetap menapakinya

Masih di hari yg sama
Dalam lelapmu
Selamanya...

satu nada

Aku menyapaMu pada satu nada
Kurangkaikan pada laguku
Yang jg hanya bernada satu
Jika itu Kau ijinkan
Karena bagiku..
Tak ada lagi nada lainnya
Dengarkanlah!!
Alunan laguku sayup membuai malam
Lirih mengadu pada waktu
Membuncah keindahan di jiwa
Bersama derai di sudut mata
Mengertilah!!
Notasiku tak berubah
Tak kan pernah!!
Hanya ada di satu nada itu
Nada di mana aku berawal
Dan..
PadaMu akan berakhir..

- love U -

Sabtu, 04 Januari 2014

semangat

Mendengar..
Melihat..
Merenung..
Merasakan..
Menuangkan rasa..
Menulis..
Menggali inspirasi..
Menulis lagi..
Dan..
Tetap semangat menulis lagi..

"Angka tahun boleh berganti
Namun..
Angka target kita di hati..!!??
Haruslah selalu "tinggi" ..."