Minggu, 27 November 2016

kisahmu tentangku

"Desiran malam mengulum rindu Dinginnya .. Gelapnya .. Sepinya .. Kau rasakan pun tidak Segan juga kau beranjak
Aku coba untuk membelai malam Agar rindunya terpuaskan Agar aku bisa dekat denganmu Sebagai balasan dari indahnya senja masa lalu ... "

Ketika aku harus bertemu denganmu bukan tanpa sengaja, .. pertemuan yang memang aku harapkan sejak lama. Sejak terakhir kau berkunjung di tempat kita dulu biasa bertemu. Aku memandangmu lekat-lekat seolah tak percaya. Di depanku kau hadir dengan celoteh khasmu. Dan aku takjub bisa bersinggungan pandang denganmu di sini. Adalah sang waktu telah begitu baik padaku, dalam hati ku katakan itu.
Terlintas lagi bagaimana waktu juga yang telah mengajarkanku mengenal sisi lain dari kata cinta, yaitu pengorbanan. Aah .. bukan juga, terlalu naif dikatakan pengorbanan. Aku masihlah punya banyak keinginan. Mungkin lebih tepat jika meminjam istilah yang kerennya saja ... cinta sendiri ... hehee ... mungkin begitu istilahnya .. iyaa ... mungkin .. sebab saat itu, aku tak ada keberanian untuk mengatakannya. Dan waktu sungguh berjasa, selalu saja mengingatkan apa yang ingin aku lupa. Semakin aku berusaha menjauh semakin pula semua menempel dengan gagahnya di kilasan balik hati ini.
"Kau menoleh tanpa senyuman Melihatku di kejauhan Ku hampiri dan mengajakmu menari Masihkah kau tak bisa luapkan isi hati??
Ketika malam semakin temaram Kunang-kunang berkedip sengaja mengisyaratkan Rindu ini belumlah sirna Hanya dalam seuntai senyuman ....
Bagaimana caraku utarakan tentang rasa??"

Kembali aku punguti satu persatu peristiwa hidup yang bermuara padamu. Iya ... padamu. Tak ada sebab lain lagi. Hmm .. mungkin kau tak mempercayainya, tak mengapa. Sebab aku hanya ingin kau tahu tanpa berharap kau mempercayai. Dalam hidup, kau bertengger di urutan pertama sebagai alasan terbesarku berubah dan merubah hidup. Kau dan rasaku adalah kenyataan yang aku anggap mimpi indah hingga membuatku tak ingin terbangun. Tapi aku sadar, jika kau tetaplah akan berlalu sebagaimana waktu membawamu. Benciku pada waktu yang hanya meninggalkan bayangmu saja. Masih terasa perihnya ....

Dari sebait goresan penamu yang tanpa sengaja ku temukan di selipan buku pinjaman, aku semakin yakin untuk berjalan. Ingin aku buktikan jika apa yang kau tulis kurang tepat. Aku berharap akulah sebagai bukti nyatanya.
“Tentangmu, aku tak main-main”, gumamku.

Aku mencari diri, mencari apa yang aku mau .. mencari apa yang aku rindu .. bila kau berada di ujungnya, haruskah aku berhenti? Ataukah aku berjalan lagi? Ku akan teruskan pencarian hingga aku benar-benar pahami bagaimana hidup ini akan membawaku. Tidakkah kau ingin mengingatkan bila aku harusnya sadar, janganlah pungguk berani merindukan bulan? Sungguh jauh dari pandang ... “

Sejurus aku terdiam, kenangan tentangmu berkelebat sangat hebat. Memaksaku untuk memberanikan diri menatapmu. Kali ini aku tak ingin kau porak porandakan lagi hatiku. Cukup sudah!! Kau harus tahu tentang aku, tentang rasaku juga tentang keberadaanmu di sini.
“Semua harus di akhiri, aku tak juga membayangkan bahkan berharap lebih untuk ini,” lirih aku bicara padamu.

Saat itu .....
Demi inginku kau akui keberadaanku, ku genggam prestasi sepertimu di tempat berbeda. Aku mencarimu di mana aku perkirakan kau ada. Aku menanyakan kabar ataupun bersalam untuk sekedar mengajakmu bicara. Namun, semua tak membuatmu menoleh padaku. Entah kau memang tak ingat, tak ingin atau tak tahu ... Pikiranku sendiri yang menerjemahkannya. Hingga kau benar-benar lenyap tanpa berita. Lenyap?? aah .. Tidak juga, aku tetap mencarimu namun aku semakin tak berani. Jangankan menyapamu, membuat kau ingat aku saja tak sanggup. Aku hanya melihatmu dari kejauhan. Tersenyum sendiri bila kau terlihat ceria, menganggapmu tetap seperti yang dulu aku kenal. Ragu?? terkadang memang berkumandang karena aku merasa tak mengenalmu sekarang.
Dan kau sama sekali tak tahu apa-apa.
“Ataukah aku memang pungguk yang merindukan bulan? Harusnya aku tahu diri seperti katamu dulu?” resahku mengingat kegagalan bukti untukmu.
"Peluk jantungku agar kau tau iramanya, atau akan ku maki pikiranku agar nadanya bisa terdengar tak sama .. Namun apa daya .. Yang terasa tetaplah satu, hati yang selalu tanpa jeda menyanjungmu ..."

Kau terperangah mendengarkan semua. (Aku meneruskan cerita) ... Dari sekian saat yang kau lalui, aku tak tinggal diam. Jangan kau pikir aku seorang pecundang. Semua kulakukan karenamu, karena aku juga menginginkan perhatianmu. Bahkan rasa yang ku punya ini jika kau masih ragu, akan aku persilahkan untuk kau adu sebagai balasannya. Sedikitpun tak pernah aku pungkiri. Aku menyayangimu .....
Perlu jugakah kau tahu seberapa besar rasaku padamu?? Seluas alam rayakah?Sedalam samuderakah?Setinggi Gunung Mahamerukah?atau ... sehebat dan seindah cerita dalam dongengkah?
“Rasa ini hanya seujung bilah pedang, tak tampak bilah tajamnya, tak tampak kekuatannya namun siap sebagai ujung pertahanan pertama .. Rasa ini sehelaan napasmu saja, tak terasa hembusannya, terlihat sepele namun fatal akibatnya .. Rasa yang bukan lagi milikku karena jalan ceritanya hanya berkisah tentangmu ... “
"Rasa yang kau sendiri akan tahu sebagai sanjungan terbaikku untukmu ...”
“Rasa yang aku sendiri tak berhak menghentikannya sebagai sejatinya rasa ... “

Perlahan kau mengalihkan pandanganmu sejauh- jauhnya. Aku bisa melihat sedikit kecemasan pada matamu, kecemasan yang tak aku inginkan terjadi. Aku hanya menginginkan semua berjalan sewajarnya sebagaimana aku kembali bertemu denganmu dan kau ternyata tetap seperti yang aku kenal dulu. Memang ... Rasa yang aku punya tak pernah bisa aku enyahkan, secuilpun. Tetapi aku menjaminkan hidupku bila rasaku sebagai kekuatan melindungimu. Karena ... Rasa itu yang telah menjadikan aku seperti sekarang. Bisa berjalan tegap menatap dunia, sanggup membuktikan jika tak ada yang tak mungkin di sini, dan mampu menjaga keberadaanmu sebagai kekaguman tanpa kau tau sekalipun.
“Dan aku sungguh berterima kasih pada waktu untuk kali ini,” tegas ku katakan padamu.
"Jika aku diperkenankan memilih antara kau dan waktu ... Aku akan memilih waktu.. tanpa maksud mengabaikanmu, Mengapa?? Karena waktu akan sanggup mengantarmu padaku Dan waktu jua yang menjadikanmu selalu ada .."

"Jangan pergi dariku, tolonglah ...!! "

"Mencintaimu saja bagiku adalah hal yang istimewa, mimpi yang tak mungkin bisa terbeli dan harapan tanpa aku ingin berharap sebaliknya .."



( Jakarta, Juli 2016, "seperti penggalan ceritamu padaku" )

 

Selasa, 15 November 2016

rindu 1

Angin membawamu padaku
Mengingatkan resah yang ingin kau sampaikan
Menyulam segarnya nikmat dalam kesakitan
Aku tau ..
Tak seharusnya angin perlu menyapa
Cukuplah basah kerjap matamu yang bicara

" aku rindu ... "
Kau coba rentangkan jiwa dengan enggan
Sedang aku lama menunggu itu
Kau tetap membisu ..
Kau acuhkan aku ..
Mengapa??
Itukah bahasamu saat merindu??
Angin telah menjadikanmu ada
Di antara debu yang berasa
Taukah kau ..
Jika aku tak hanya menintamu ada??
Namun ...
Ku inginkan rindumu itu semuanya
Semuanya ..
Merampasnya dari waktu yang mencekat kita
" aku (benar-benar) rindu ... "
Terdengar lagi desingan angin di kejauhan
Melirih ..
Semakin sunyi dan senyap
Begitu cepat ..
Kau mulai terisak ..

inginku

Inginku tak hanya berjuta koma
Inginku adalah tak pernah titik agar selalu koma
Pada setiap kalimat kisah kita
Meski itu terasa mustahil
Namun aku percaya padamu
Jika janjimu akan kau tepati
Tak harus hari ini ..
Tak cuma senja kali ini ..
Tak inginkan deretan senja kita terlewat begitu saja
Bersamamu ..
Kisah ini tak berbatas seperti nirwana

menantimu

Menantimu di tepian cerita
Aku akan setia ..
Tanpa mengiba sedikitpun
Sekalipun ..
Ku akan nikmati rindu sembilumu
Pada detak napas yang ku bawa
Ku tangisi atau bahkan tertawa
Entahlah ..!!
Tak ingin ku lakukan
Menantimu hanya dalam diam
Kini senyap malam yang menentukan

Selasa, 19 Juli 2016

adamu ...

Dan aku temui kau ..
Di penghujung malam ini
Sebagai tapak yang terbias
Menyanjungku dalam diam namun lugas

Sungguh ..!!
Aku hanya bisa memintamu ada
Kau bahkan berikan jiwamu seutuhnya
Aku meraba sepintas ingatan saja
Kau letakkan seluruh kenangannya

"Mimpikah ini semua??"

Rajukku menahan malam
Agar tak percuma terlewatkan
Hingga pagi juga tak sabar mengintip alam
Masihlah ku ingin timang antara nyata dan angan

Mencarimu ..
Mencarimu ..

Ku terpojok dan termangu
Menggumam pada diri sendiri
Betapa kerdilnya sekeping hati ini berbanding rasamu
Jika logika diharuskan ada

"Seperti adamu selalu untukku .."



---love you---

Senin, 18 Juli 2016

Berlalu ..

Tiada sesal aku pagut
Di mana langkah hati begitu memberat
Aku tau ..

Tak seharusnya ku buka lagi
Kisah yang dulu ku titik sendiri
Dan kamu benar ..
Jiwaku riuh sahut bertutur
Namun bibirku lemah terkatup diam

Entahlah .... !!

Kau tangisi tak juga beranjak
Ku teriaki .. Menolehpun tidak
Hanya kendali rindu menyaruk debu
Menutup kembali lembar demi lembar dan berlalu ....

"Gontai ku berjalan mendekap pilu yang kau gambarkan di sela rasa ketidakadilan .."

Terlanjur ..

Terlanjur aku menamaimu rindu
Di mana aku tokoh utamanya
(Pelakon sejati rindumu juga .. )


Di bait pertama aku memintamu alpa
Bait berikutnya ku lepaskan rasa
Setengah dari kisahnya, aku habiskan dengan tawa kemenangan dalam diam
Dan sisanya tak ingin ku bagi pada siapapun
Terlebih padamu ...
Yang munafik pada bayangku!!

(Satir ku sindir awan agar memunguti kerontangnya ranting kasih sayang ..
Namun sayang ...
Kicauan maafmu tak jua melegakan
Karena aku tau ...
Jauh di sana ..
Kau endapkan lara .. )

Tangismu ..

Menangislah ...
Sebab airmatamu lebih berharga dari kata2 nya
Sebab jiwamu bukanlah penerima persembahan palsunya ....


Jika waktu bisa kembali
Tapi itu sudahlah pasti
Dan aku tak ingin waktu kembali
Mengapa??
Karena aku tau ...
Sejatinya rasa bukan hanya manis di bibir saja ...

Menangislaah sepuasnya .....

Sang Waktu

Ketika kau memintaku menunggu
Di ujung senja aku terdiam
Masihlah sempat ku bermunajat

Sebagai luapan rasamu tanpa tanya

Bila kau tak juga indahkan ..
Tetap busung dada berdiri dengan pongah
(Bagaimana bisa terlewat???)
Torehan perih kekalahanmu saat senja itu
Saat rinduku berbahasa pengorbanan ...
Dan rindumu kau umpatkan pada kemunafikan ...

Kernyitan kecil tak pelak mendandani wajahku ....

"Lupakah kau tentang kehebatan waktu yang sanggup berkisah??"

Percuma ....

"Ku ingatkan kau pada sebuah keniscayaan"

Aku berharap ...
Matahari perkasa itu bisa mencariku
Ketika aku sibuk sembunyi
Ah bukan ..!!!
Aku yakin pada matahari
Pasti sanggup temuiku setiap waktu
Tapi dengan kamu??
Mampukah lakukan itu??
Maaf ....
Aku kira tidak!!
(Mengapa??)

----------------------------
Bukan tak mampu kau kata
Bukan tak bisa kau perbuat
Namun ...
Kau telah melupa bagaimana mengeja sebuah nama
Atau membinarkan kedua mata
Untuk sekedar menatapku ..
Mengajakku menikmati indahnya persembahan senja ...
(Mengapa justru kini aku muak mendengarnya?? )
----------------------------
Matahari meredup ikutan enggan menyapa
Saat goresan lara terantuk sisi lain jiwa
Dan dingin butiran itu tlah berubah menjadi dusta
Dusta yang mungkin tersimpan tak perlu diujar
Ataupun butuh tepuk tangan kebanggaan
( Perlukah di sini aku jelasin lagi tentang 'proses' senja itu harus melewati pagi?? .....
Kau pasti tau jawabannya ..
Tolonglah ... !! )

Kamu ..

Bagaimana aku bisa melupa
Bila sepoi anginmu berebut mengulum jiwa
Bagaimana aku tak akan merindu
Bila alunan senandungmu begitu riuh memanggilku senantiasa
Beragam torehan pena yang ku punya
Tak sanggup mejauhkanku
Darimu ..
Tak mampu meniadakan kuatnya kenangan rasa itu ..

Tak akan pernah .. !!
Dan bila kini aku kembali menyapamu
Inginku detak hari bisa berhenti sesaat
Agar terik akan meredup seteduh jiwa
Agar dingin malam berubah seperti pelukan hangat senja
Bersamamu ...
Aku kini berada
Di antara letihnya rindu dan panjangnya waktu ingin bersua

kisahmu tentangku

"Desiran malam mengulum rindu Dinginnya .. Gelapnya .. Sepinya .. Kau rasakan pun tidak Segan juga kau beranjak Aku coba u...