Minggu, 10 Januari 2016

Ahh Kau ..

Aku menemukanmu
Di antara jalangnya waktu
Dan getirnya rindu
Tak bisa lagi ku beda
Tak juga keliatan sama
Hanya tatapan yang berkilat
Miris begitu menakutkan ..

Seperti saat itu ..
Saat di mana ku menimang rasa
Untukmu ..
Bagimu ..
Entahlah ..
Sahutmu lirih kau merasa
Aku permainkan ..
Aku mengabaikan ..
(Sekejam itukah padamu??)

Seperti saat itu ..
Saat aku menunggu kau ada
Untukku ..
Bagiku ..
Mungkinkah ..??
Bilangan jam telah menjadikan
Kau dalam tatapan
Kau di ujung kerinduan
(Benarkah itu kau dahulu??)

Aku menemukanmu
Dan aku tau ..
Tak ada lagi yang harus dikata
Tentang kita ...

"Degupnya teramat menyakitkan dalam ingatan .. "

Sang Pemuja ..

Kau selalu memuja rasa
Kepada langit kau menghamba
Tiupan lirih angin yang menerpa
Seolah belaian lembut di telinga

Kau terdiam ..
Menikmati rusuh di hatimu
Sehelai demi sehelai kau urai
Nanar matamu juga kau biarkan luruh
Entahlah ..!!

"Apa yang ku inginkan sekarang??"

Doa tak lagi bisa sama
Munajad kini juga telah berbeda
Dan itu ..
"ahh .."
Bukan kau yang memintanya ..

( Kau menggeleng tanpa daya .. )

Kau tetap memuja rasa
Kepada langit kau menghamba
Kali ini ...
Kau tak akan peduli lagi
Pada hatimu juga rasamu
Kau cakari kenangannya agar lenyap
Kau cabik kebencian dengan sangat
Kau meraung ...
Menangisi riuhnya sepi
Mengingkari apa yang telah terjadi

( Dan kau menggeleng sekali lagi ... )

Lunglai kini ingatanmu
Memupus halus lusuhnya kenyataan
Di mana kau tak punya lagi pilihan
Untuk sekedar kau genggam ..

( Gelenganmu melemah akhirnya menghilang .. )

Yaa TUHAAN ....

Jumat, 01 Januari 2016

Maafkanlah ....

Rembulan menengadah pada malam
Memuja perihnya kenikmatan bintang
Di antara sempitnya saat
Dan letih yang hinggap

Derai hujan merubah angin menjadi dingin
Ketika malam mulai menjelang
Rembulan masih juga gagah tengadah
Tanpa lelah ..
Mengutipkan rindunya yang sederhana
Dari pemujaannya pada rasa

" aku tau, indahmu pada nirwana tak tertandingi saat malam hari
aku juga tau jika awan kadang belagak nakal
Namun ..
Aku bisa pahami semuanya ..
Pendaran rasa yang kau punya
Melebihi indahku saat purnama .. "

Rembulan menatap langit semakin kelam
Menyembunyikan resah dalam senyuman
Lirih ia berucap pelan
Ketika indahmu tersisihkan

" maafkanlah .. "

I Love You ..

Senin, 30 November 2015

Rasamu cemburuku ..

Sulur rasamu semakin mengakar
Menjadikanku tawanan indah
Dalam cinta yang kian merajah
Dan rindu yang semakin membelukar

Aku tau ..
Kalimat cemburumu kadang tercekat
Meraung minta didengar
Meronta mohon perhatian
Namun seketika lenyap
Karena rasamu ingin bukan sesaat

Kau juga harus tau aku ...
Jika akar rasaku telah bertunas
Menunggu dekap letihnya menghempas
Sesekali merunduk menahan kelu
Bukan kesal ..
Bukan pula sebal ..
Rasamu tlah membawaku pada cemburu
Cemburu yang jatuhnya berujung rindu ...

I love you .. ( 011215 )

Sabtu, 17 Oktober 2015

Kau di sini ..

Aku inginkan kau di sini
Namun itu tak mungkin ..
Bagai mencari jarum dalam jerami
Dan aku tak rela ...
Jika kau sibuk memilahnya
Sementara aku justru kau abaikan
Dalam barisan bosan tak terelakkan ..

Jerami itu bukan aku!!
Aku di sini ..
Dan kau juga harus di sini
Meski itu hanya siluet imajinasi

Tetaplah di sini
Atas maumu ..
Tanpa merajukku ..
Tanpa harus kupinta
Ataupun aku tunggu ..

Love u ... <3<3 ...

Rabu, 14 Oktober 2015

Rinduku padamu ...

Senyum ini tak habis terlukis
Meski suara tak lagi terdengar di telinga
Mata ini tak juga bisa sembunyi
Benarlah adamu ku harap di sini
Aah kamu ..
Di mana lagi aku mencari kosakata baru
Agar kau tau binar keriangan ini
Karenamu ....
Agar kau bisa merasa juga
Gelisah yang menerpa
Saat tanpamu ....
Adakah pengecualian untukku dalam waktumu?
Hingga tak akan ku sisakan sedetikpun
Tanpa barisan kata juga suara
Darimu ..
Denganmu ..
Ku nikmati dunia melebihi kendali
Ku cercap madu surganya itu sendiri

"Aku tersenyum dalam ingin .. "

Jika kau sanggup teriakan rindumu sekerasnya ..
Aku pastikan padamu setegas jera
Jika aku mampu memeluk pekikmu
Hingga kau sendiri tak akan mendengar lagi
Rindu yang kemarin menunggu

Kini ....
Aku tlah bersamamu kembali

Love u ....

Sabtu, 10 Oktober 2015

Senandung rindumu adalah aku

Ketika bait rindumu harus berjeruji
Menyapamu dalam sepi
Kepakan logika yang kau punya
Hanya bisa sembunyi terdiam
Abaikan keinginan bermanja
Padaku saat ini ..

Ku letihkan lagi hayalanmu
Mungkin ..
Sebagai balasan dari angkuhku
Merindumu ...
Seperti pusaran hati yang lirih
Memujamu ..
Tanpa aku ingin peduli!!
(Benarkah ...?? Omong kosong ..!! )

Diamlah karenaku ..
Membusung dan belagak melupa
Untuk kesakitan yang nikmat
Dan rindu yang sesak teramat
Sungguh ..
Kau harus tau itu ..!!
Jika aku juga sama ..

Dalam barisan ketidakbedayaanku
Dalam deretan kemunafikanku
Masih ada kata antara
Antara kau dan aku ...
Menyanjung sepi menjadi belukar cinta
Memuja perih dengan senyum terkulum
Entahlah ...
Buangan mana yang akan kita pilih
Saat warna sedikit beda
Sebab kau akan selalu berkata
Jika setitikpun tak ada yang bersisa
Untuk dibagi meski itu pada napas kita
Tak akan ..!!

Cintamu ..
Rindumu ..
Ketakutanmu ..
Kecemasanmu ..
Keindahan dan cemburumu
Hanya akan bisa bersimpul satu
Dan itu adalah aku ..

Love u ....

Rabu, 09 September 2015

Toleransi

Nyaman itu adalah kondisi di mana kau merasakan segalanya tak ada pertentangan, perdebatan dan kesesuaian, keselarasan dalam setiap gerak tubuhmu dengan yang kau inginkan.

Toleransi itu adalah kondisi di mana kau bisa menerima apapun bentuk semua perlakuan, perkataan, sikap, kehendak yang tertuju padamu tanpa peduli hatimu sendiri.

Kenyamanan itu soal toleransi .. Sebesar apa kau bisa terima untuk kau selaraskan iramanya hingga tercipta rasa nyaman itu ..

Hanya orang-orang berjiwa besar yang akan terlatih mentolerir, bukan malah minta ditolerir ..

Ingett ..... !!!!!

Rasakanlah AdaNya dalam ketiadaan ...

Yaa Allah ..
Yaa Allah ..
Yaa Allah ..

Perlahan kau menghela napas agar bisa nikmati udara segar ciptaanNya tiada henti. Tiap saat .. Tiap waktu .. Tiap kau merasakan nikmatNya seolah terhenti. Mengapa??? Karena bagimu, hal paling sederhana dari anugerahNya adalah kenikmatan atas udara yang tiada batas selalu tersedia. Allahu Akbar ...

Kau hela napas sekali lagi. Memandang ciptaanNya yang lain, mendengarkan kegaduhan di alam semesta, mengucapkan kalimat demi kalimat hingga terangkai baitan doa dan merasakan berbagai gejolak jiwa .. Sungguh perpaduan yang membuat semua berdecak kagum. Luar biasa ...

Alam begitu pengertiannya mendefinisikan maumu, bagaimana dengan Dia?? Merasakah kau?? ... Dia begitu menyayangimu tanpa menuntut perlakuan sebaliknya. Dia memberimu perpaduan antara akal fikiran dan alam menyempurnakannya dengan kelengkapan proses menuju tujuan. Masihkah kau menuntut ketidakadilan pada jiwa, sementara kau sendiri tau ini lebih pada kekosongan perasaan??

Entahlah ...
Entah ..!!

Kau bungkam tiada jawaban. Mencoba telusuri lagi kolong-kolong hati yang berdebu. Inginkah kau lewatkan debunya dengan mengabaikan sebuah keberadaan ?? Aahh ...

Teriakkan rasa itu semaumu sekarang ...!! Akhiri dengan mata jiwamu saat terpejam, pandanglah sejurus ke depan, bayangkanlah jika kau sedang berada di awan bersama bidadari tercantikmu dan buatlah iri setiap insani dengan irama lembut gaung yang menggema disela-sela kau menata hati untuk seseorang yang kau kasihi ..

BersamaNya .. Kau tak kan lagi merasa sendiri

Yaa Allah ..
Yaa Allah ..
Yaa Allah ..

Senin, 31 Agustus 2015

Cemburu

Ketika kau "berteman" dengan kata cemburu ....

Menikmati dingin pagi itu adalah menepuk embun yang bersembunyi di antara dedaunan hingga basah telapak tangan ini. Riuhnya suara cuitan burung membuyarkan gambaran jika pagi itu sepi. Dan perlahan matahari mengintip seperti matamu yang pelan membuka kelopaknya karena hari tlah berganti. Indah ... Kata itu sebagai kesimpulannya.

( Masihkah aku cemburu pada indahnya pagi?? )

Kau tau, pagi itu selalu indah .. Selalu membuatmu terpana .. Terpesona .. Tuk kesekian kali pun kau bertemu dengannya, masih juga kau kagumi pagi. Indah ..
Di manakah indahnya?? Rasakanlah saat pagi menyapamu. Saat di mana kau masih bisa bertemu lain hari .. Saat napas yang kau hirup masih beraroma syukur meski terucap dalam hati. Adalah keindahan itu yang tak terganti ...

Dan waktu ..
Kau ingin mengelak agar aku tak berpihak pada waktu dan akan memilihmu, menempatkanmu sebagai seorang raja atau ratu... Kau tau ... Tak seharusnya kau inginkan itu. Menyodorkan pilihan yang membuatku termangu. Karena, aku sebenarnya tak hanya akan lebih memilihmu ataupun menempatkanmu sebagai raja atau ratuku ... Namun, lihatlah!! kini aku telah bersamamu melewati berulangnya waktu.

( Masihkah aku cemburu pada pilihan yang bernama waktu ?? )

Tak semestinya ..
Tak seharusnya ..

Indahnya pagi dan guliran waktu adalah bagian kecil dari irama hidupmu atasku. Hidup yang kau punya, aku punya .. Hidup kita. Menikmati indahnya pagi tanpa keberadaanmu di sini bukan sebagai hari yang sendu. Dan melewati pacuan waktu berbeda suasana juga bukan alasan kau lebih memilihnya daripada aku. Bukan ..!!

Abaikan kata cemburu ... "Berteman" lah dengannya sebagaimana kau selalu bersyukur masih diberikan indahnya pagi dan kebersamaan berulangnya waktu dengan tambahan balutan rasa toleransi.

Love u ... (010915)

Jumat, 31 Juli 2015

Indahnya senja ...

Aku memandang pesonamu, Senja
Dalam sinar lembayungmu
Bukan untuk mengiba
Apalagi memintamu tinggal
Tidak ..!!
Aku hanya ingin mengagumi
Menikmati hangat jinggamu
Ketika malam akan datang menyambutmu

"Begitu lugas kau berkata
Begitu lepas kau menyapa"

Tertawan aku karenamu
Tertambat erat oleh pelukmu
Seolah tak rela aku berbagi
Pada langit ataupun juga bumi
Meski aku sangat mengerti
Adamu jauh melebihi logika hati

"Begitu indah kau tersenyum
  Begitu gemulai saat lambaianmu terayun"

Di setiap helaan napas ini
Sejenak dalam pejaman mataku
Dan sesaat di mana kesadaranku enggan kembali
Gumammu lirih terdengar dari sini

"Aku telah bersamamu kini
Kau bisa menertawakan matahari
Mencibir bulan ..
Mengedip pada bintang
Seluas hamparanku ...
Sepuas yang kau mau ... "

Namun ....
Gelengan yang mampu aku lakukan
Sangkalan satu per satu aku biarkan
Berbisik senada dengan gumammu tadi
Dengarkanlah ... !!

"Aku memuja hadirmu, Senja
Tak hanya sebatas lukisan di mata
Menginginkanmu tak sekedar hayalan dalam nyata
Karena ...
Adamu adalah keajaiban dari seluruh rasa
Yang akam selalu berulang
Tiada ku pernah bosan ... "

Love u .. ( 010815 )

Rabu, 29 Juli 2015

Aku mencintaimu ..

Aku mencintaimu .. ( dalam senyap sekalipun )




Huruf demi huruf tertata sedemikian rupa, bagai barisan rapi dengan sesekali terpisah .... terpenggal jarak yang sama, berhiaskan pernik titik dan koma. Tapi aku masih saja mengeja, meski aku hafal hurufnya satu persatu. Bukan aku tak bisa membacanya ... aku hanya takut salah memahami tiap katanya hingga aku harus perhatikan lagi detailnya ... tak ingin ada yang terlewatkan ... tak mau ada yang terabaikan ... karena dari hurufnya aku bisa mengeja nama, dari katanya aku bisa mengeja cinta ... dan dari kalimatnya aku bisa mengeja rasa ....

Yaa ...... rasa yang aku ingin kau merasakan juga .....  bagaimana aku tuliskan perlahan bait-bait indahnya. Dan aku juga akan memintamu untuk temaniku berkisah. Kisah di mana hanya kau yang sanggup merangkainya ..
Sesungguhnya .. ... ini adalah tentang kisah kita ....




Ingatanmu masih belum puas membalik lembaran-lembaran lusuh di otakmu. Sesekali kau menarik napas panjang dan pelan kau hembuskan lagi seolah tak ingin terlihat bila kau membuangnya dengan enggan. Angin sore menggodamu dengan permainkan anak rambut yang tergerai. Kau tak merasa terganggu sedikitpun. Terlebih pada seseorang yang berada di sampingmu. Hanya diam.... Mengikuti sikap yang kau tunjukkan.

Pikiranmu tengah asyik sendiri menelusuri jejak hati yang bilur-bilurnya ingin kau urai sesegera mungkin sehingga kau merasa harus kembali beradu dengan kenangan.

Dia terdiam sengaja membiarkan  .....




" Aku mencintaimu ......"

Guratan kata yang kau dengar begitu indah nadanya saat itu. Nada yang bisa dipastikan merdu bagi setiap orang yang mendengarnya. Nada yang berupa bisikan dari surga dengan kesempurnaannya. Benar-benar tampilan yang mengagumkan. Adalah saat yang tak ingin terlewat dan waktu yang tak ingin berganti. Yang ada hanya kau dan keindahan .



Namun waktu selalu melaju, tak akan pernah berhenti seperti maumu, apalagi berdiam menunggumu. Bahkan lajunya bisa melebihi dari yang kau perkirakan. Cinta ... Selalu kau agungkan. Karena bagaimanapun, Cinta itu selalu indah. Itu yang kau yakini sampai detik ini.


" Apakah masih seperti itu arti keagungan nilai cinta bagimu? "

" Apakah nyanyiannya masih mampu ku alunkan untuk merayumu? "




Dengungan kata itu tiba-tiba menyeruak masuk dalam hatimu, menderu .. dan perlahan melirih.

Buluh berdengung mengajakku menari, menelanjangi awan yang selalu sembunyi. Aku mau tapi aku malu.. Bagiku, kau adalah keindahan dan aku?? hmm ....





Sejurus kau menoleh dan dia masih duduk terpekur di sampingmu. Tatapannya juga masih lurus ke depan. Begitu kelu dan penuh rasa kasian.
Kasian?? Aah .... !!  Kata yang sering kau singkirkan untuk memaknai satu sisi keadaan. Dia masih setia. Masih dengan tatapan yang sama,  menunggumu atas keputusan yang kau inginkan.


" Yang aku inginkan .... ?? "

" Tidaak ..... !!"


( Keegoisanku semakin meraja. Inikah yang aku inginkan?? Menjadi pemenang dalam lintasan cerita. Mengambil alih sebagai tokoh utama dalam sebuah kisah cinta???  )


" Tidaaak ..... !! "

" Itu salah ... salah besar .. keliru !! "

" Mana kata toleransi itu?? "

" Mana ... ?? "

" Maafkan aku .... maaff !! "


Otak aku letakkan agar tak jauh berjalan, benak aku bereskan agar tak terisi macam-macam, tentangmu .. Ku lafaldkan cinta dan rindu hingga aku tak akan mampu.



Guratan kata yang kau urai akhirnya sampai di sini. Di mana hamparannya tak selembut sutera, tak sesegar rumput bola, tak sewangi taman bunga, tak seindah nirwana. Guratan kata dengan pinggir kasar dan sedikit bergelombang permukaannya. Lebih terasa bila dipegang karena kerikilnya sedikit tajam.


( Guratan kerikil kehidupan ......)


Dan bagimu, guratannya tetap ingin kau nadakan cinta. Tak pernah ingin ada kesumbangan irama di sana. Tak juga akan tertukar dengan nada lainnya. Hanya satu nada, yaitu cinta. Mungkin, kau harus mendengarnya dengan seksama agar tahu nada cinta yang mana yang selalu ingin kau dengar. Terkadang nadanya memang tak sesuai maumu, namun kau tetap bisa menikmatinya karena kau hanya (merasa) punya satu nada. Dan itu akan menjadi nada satu-satunya.




Tiba-tiba kau memeluk seseorang yang berada di samping dari tadi. Seseorang yang menemanimu memutar ulang kisahmu dengannya juga. Kau merapatkan pelukanmu seolah meminta kehangatan dari tubuhnya. Seperti senja yang tak ingin sembunyi dari matahari.
Dia terperangah menyambutmu dan berusaha mengikuti maumu. Kau tersenyum padanya. Senyum paling manis yang ingin kau lukis di bibirmu sepanjang hari ini. Senyum yang ingin selalu kau persembahkan kepadanya. Senyum yang indah ... Dan akan tetap kau pelihara agar indah selamanya.


( Andai saja kau tau jika dia tak hanya tersenyum lega memelukmu ..... ada butiran bening yang hangat merembes di sudut matanya .... )



" Aku  (tetap) mencintaimu ....... "


..................... meski dalam senyap sekalipun ......................






Ketika kau menjadikan senyapmu adalah melodi cinta dan rindu .... Rasakanlah jika degupnya tak hanya berhenti di sini, di saat kau dengar ungkapannya untuk pertama kali .... Pastikan getarnya tak juga berhenti hanya di sini, di mana kau memetik dawai rindu itu tidak sendirian, Dan percayakan letaknya tetap pada tempatnya, yaitu di kelapangan hatimu yang terdalam.
Cintamu akan merubah senyap itu sebagai rasa yang tak berkesudahan dan akan selalu menyanjungmu habis-habisan ....







( Jakarta, Juni 2015 )

Dear You

Dear You ...






"Dear You,
Ku tulis catatan ini untuk menemuimu lagi. Seperti waktu kemarin-kemarin. Entahlah ... Aku sendiri juga heran, mengapa harus dengan begini kita bicara. Ataukah jejeran kilometer jarak yang tak hingga memisahkan sebagai alasannya? Ataukah kau sendiri yang memutuskan cara tepat mengurai rindu kita? Entahlah .. Padahal tulisanku ini pun juga tak bisa kau baca. Benar-benar tak aku pahami sejauh ini. Aaah ... Sudahlah !! Aku lagi tak ingin berdebat soal ini, yang aku inginkan .... kau bisa mengerti tentang arti rindu ... juga merasakannya. Seperti yang aku rasakan saat ini .... "




"Saat ini ..... "


Perlahan kau menutup notebook setelah mematikannya terlebih dahulu. Merapikannya dan memasukkan ke dalam tas. Sejurus kau tolehkan kepala ke jendela sebelah kanan dan memandang senja yang berbatas tipis dengan malam. " Malam akan datang lagi," gumammu tanpa sadar. " Malam akan menemaniku lagi. Seperti waktu kemarin-kemarin," kau meneruskan gumammu.



"Dan aku ..??"

"Di mana aku .. ?? "





Tak terasa senja benar-benar telah meredup, malam ingin secepatnya menggantikan kedudukan senja. Tampak kerlipan lampu-lampu taman seberang parkiran semakin membuatmu larut dalam ingatan tentangnya. Pada sudutnya, kau tengah duduk menikmati pergantian senja berteman dengan imajinasimu sendiri. Imajinasi yang nyata ingin kau hidupkan.



"Aku bungkam tak menghiraukan .... "




Kau telusuri lagi elegi cintamu itu. Mematik kenangan yang tlah berlalu. Entahlah ... semakin kau mengelaknya, tentangnya seolah begitu nyata terpampang jelas bersamaan dengan langkah kaki yang kau arahkan untuk menjauh. "Aku harus bagaimana?" usik hati kecilmu yang terkadang ikutan protes jika kau tampak mengabaikan keadaan. Kau menggeleng tanpa sengaja. Ada sebentuk penolakan namun tak kuasa kau lakukan.




"Dear You,
Mencintaimu dalam diam ... Entahlah apa yang kau rasakan, di sini sembilupun siap menyayat hati .. Kau tega !! Lepaskan panahmu pada sunyi tanpa peduli .. Aku terkapar !! dan kau hanya tertawa menusuk telinga .. Tidakkah kau punya hati ?? ataukah aku yang keliru mencari jarum pada tumpukan jerami ?? "




"Aku masih juga bungkam mengabaikan ..."





"Saat itu ..... "

Dia mencarimu. Menanyakan keberadaanmu. Menyanjungmu dengan kata-kata indahnya. Mencandaimu dengan cerita-cerita konyolnya. Memintamu bersabar jika keluhan datang, mengajakmu lomba menghitung bintang jika senyummu hilang. "Adakah yang lebih indah lagi dari sebuah kebersamaan??" kau mendesah. "Ataukah aku telah melewatkanmu seketika?? hingga layumu saat ini yang harus aku terima?? juga senyapmu yang menungguku jika malam tiba?? .....  Kau terlalu !! Tak bolehkah aku menemanimu ?? Bersama kita menikmati deru mesin yang berkeliaran tak jelas suaranya dari sana ?? ...





"Dear You,
Pujangga cinta bercerita .... jika layu hatinya karenamu, aku tak percaya dia ,,, Tidak !! Sebab aku bisa mencari adamu dengan hatiku, namun tidak dengan dia ..  Bahkan, menerka arti linangan airmatamu bisa jadi berabad ku lakukan jika dibandingkan mengartikan seulas senyuman di sudut bibirmu, apalagi dia yang tak mengenalimu??!! hmmm ... Kau jangan percaya .... Dia pembohong besarr !!! .."



"Aku juga rindu .... (akhirnya ku akui ... )"

"Aku sangat kelu .... (rintihku padamu ..)"

"Dengarkanlah, Sayang ...!!! ( bisikku lembut .. )"




Malam melarut dalam hening tak bergeming .....

Kau tersentak dari kenikmatan menyusuri ribuan angan tentangnya. Tanpa terasa malam telah menemuimu lagi. Bersama sepinya, gelapnya, sunyinya juga dinginnya. Enggan kau beranjak dari dudukmu dengan menahan jatuhnya butiran bening dari sudut matamu. Seperti waktu kemarin-kemarin, kau ingin sembunyikan semuanya darinya. Namun kali ini kau tak sanggup. Rindumu .... Cintamu .... Sayangmu ... Kasihmu ... Berhenti dalam sunyi. Senyapkan semua bersama alirannya.



Biarkanlah .. !!





"Dan aku hanya mampu memandangmu dari kejauhan alam pikiran .... "




"Dear You,
Ijinkan aku menangis, tangis dengan notasi kerinduan, tangis yang hanya bisa kau pahami dengan penggalan hatimu di sini ... Aku tau, kau telah menamaiku Rindu dan aku selalu memanggilmu Cinta ... Mengertilah .. Jika basahnya mata ini karenamu, begitu kuyup mencari sisihan waktu di ujung lelap keberadaanmu .. "








( Jakarta, April 2015 )