Senin, 14 April 2014

Tentang rasa di suatu senja

Tentangmu..

Seperti aku selalu inginkan pagi

Juga aku indahkan rebah senja

Tiada lelah ku berharap

Menuju pagimu

Mencumbui sang waktu

Dan..

Masih tentangmu

Aku rela mengiba pada pagi

Tak bosan tuk menunggu

Juga meminta padamu..



        Aku masih memandang langit yang semakin keemasan karena hari mulai senja. Dan aku masih berharap hadirmu saat ini menemaniku di sini. Yaa... di sini, di kelokan jalan ini. Dengan pinggiran terhampar padi yang menguning seolah tanpa batas. Sama halnya juga denganku yang selalu menunggumu, tiada batas waktu.





     Terbayang tiga tahun yang lalu,aku terima telepon darimu,dengan nada panik kau berkata, “ Nay,kita ketemu di tempat biasanya sekarang yaa.. penting!! “ langsung aku mengiyakannya. Bergegas ku keluarkan sepedaku dengan tak lupa kukenakan topi kesayanganku. Tanpa peduli terik matahari yang berangsur akan meluruh, ku kayuh sepedaku secepatnya. Akhirnya, dari kejauhan tampak tempat itu, kelokan jalan di pinggir bentangan sawah yang luas, tempat biasa kita berjumpa. Aku lihat kau sedang duduk di salah satu pematang tengah asyik mengamati matahari sore. Perlahan ku sandarkan sepedaku dan kamu menoleh ke arahku. “Nay… kemarilah!!” katamu .. Ku hampiri dan duduk bersebelahan denganmu. “Ada berita apa Sad,penting bangetkah??”  Kau tersenyum dan menoleh ke arahku sambil jari telunjukmu ditempelkan bibir sebagai isyarat agar aku diam.  “ Eesst, lihatlah dulu alam ini, di mana hamparan padi mulai menguning bersamaan dengan hamparan langit yang juga akan beralih menjadi merah jingga.. nikmatilah!!.. mungkin saja ini senja terakhir kita bersama..” … “ Terakhir??..apa maksudnya??  aku semakin tak mengerti apa maksudmu..?” sambarku menjawab buru-buru. Kau kembali menoleh dan tertawa melihat ekpresi wajahku yang keheranan bercampur cemas. “ Katakanlah, ada apa ini sebenarnya??” pintaku ..  “Yaa.. yaa.. tapi ku harap kamu bisa menerimanya dengan bijak..” kau menjawabnya dengan lembut. … Aku mengangguk tanda setuju seraya tak sabar untuk mendengar apa yang ingin kau katakan.  “ Besok aku harus meninggalkan kota ini untuk tinggal bersama nenekku di tempat asalku.. Sekaligus juga aku meneruskan kuliah di sana. Aku tak ingin kau sedih karenaku dan aku tak bisa menjanjikanmu tentang apapun kecuali  secuil hati dan kesetiaan cintaku ini,tapi aku juga bebaskan kau bila kau bertemu seseorang yang lebih memahamimu,sebab aku mungkin tak bisa menemani hari-harimu lagi dalam waktu yang lumayan lama di sini…” dengan terbata kau mengatakan itu semua.  … Aku melongo, antara sadar dan tidak ku coba mendengarkan apa yang kau katakan. Masih tak percaya jika kau akan pergi esok hari. Dan ternyata itu memang benar.. aah!!

          Kau masih asyik menatap dalam langit yang semakin temaram. Aku juga masih asyik dengan gemuruh hati yang segan ku redam. “ Mengapa secepat ini? mengapa harus sekarang??  mengapa harus pergi?? Mengapa…. Mengapaa… ??” tanyaku tak henti memberondong keluar meminta jawaban. Namun semua hanya tercekat dalam hati saja. Kuberanikan diri menatapmu dalam-dalam,namun justru kudapati riak kecil yang kau tahan. Kau juga sedih,kau juga tak inginkan..



Ketika airmata hanya sanggup tertahan

Untuk sebuah rasa 

Haruskah ku masih pinta kau memanggilku cinta? 

Sedangkan hatiku tak ingin ingkari 

Atas adamu saat ini 

Mungkin..


          Sebuah tepukan lembut membangunkanku dari lamunan yang telah menjadi kenyataan. Aku menoleh padamu dan berucap, “ Apakah ini artinya semua harus berakhir?” .. Kau tersenyum dan berkata, “ Aku tak inginkan berakhir tapi aku juga tak bisa berbuat apa-apa untuk ini selain pembuktian atas cinta kita. Namun, aku juga tak tahu rencana–Nya atas kita.. ya kan? “ Aku hanya bisa mengangguk dengan enggannya.





         “Sadyan Dewa Lawani”, sebuah nama yang ku kenal sebagai teman sekolahku. Anak pindahan dari pulau seberang, Kalimantan tepatnya. Karena kenekadannya menyelipkan sebuah puisi pada buku catatanku yang dia pinjam. Awalnya aku tertawa saja menghadapi ulahnya, “Waahh.. bisa sebuku deh nih ntar dikumpulin, konyol ahh!!” begitu selalu kukatakan padanya. Dia hanya tersenyum kemudian tertawa mendengar ledekanku itu. Tak bosannya dia menyapaku dengan sebait kalimat indahnya setiap hari dan seperti biasa ku tulis ulang pada sebuah buku lagi dengan maksud untuk membuktikan bahwa apa yang kukatakan padanya itu benar. Sambil menyalin bait-bait indah darinya, aku memutar ulang juga kejadian saat aku bersamanya. Ada canda,kesal,marah juga cemburu. Bila dia tak masuk sekolah ada rasa kehilangan tak biasanya. Dan bila musim ulangan tiba, ada rasa ingin bersaing mengunggulinya.  

         Di waktu senggang, aku baca ulang juga bait-bait indahnya sambil tersenyum sendiri. Hingga suatu saat aku terhenyak sendiri, inikah yang dinamakan cinta? Sebuah rasa yang tak pernah aku duga datangnya… Ataukah ini hanya sebatas rasa suka karena terbiasa?... Seorang “Nayla Lissanaya” telah jatuh cinta??  Perlahan kurapikan larik-larik kidung  yang berserakan di hatiku dan berusaha mengeja rasa yang ada.



Aku menyapamu pada satu nada 

Kurangkaikan pada laguku 

Yang juga hanya bernada satu 

Jika itu kau ijinkan 

Karena bagiku.. 

Tak ada lagi nada lainnya 

Dengarkanlah!!





Begitulah, hari-hari kulewati bersamamu. Tak pernah ada pernyataan cinta darimu,namun bait-bait indahmu telah berbicara tentang rasamu padaku. Aku senang dan aku terima itu. Karenamu, aku lebih semangat menikmati riuhnya detikan waktu yang terasa cepat berjalan. Kau membuat hatiku selalu mencari keindahan langit di atas langit lagi setiap harinya. Kau juga bisa melukis cemberutnya wajahku begitu kau goda. Tak terbayang lagi warna yang berganti pada deretan hari. Penuh warna itulah kesimpulannya. Dan kita mempunyai kesukaan yang sama,yaitu menatap senja. Bagimu, senja adalah perpaduan dua rasa yang meluruh antara matahari dan bulan dimana matahari melepaskan terik siangnya dan bulan menyambut malam dengan sinar lembutnya. Dan bagiku, senja itu  adalah indah titik tanpa koma. …. Hehehe…  


Padamu..
Ku tulis segenap asaku
Seperti juga senja ini
meski ku harus terdiam
Pejamkan rasa..
Kau dengarkanku lagi
Lewat angin yang menyapa lirih
Dalam jiwa rapuh ini




          Di akhir pekan, sepulang kita mengikuti ekstrakulikuler kita selalu bertemu di seberang sekolah,terdapat lapangan bola yang kebetulan di sisi pinggir kelokannya masih terhampar luas sawah berikut pematang-pematangnya yang terbujur lurus. Sambil melihat anak-anak ramai bermain bola,kita juga bisa menikmati indahnya senja.

         


         Hingga tibalah saat di mana aku terima telepon darimu mengajakku bertemu di tempat biasa kita berjumpa. Di sini… yaa di sini. Bersama senja yang perlahan mulai terganti. Bersama hatiku yang luruh setelah mendengarkan apa yang kau ucapkan. Dan aku masih belum bisa percaya atas semua itu. 


Temaram senja di kesunyian  

Menjadikan awan sebagai sandarannya  

Tertoreh indah di ujung kaki langit  

Lihatlah..!!  

Matahari masih begitu gagah  

Untuk kau ditaklukkan  

Dan sunyi adalah jawabannya  

Menuju hening malammu  





          Kau tersenyum untuk ke sekian kalinya sebagai usahamu menghiburku. Aku juga mencoba tersenyum mengabaikan kecemasan yang tersisa. “Baiklah..!! aku harus bisa bijak memahaminya sejauh logikaku berbicara”...gumamku dalam hati. Kau berucap seraya meyakinkanku, “Tak usah menangis untuk hari ini.. di senja ini,aku ingin melukis indahnya rasa tentang kita sebelum aku pergi, meski aku tau.. hatimu tetap ku yakini untukku,tapi aku tak ingin memaksakan keadaan atas jarak dan waktu yang terus melaju.. tersenyumlah untukku.. untuk rasa kita ini.. “ Aku tersenyum lagi dengan menahan aliran sungai kecil di sudut mataku dan menjawab “ Aku tak menangis bukan karena aku tak lara namun karena aku percaya apa yang kau kata… aku percaya apa yang ku rasa.. hingga akupun harus percaya pada-Nya tentang semua rencana-rencana-Nya”..

Senja semakin menghilang bilur-bilur jingganya, bersama dirimu yang akan berlalu dari hari-hariku. Dan aku akan mencoba mengakrabi sepi ini sebagai ganti hadirmu di sini.






           Aku masih memandang langit di tempat yang sama di saat terakhir kita berjumpa meski kali ini tanpamu. Aku juga masih berharap hadirmu lagi menemaniku di sini seperti tiga tahun yang lalu. Tetap menunggumu dan aku percaya, walaupun malam mampu mengalihkan senja,namun kau tak akan sanggup kecewakanku tentang rasa kita..  



Antara hamparan waktumu

Aku berada di sudut salah satunya

Menunggu..

Bersama erangan cintaku sendiri

Ku nikmati..

Meski desahnya harus kuyup

Dalam lautan ragumu

Kupercaya..

Jika kau akan rangkum waktumu

Hingga lelahku tak pernah usai

Sampai saatnya ku semai rindu

Entah kapan adamu

Aku terima..  


( Jakarta, April 2014 )

Minggu, 13 April 2014

aku

Bila tiba saatnya
Kamu akan mengerti
Apa yang ku mau
Di sela segala mimpimu
Mungkin..
Kataku tak selembut ibu peri
Dekapku tak sehangat mentari
Namun..
Hatiku selalu ada saat kau gulana
Dan raga..
Sekuatnya menjadikanmu luar biasa
Janji sekeping hati ini
Padamu
Apapun itu..

sebuah janji

Saat kau harus belajar lagi pada malam
Tentang sebuah keteguhan
Menemani senyap..
Melewati sepi..
Tak harus ada bulan
Tak perlu kawalan bintang
Hanya kau dengan kepatuhan
Atas janji sang Illahi..

Malam hanya sanggup bergumam...

Aku di sini
Dan akan tetap begini
Meski ada dan tiadamu lagi
Karena kau tak pernah terganti..

rindu

Ku rasa..
Jika kamu adalah matahari
Aku tau..
Tak mungkin ada saat ini
Tapi..
Mengapa aku yakin itu kamu?
Dalam kedap malam yang berjalan
Dan lirih nada cengkrama awan
Itu kamu..
Aku tak keliru!!
Karena..
Aku sangat tau
Jika kamu selalu menjadi matahari
Di sini..

percuma

Karena..
Kau ditakdirkan untuk melayani bukan dilayani
Memanjakan bukan dimanjakan
Berhentilah berharap..
Sebuah keajaiban merubahnya
Tersenyum adalah pelampiasanmu
Untuk menutupi perihmu
Dan menangis adalah keindahanmu
Untuk mencari kepuasanmu
Yang hanya kau tau sendiri

Percuma..

Rabu, 19 Februari 2014

mengeja cinta

Ketika aku belajar mengeja cinta
Pada hatimu ku letakkan huruf-hurufnya
Satu persatu..
Dan aku tak inginkan ejaan itu
Berubah..
Bahkan berganti
Meski sapamu akan melirih
Ku tetap dengar..
Ku telah rasa..
Di setiap desahannya

Karena....
Aku adalah kamu
Kamu adalah aku
Dan selalu akan menjadi KITA
Sebagai sebuah persembahan CINTA.

rindumu..

Satu lirihan hati
Padamu..
Mampuku mengaduh sepi
Di setiap denyutan nadi
Atas rindu yang kau sampaikan
Lugas tanpa bias
Dan aku tetap melirih
Pada hatimu..
Hanya itu..
Kamu juga enggan melewatkan
Hingga anganku terpuaskan

"Aku rindu..
Aku kelu..
Aku inginmu..
Hanya itukah sapamu untukku??"

Satu lirihan hatiku
Akan selalu menyanjungmu tiada henti
Di sini..

berserah..

Ketika langit harus bercelah
Juga..
Bila hamparan jalan bisa terbentang di sana
Ketahuilah..
Betapa keloknya tak kan pernah buatmu lelah
Sebab inginmu adalah di sana
Usah tanya lagi jalan mana kini kau berada
Simpan tanyamu itu!!
Sebagai bilur-bilur jiwa merindu
Pada langit..
Pada celahnya
Karena..
Tlah kau tundukkan keegoisanmu
Mengalahkan ragumu sendiri
Hingga kaupun tak lagi meminta jawabnya..

Elegi hari

Malam begitu mendera
Masih pedulikah saat pagi jg mengiba?
Sepi..
Sunyi..
Anginpun tak ingin mencari daun lain
Tuk rasakan hembusan yg sama
Dingin..
Hening..
Meredam gejolak alam yg tersembunyi
Pada sisi lain belahan bumi
Larut..
Letih..
Dan tetes embun mulai turun
Temani waktu cumbui hari
Rengekan malam terabaikan
Hanya sekedar menunggu sapaan pagi

Malam semakin mendera
Pagi masih mengiba
Aahh..

- Elegi hari -

Masih di hari yang sama

Masih di hari yg sama
Ketika riakmu bercerita lagi
Pertama kali..
Dari endapan waktu berlalu
Kau letih..
Kau perih..
Kau marah..
Kau diam..
Kau ingin lupakan kemunafikan

Masih di hari yg sama
Ketika senyum kepasrahan itu
Kau coba hadirkan
Tuk kelabuhi nyanyian syair lara
Padaku..
Padanya..
Pada mereka..
Pada angkuhnya angkara
Terseok..
Kau tetap menapakinya

Masih di hari yg sama
Dalam lelapmu
Selamanya...

satu nada

Aku menyapaMu pada satu nada
Kurangkaikan pada laguku
Yang jg hanya bernada satu
Jika itu Kau ijinkan
Karena bagiku..
Tak ada lagi nada lainnya
Dengarkanlah!!
Alunan laguku sayup membuai malam
Lirih mengadu pada waktu
Membuncah keindahan di jiwa
Bersama derai di sudut mata
Mengertilah!!
Notasiku tak berubah
Tak kan pernah!!
Hanya ada di satu nada itu
Nada di mana aku berawal
Dan..
PadaMu akan berakhir..

- love U -

Sabtu, 04 Januari 2014

semangat

Mendengar..
Melihat..
Merenung..
Merasakan..
Menuangkan rasa..
Menulis..
Menggali inspirasi..
Menulis lagi..
Dan..
Tetap semangat menulis lagi..

"Angka tahun boleh berganti
Namun..
Angka target kita di hati..!!??
Haruslah selalu "tinggi" ..."

adaku hanya untukmu..

Bersama derai hujan ini
Kau berharap
Malam tak pernah dingin
Bagimu..
Kau masih mampu tertawa
Dalam bekuny
Tersenyum mengalihkan luka
Menangis dengan bangga
Hingga kelu itu tak lagi
Di sini
Untuk sebuah ELEGI

Karena padamu..
Dia tlah mengajari arti
Mencintai
Tanpa harus memiliki
Dia tlah berikan jiwa
Tuk tulus pahami hati
Kau rasa
Kau puja
Dan..
Kau bisa lantang berkata..
"Adaku hanyalah untukmu,CINTA.."

masih di sini..

( Cileunyi tengah malam di jalan...)

Melintasi hari di ujung malam
Denganmu..
Hanya bisa terdiam
Berteman deru yang bersahutan
Dan..
Roda ini tetap melaju
Sepanjang jarak yang dituju
Mata meredup hampir terpejam
Bibirpun mengatup sesekali mengguman
Sebagai tanda harus terjaga

"Ternyata..
Masihlah jauh rebah itu dinikmati
Dari sini .."

Senin, 23 Desember 2013

Bunda..

Di sini..
Aku hanya ingin mengatakan satu hal
Untukmu..
Betapa aku sayang padamu
Bagaimanapun caramu menyayangiku
Betapa aku salut kegigihanmu
Bagaimanapun letih semangatmu menginspirasiku
Dan saat ini..
Engkau bisa menatap harapanmu
Sebagai sebuah persembahanku
Untukmu..
Karena kini aku tlah sepertimu
Bersama segenap rasa dan asa
Menjadi seorang Bunda..

Terima kasihku tak hingga padamu..

- Happy Mothers Day -

jika..

Jika..
"Kemarin" adalah hari ini
Hari ini adalah besok
Dan....
Besok adalah "kemarin"

Maka...
Apakah "kemarin" adalah bagian dari hari in dan besok ........!!??!!

Entahlah...

ekspresimu...

Katakan apa yg ingin kau sampaikan
Mungkin..
Aku bisa belajar darimu
Sebuah notasi
Senandung jiwa
Nan gelap tak terlihat
Terperangkap pengapnya jagat
Dimana..
Aku tak inginkan itu
Untukmu..

Dan..
Sampaikan apa yg ingin kau katakan
Bagimu..
Tiada letih yg tersia
Tak perlu ada airmata
Karna..
Kau tlah rela menitipkan rasamu
Pada langit nan jauh
Hingga waktu merengkuhny
Untukku..
Sebagai EKSPRESImu
Padaku..

warnamu..

Ketika hanya hitam putih sebagai warnamu
Masih inginkah kau mencari pendaran warna lain?
Di sekelilingmu..
Deretan warna-warna yang menggoda rasa

Sesaat kau jauh menatap
Melintasi batas pemikiran raga
Merayu diri sendiri
Tuk meraih warna salah satunya
Namun..
Kian pudar saat tlah terengkuh
Mendekatimu..

Ketika hanya hitam putih sebagai warnamu
Dan itu tlah cukup bagimu
Hingga kau tak perlu lagi berharap
Pendaran lain hadir
Memelukmu..

Selasa, 10 Desember 2013

bersamamu..

Melewatkan gerimis sore
Bersamamu..
Sebuah kemewahan tersendiri
Bagiku..
Lirih angin yang berhembus
Mencoba ikut menyela
Di antaranya
Aku hanya mampu tersenyum
Pada hembusannya

"Jika semilirmu menyejukkan jiwa,kemarilah!
Tapi..
Jika anginmu hanya bisa menyapu dingin kullitku,enyahlah!
Aku tak inginkan itu.."

Dan aku tetap di sini
Melewatkan gerimis sore
Mengulang kembali sketsa hati
Yang tlah terlalui
Bersamamu..

Rabu, 04 Desember 2013

cinta..

Pada labirin hati ini
Aku mengadu
Mengapa lekuk pesonamu menawanku?
Dan aku masih di sini
Menunggu
Rasamu menggugat rinduku
Dengarlah!
Aku yg tlah terantuk lara
Belajar lagi mengeja cinta
Darimu..

'Cintaku tak seindah puisi pujangga
Cintaku hanya deretan rasa sederhana'

Mungkin..
Mencintaimu menjadikanku gila
Dan aku rela
Menggilai cintamu
Menggilai hatimu
Karena padamu..
Ku tlah terlanjur JATUH CINTA

sebuah cerita..

Kupanggil PAGI
Sbagai awal cerita
Begitu SIANG menjelang
Dan..
Disaat SENJA tiba
Ku labuhkan pada MALAM
Meski hati terasa enggan

"Dan MALAM tlah merayuku
Tuk berada di dekapny
Dan MALAM tlah mencumbuku
Tuk menyambut mimpiny
Hingga ku terlena.."

Kupanggil lagi PAGI
Sbagai awal cerita
Entah SIANG berkata apa
Entah SENJA bagaimana
Dan..
MALAM masihkah tetap sama?

Seperti PAGI ini,awal cerita akan bermula..

tentangmu..

Dan..
Tinggallah napasmu dalam kesenyapan
Lukiskan hayalan tingkat tinggi
Luruh..
Letih..
Mengutip lembaran waktu
Begitu segan kau sirnakan semuanya
Tawa..
Airmata..
Terangkum dalam senyum
Kerinduan

Jika jarak bukanlah tuk ditempuh
Mungkin..
Kau rela melewatkannya
Namun..
Jika waktu tak hanya tuk ditunggu
Masih juakah kau biarkan itu berlalu?
Kurasa tidak!!

Karena..
Tentangku..
Kau pasti tlah pahami itu

percuma...

Rembulan...
Hanya menggeliat perih
Di kejauhan
Sesekali bias sinarnya
Tertutup awan hitam
Dan membuatnya terdiam
Termangu..
Segan rasanya menyeruak
Meminta sebuah pengakuan
Entahlah...!!!

"Mungkin.....ADAmu tak lebih berarti saat tiba malam hari.."

sebait rindu..

Dear you..
Sungguh rapi saat pagi mengulum senyumnya untuk dipersembahkan kepada senja.. Dan lintasan hari itu membuatku tak bedaya.. Ku terlanjur mendekap lekukan rindumu meski aku tau...tlah kau letakkan rindumu pada nirwana... Di sinipun,hanya tersisa nanar rona matahari....aku tak juga ingin peduli..

Ketika senja beringsut ke peraduan.. Aku masih memandang bilur rindumu dari kejauhan... Jingganya memerah tersenyum tak lagi buram.. Tatapannya lembut namun menikam ... Ku dilenakan!!...

Kepada diam malam akhirnya keletihan meregang rindumu ku rebahkan.. Bersamamu.. Bersama kenikmatan alam yang semakin mendayu... Bagai sebuah renjana tanpa kata...

tak tahu..

Ketika airmata hanya sanggup tertahan
Untuk sebuah rasa
Haruskah ku masih pinta kau memanggilku
Cinta?
Sedangkan hatiku tak ingin ingkari
Atas adamu saat ini
Mungkin peduli apa juga kau atas adaku?
Alur mana yg akan kau beri untukku?
Entahlah..

Dan..
Bila airmata tlah tertumpah
Masihkah ku bisa dengar darimu
Gaung sayang suaramu memanggilku
Cinta!
Ataukah kurapatkan hatiku
Tak temui adamu lagi
Di sana

malam

Mengurai pekat malam
DenganMu..
Helai demi helai artiku
BersamaMu..
Terhampar pada kenyataan
MengingatMu..
Dan..
Kali ini..
Dalam pekat malamMu..
Tak pernah asaku berujung
Tak mampu letihku berlalu
Tak henti rajah teredam
Hanya gelap..dingin dan sepi..
Terpojok lagi
Menunggu pagi..

"Begitu pekatkah malamKu hingga kau sayang bila harus terlewati sendiri??
Memang..
Masih begitu gelap..dingin dan sepi.."

tak peduli

Keinginanmu tlah terkunci oleh kata toleransi...
Pada siapa kau berkeluh selain padaNya..
Nanar kau jauh memandang tuk melepaskan keegoisan..
Tak peduli lagi maumu
Aah...
Tlah terlanjur kau buang jauh hatimu
Hingga tak sanggup berkehendak lagi
Hanya diam..
Menikmati sendiri melodi hati
Yang kau selalu cipta..
Sebagai keindahan jiwa
Dan..
Kau semakin tak peduli
Pada dirimu sendiri..
Aahh...

Rabu, 06 November 2013

cukuplah..

Tak ingin kubagi
Padamu..
Karena bagiku
Cukuplah!!
Adamu di sini
Menemaniku bersama waktu
Tak ingin pula ku minta
Darimu..
Karena untukku
Cukuplah!!
Senyummu di sini
Melukiskan yang terjadi
Dan..
Jangan sekalipun bibirmu
Mengulum perih sendiri
Karena..
Ku tak pernah rela..!!

sayang itu..

Membelaimu
Di ujung keinginanku
Begitu mustahil
Terdengarnya...
Ku ragu..
Ku bimbang..
Ku tak tau..

"Dan tanganku tetap padamu
Dan mata kupejam selalu.."

Kau yakinkan..
Kau katakan..
Anganmu tak lepas dariku
Ingatmu begitu mengikatku
Kau berikan..
Rasamu rela mencumbuiku
Dan...
Kau janjikan..
Seluruh nadimu hanya untukku
Tanpa ada kecuali..

kosong..

Senyap..
Sesekali ombak berdebur
Semakin lirih menjauh
Mengapungkan anganmu
Menyusuri mimpimu
Entah akan dibawa kemana..
Bersama sejuta harapan baru
Di antara jengah juga lelahmu
Dirimu hanya mampu terseok
Memuja keinginan sekeping hati
Tuk bertemu..
Dan bertemu kembali
Namun...
Adanya bagimu
Tiada lagi selain menunggu..

di sini..

"Dengan senyuman
Ku sapa pagi
Agar kau bisa percaya
Aku tetap di sini
Dan...
Pada lintasan waktu
Ku bertahan dalam rindu
Letihnya juga tlah kau pahami..
Hingga tak tersia
Juga di sini..."

Selasa, 29 Oktober 2013

pada-Mu..

Pada-Mu..
Ku tulis segenap asaku
Seperti juga malam ini
Meski ku harus terdiam
Pejamkan rasa..
Kau dengarkanku lagi
Lewat angin yang menyapa lirih
Dalam jiwa rapuh ini
Dan..
Pada-Mu pula..
Ku torehkan barisan rindu
Ku bermunajat cinta
Ku dendangkan sanjungku dalam doa
Sepanjang dawai pekat malam lelap
Ku hanya inginkan ada-Mu..!!
Di sini..
Bersamaku dalam diam
Menikmati berlalunya malam
Bisakah...???

kamu..

Ketika TERIK ini INGIN menyapamu
Menggilai tubuhmu
Mengagumi parasmu
Aku tau..
Kamu akan balas padany
Dengan lambaian tanganmu
Penuh isyarat
Bukan INGINkan dia menjauh
Tapi..
Mencoba mengerti
Juga memohon teriknya menjadi teduh
Keluhnya berubah luluh
KARENA aku tau
Itulah kamu..

TERIK bukan penghalang bagimu tuk selalu menCUMBUi waktu
Dimana..
Aku INGINkan kamu ADA
Kamu PASTIkan..
Di situlah kamu berADA

sapamu..

Mengulang..
Pada EJAAN yang sama
Di setiap PAGI
Untukku...
Bukan hanya pemanis bibirmu
Namun..
Ungkapan dari RASA tulusmu
Sebagai AWALmu meniti hari
Hingga berubah SENJA
JAUHlah kau harus berada
Seperti juga PAGI ini...
Mengulang...
Pada EJAAN yang sama
Dan kecupan hangatnya
Sungguh........aku SUKA!!!

cinta..

Cinta adalah kejutan..
Di mana kau tak pernah tau hadirnya tapi akan merasakannya seketika
Cinta adalah bara..
Di mana kau tak pernah lihat apinya tapi jiwamu bisa terbakar karenanya
Cinta adalah sunyi..
Di mana kau hanya tau saat jauh darinya serasa putaran bumi berhenti
Cinta adalah rindu..
Di mana kau sanggup menahan kantukmu hanya karena selalu ingin mengingatnya
Cinta adalah cemburu..
Di mana kau akan palingkan wajahmu saat dia sedang mendua dengan waktu
Cinta adalah kenangan..
Di mana kau hanya ingin putar ulang eleginya sebagai pengalaman
Cinta adalah indah..
Di mana kau akan selalu ingin dan ingin sepanjang napasmu berada bersamanya

"Bila cinta sebagai bahan bahasannya
Maka...
Bukan lagi bibir yang berucap
Tapi hati yang lantang berbicara"

untukmu...

Ku cumbu pendarnya waktu
Ku kecup kuatnya keinginan
Ku labuhkan liar hasratku 

Padamu...
Bersama lalunya angin yang dingin
Dan..
Hebatnya raungan matahari
Perlahan berangsur luruh
Melemah..
Aaahh...!!!
Nikmatilah,Sayang..
Rengkuhlah...!!
Untukmu,semua ini ada
Hingga tiada ingin tersisa...

rindu..

Jangan katakan padaku
Tentang RINDUmu..
Bukan aku tak mau dengar
Bukaan...!!
Aku hanya tak inginkan
Rasa RINDUku sendiri akan menuntutmu
Berada di sini
Bersamaku...
Tanpa selaan sang WAKTU
Tanpa ocehan penat kesibukan
Dan di sini...
Hanya bicara hebatnya RINDUmu
Padaku...

Namun....
Pada akhirnya jua
Aku tetap menunggu
Dengan HATI yang meRINDU..

egois..

Aku hanya bisa bertanya
Padamu..
Tanpa sanggup mendengar
Jawabnya
Karena aku pastikan
Apapun yang terdengar
Ku inginkan seperti mauku
Bukan maumu
Maafkan aku..
Untuk kali ini saja
Aku tak mau mengerti
Tentangmu..
Dan untuk masalah ini juga
Aku tak mau pahami
Karena...
Telah terlanjur jatuh hati
Padamu..
Maafkanlah.....

Minggu, 13 Oktober 2013

tentangmu..

Tentangmu..
Seperti aku selalu inginkan pagi
Juga aku indahkan rebah senja
Tiada lelah kuberharap
Menuju pagimu..
Mencumbui sang waktu
Dan..
Masih tentangmu..
Aku rela mengiba pada pagi
Tak bosan tuk menunggu
Juga meminta padamu..

"Diamlah sejenak!!
Di sini...
Bersamaku..
Menikmati hangatnya pagi
Sehangat pelukmu untukku
Pagi ini ..."

kangen..

Maka...
Tak ada kata lupa
Tak ada kata bosan
Tuk kesekian kalinya
Tersenyumlah selagi kau mampu
Tertawalah selagi kau bisa
Siapa tau kau temui derai airmata juga
Di situ..di setiap tawamu
Tuk temani hari sepimu
Yang tak perlu dikasihani
Juga tak meminta ditemui
Tertawalah!!
Sepuasmu..
Kau tlah terlanjur pahami
Bila sepimu selalu dimengerti

Miss U...