Senin, 07 Juli 2014

waktu...

Kembali menyusuri lorong waktu
Yang lalu..
Pada gelapnya aku slalu bercerita
Entah tlah kuulang berapa kali
Mungkin sampai kau merasa bosan
Aku tak peduli..
Karena pada waktmu aku berjanji
Melewatkan indahnya pahatan lagi
Dan akan meletakkan hatimu
Di sini...

Dear you...

sajak itu...

Sajak berupa deretan kalimat yang bermelodi
Dan kamu adalah salah satunya..
Ketika sajak itu menginginkanmu lepaskan sembunyi..
Kau hadirkan senyum sebagai tirainya

"Senandungkan sajakmu untukku..."

Aku pun berharap hal serupa
Aku ingin dengar sajakmu tanpa tirai dan seadanya
Karena aku percaya..
Sajakmu lebih merdu bila itu yang semestinya

kamu..

Karena adamu pada jeruji rindu
Ku sebut namamu cinta
Dan..
Kau kenalkan aku pada bilur laranya
Aku juga terima..
Tapi...
Jangan kau berani mengais luka
Seujungpun ku tak akan rela

Aku tetap memanggilmu cinta
Meski lirih..
Dengarkanlah..!!!

Cinta Tak Pernah Usai..

Jika aku mencarimu lagi
Dan memintamu kembali
Aku percaya..
Kau adalah puing yang tertata
Untukku..
Karena..
Luruhmu telah setubuhi waktu
Hingga rasamu tak pernah usai
Mencintaiku....


Aku menyusuri jalanan dengan perasaan tak menentu. Antara otak dan langkah kaki ini seolah beradu cepat ingin segera sampai rumah. " Rumah??"....Aku  bergumam sendiri tanpa sengaja. Mencari lagi definisi "rumah" yang kuinginkan. Berulang kali pula logikaku riuh bersahutan menyodorkan kenyataan. Dan anehnya, kenapa kata itu selalu berdefinisi kembali tentangmu. Tentang cintamu..

Cinta..
Satu kata yang tak tak perlu penjabaran menurutku, karena ia hanya sebuah permainan hati dengan semua rasa. Dan aku menganggapnya sebagai kebohongan belaka. Hingga hari ini aku bertemu kau lagi. Terhenyak aku mendengarkan celotehmu tentang makna cinta. Lebih terkejut lagi setelah tahu rasa cintamu padaku yang sengaja kau endapkan sekian lama. Begitu dasyatnya kekuatan cinta, sampai sanggup tertahan luapannya tanpa meminta pengakuan. Tersenyum.. adalah ekspresi pertama yang kulihat saat kau katakan itu semua. Yaa.. senyum kerelaan menahan sakit teraniaya sendiri oleh rasa cintamu itu.


Kau coba tepiskan semua rasa
Seolah tak mau tau..
Jika waktu telah setubuhimu
Bersama gulana di hatimu
Dan kau terjaga seketika..
Saat kau terlanjur mendekap lara
Kaupun kembali bertanya
"Di manakah aku berada??"
Tentangmu tetaplah tiada....


"Cinta itu indah..."
Begitu kau mulai memberiku sebuah sketsa pertama tentang cinta. Aku mulai menyimak setiap perkataanmu. Matamu tajam melihat jauh dengan tatapan yang melembut ketika beralih padaku. Aku juga menatapmu dan berharap kau melanjutkannya lagi. Terdangar lagi suaramu...

"Cinta itu indah.. Mungkin kau akan merasa cinta itu benar-benar indah saat di setiap helaan napasmu dipenuhi canda,tawa yang tak pernah tau kapan berhentinya. Ketika kau temui cinta itu di kesunyian,apalagi saat dia bersama yang namanya airmata,kau akan menolak pernyataan itu. Memang, kesedihan dapat membuyarkan semua angan tentang indahnya cinta. Tapi mengertilah, dibalik kesunyian itu tersimpan berjuta keindahan yang bernama rindu. Tahukah kau tentang rindu?? adalah ruang kosong yang tersimpan di hatimu ketika kau menginginkan keberadaannya. Rindu pula yang akan membawamu pada suatu tempat dimana hanya kita yang bisa rasa" , katamu dengan lembutnya. Aku mendengarkanmu tanpa menyela. Lalu kau lanjutkan cerita lagi.. " Cinta itu indah.. meski harus berurusan dengan cemburu. Tak usah heran.. memang,di manapun namanya cemburu itu berarti kelu..tak ada manisnya sama sekali,tapi kenapa cinta tetap indah di situ? Aku menamainya bukan cemburu,tapi cinta yang teramat sangat. Cemburu itu tak ubahnya tolok ukur kita tentang indahnya cinta itu sendiri. Tak ada cemburu sama halnya tak ada cinta. Tapi,cemburu yang berlebihanpun bukanlah cinta,dia telah menjelma menjadi penguasa,penguasa cinta. Cinta itu indah.. meski tangisan kekecewaan selalu di sekelilingnya. Entah kekuatan darimana keindahan itu bisa muncul di balik tangisannya. Kekuatan itulah yang bisa kita rasakan sebagai keindahannya, yaitu rasa rela berdamai dengan hati sendiri dan orang yang kita cintai. Karena cinta sebuah kerelaan diri mengasihi,menyayangi,berkorban juga mengerti secara tulus tanpa perlu pengakuan sekalipun. Dimanapun cinta berada,bagaimanapun keadaannya dan pada siapapun dia menghampiri untuk jadi cerita...cinta itu indah."



Rembulan...
Hanya menggeliat perih
Di kejauhan
Sesekali bias sinarnya
Tertutup awan hitam
Dan membuatnya terdiam
Termangu..
Segan rasanya menyeruak
Meminta sebuah pengakuan


"Cinta itu rumah.."
Sketsa kedua menurutmu tentang makna cinta.. Aku masih asyik menyimak apa yang akan kau katakan. Dan kau sendiri tetap tersenyum di sela-sela kalimat yang kau ucap.

"Cinta itu rumah.... di mana kita sanggup berekspresi apapun tanpa ragu,tanpa malu karena kita merasakan kenyamanan di situ. Sepanjang kau bisa memberikan kenyamanan padanya maka kemanapun cinta itu pergi..dia akan mencarimu untuk kembali. Dia akan selalu kembali... seperti kita selalu rindu untuk pulang ke rumah. Ibaratnya,tak perlu seutas tali untuk mengikatnya,tak perlu juga jeruji untuk memenjarakannnya,cukuplah kau berikan kepercayaan dan kau persembahkan kesetiaanmu pada cinta maka dia akan selalu datang padamu. Kau pasti bertanya mengapa bisa begitu bukan??.. Jika kau merasakan cinta....kau akan meleburkan hatimu menjadi satu dengan semua rasa di dalam cintamu hingga kau tak sanggup mengenali lagi mana rasamu sendiri. Serasa seperti kau berada di hatimu, rumahmu sendiri.. Dan pada akhirnya cintamu akan tahu juga mengerti,hanya kepada hatimulah cinta akan selalu berlabuh membuang sauh. Yaa.. pada hatimu.. " .. kau menoleh padaku, masih dengan tatapan lembutmu. Aku tersenyum memberi tanda kalo aku dapat mencerna apa yang barusan kau katakan.


Aku hanya mengikuti hatiku
Di mana hati ini memanggilmu
Aku ikuti..
Aku mengerti..
Karena ini tentang rasa
Rasa tanpa butuh sebuah logika
Seperti aku menyayangimu
Sayang yang tak perlu ditanya
Sayang yang tak tahu jawabnya
Cukup engkau pahami sendiri
Bersamamu..
Aku tlah menemukan arti


"Dan yang terakhir menurutku adalah... Cinta tak pernah salah.." .. kau masih memberikan pengertian tentang cinta. Anehnya, aku tak merasa bosan sedikitpun.. masih juga dengan ekspresi yang sama kau pun bercerita. Tetap dengan senyum manis di bibir penyempurna garis-garis ketampananmu.

"Cinta tak pernah salah...  cinta tau kapan harus datang. Tak pernah salah memilih waktu,tempat terlebih subyek yang merasakan. Karena cinta adalah interaksi bersama dengan segala rasa yang sanggup mengubah perasaanmu menjadi berwarna. Dan kau dapat merasakannya di saat kau jatuh cinta. Jatuh cinta??..hmmm.. kau tak perlu mengenalnya karena dia tak pernah terkenali tanpa merasakan sendiri. Seperti kata orang-orang,jatuh cinta berjuta rasanya... begitulah!!..tapi itu masih kata orang,bukan menurutmu.... " kau tertawa kecil bukan bermaksud mengejekku karena aku juga masih sendiri sepertimu. Aku tersipu mencoba buang senyumku agar tak ketahuan.  "Ketika orang merasakan jatuh cinta...perasaan yang tergambar hanya satu kata.. indah. Tapi jika kau diminta berlalu dari sisi orang yang telah membuatmu jatuh cinta,masihkah kau bilang jatuh cinta itu indah??.. pasti jawabnya cepat..... sakit!! Salahkah cinta??.. Tidak!!.. Cobalah kau pahami kalo cintamu masih sembunyi,mungkin kau saja yang salah mengerti... karena cinta itu tak pernah salah. Dia akan mencari dan terus mencari pasangan hati."....kau mengakhiri sketsa makna cinta tanpa senum namun kali ini kau tatap aku tajam seolah tatapanmu itu ingin mencari tau apa yang tergambar di hatiku. Aku balas menatapmu masih dengan senyum yang sama ku hadirkan tadi meski dalam hati berkecamuk rasa yang aku sendiri tak tau definisinya.


Hati..
Di sinilah awal sebuah cerita bermula
Mengalun dan meliukkan segala rasa
Anggap waktu tak adil bagimu
Pada hati ini jua...
Bilur rindumu begitu tersengal
Peluh cintamu sungguh megah
Desah merana tetesan airmata
Bukan ingin dikasihani


Sejurus kita terdiam ,saling memandang.. tak sadar aku berucap lirih,"Tuhan.. inikah cinta untukku yang Kau hadirkan?..mengapa aku merasa dekat meski aku belum cukup mengenalnya? mengapa cinta untukku tetap terjaga olehnya??..masih bertanya lagikah aku tentang alasannya?? ..hanya cinta... yaa yaa... karena cinta,itulah jawaban dari alasan kau menjaganya."... Kau tersenyum dan mengangguk. "Aku yakin, cinta itu indah,cinta itu tak pernah salah dan cinta akan selalu kembali ke rumah..dan semua itu terjawab pada hatimu. Aku juga tak ingin memaksamu membalas cintaku karena aku percaya, jika kau dan aku ditakdirkan mempunyai cinta yang sama,suatu saat kita akan bertemu untuk merangkai cerita, tapi...jika kau dan aku hanya ditakdirkan untuk melihat kesamaan cinta kita,tak ada kata terlambat menyatakannya, karena cinta tak pernah usai mendampingimu bahagia dalam doa. Dan kita akan selalu berhutang pada waktu,dimana waktulah media utama cinta kita,"..... begitu kau meyakinkanku. Aku pun mengatakan hal yang sama..."Yaa.. aku bisa pahami semua,aku bisa rasakan dan aku juga percaya jika suatu saat waktu tlah menjawabnya,maka kupastikan jawaban itu adalah cinta kita dengan segala toleransinya. Biarlah semua mengalir mengikuti alur waktu hingga tiba saatnya cintamu akan memanggilku sendiri."
( Chaiya naa )


Satu lirihan hati
Padamu..
Mampuku mengaduh sepi
Di setiap denyutan nadi
Atas rindu yang kau sampaikan
Lugas tanpa bias
Dan aku tetap melirih
Pada hatimu..
Hanya sebatas itu..
Dan kamu juga enggan melewatkan
Hingga anganku terpuaskan
Satu lirihan hatiku
Akan selalu menyanjungmu tiada henti 
Di sini..



( Jakarta, Juli 2014 )

Minggu, 29 Juni 2014

tak peduli

Ingin kau ada
Tapi ada yang tiada..
Jauh sudah..
Kini..
Tentangmu..
Hanya tau sebuah lagu..
Dawai sudah tak lagi
Bermelodi..
Hanya tau kata sunyi..
Iramanya hentikan
Ku menari..
Entahlah!!
Aku tak peduli
Lagi..
Antara ingin dan janji
Berserak
Berarak
Aku tak peduli
Sekali lagi..
Sepertimu juga
Yang tlah melupa
Dan ku terima
Karenamu..
Aku mampu!! ..

entahlah..

Entahlah..
Diam adalah kenikmatan
Mencumbu detik yang terlewat
Meski sesak..
Meski perih..
Rasa tlah terlanjur kuendapkan
Tapi aku tak pernah inginkan
Dan..
Jiwaku pun hanya tau kau harus ada
Menuntut kau hadir juga
Tau apa aku atas diriku ini?
Tiada..

Jika aku mencarimu lagi
Dan memintamu kembali
Aku percaya..
Kau adalah puing yang tertata
Untukku..
Karena..
Luruhmu telah setubuhi waktu
Hingga rasamu tak pernah usai
Mencintaiku..

aku dan kamu

Terdiam..
Mengoyak rapuh pagutan lara
Di manakah kau berada?
Dan relung waktu akan menyebutmu
Rindu..

Sayup sapamu sempat melirih
Mencari tau tentangku
Aku??
Ribuan kata tlah menahanku
Di sini..
Seolah kau juga tak peduli
Masihkah perlu tanya adaku lagi?

Kau selalu memanggilku cinta
Karena kau adalah rindunya
Yang siap mengoyakku..
Menghujamku..
Tanpa harus sembunyi
Nikmat piluku tak perlu kau tau
Akan ku rasa sendiri

Aku adalah cintamu..
Kau tetaplah rinduku..
Di sini..

Aaahh...!!!!!!!!!!!!

hebatmu..

Kau selalu bilang
Aku hebat....
Aku tlah percaya sekarang
Karena kau yang katakan
Jika sekali lagi kau bilang
Aku hebat....
Aku semakin percaya lagi
Karena hebatku menurutku
Jauh sudah dibandingmu..
Dan jika kau tetap bilang
Aku hebat....
Aku tak sanggup lagi berucap
Tentangmu..
Tentang apapun itu
Karena..
Tak ada yang perlu terucap
Olehku..
Selain aku yakini
Jika hebatmu bermakna tersendiri
Di hatiku ini..

Aku tak peduli katamu lagi
Tentangku..
Bagiku adalah kau dan hebatmu
Bersamaku di sini.. ..

antara aku dan Kamu

Tuhan...
Aku tak pernah meragukanMu
Seperti juga saat ini
Kau letakkan bayanganku
Di hadapanku sendiri..
Meski berada di lain sisi

Ku menangis tak seperti tangisnya
Ku meradang tak seperti lukanya
Ku tertawa tak seperti indahnya

Mengapa Kau hadirkan itu padaku??
Di antara semua rasa yang Kau cipta..
Apa karena pongahku yang Kau anggap lupa
Tuk mengakui keagunganMu??
Ataukah Kau ingin tunjukkan kuasaMu
Dengan bahasa lain untukku??

Tuhan..
Ku tundukkan hati bukan karena terpaksa
MemujiMu tiada henti sebagai perantara
Dan....
Pintakupun juga sederhana saja
Jagalah rasa yang Kau beri tentangnya
Tetapkan takdirMu juga atas dirinya
Sebagai sisi lain teman hidupku
Selamanya...

pasrah

Dan..
Larimu tak sekencang dulu
Teriakanmu tak selantang lalu
Masihkah kau mencari arti percaya?
Jika itu berupa nyata..
Kau coba lagi menghitung bintang
Saat langit tanpa rembulan
Kau juga ingin sandarkan angan
Melewati senyapnya malam
Berlalu..
Adalah kiasan untuk hatimu
Terseok lagi kau tepiskan ragu
Hingga letih yang menyisakan tanyamu
"Inikah batas toleransi itu?"

Karena rasamu itu ada..
Karena adamu itu terasa..

tentangmu..

Aku ingin menyanjungmu
Di lorong sempit yang berdebu
Ku lembutkan senyum kerasmu
Bukan tuk merayu..
Ku lebarkan lengan memelukmu
Karena letihmu jangan pernah sendiri

Aku ingin menyanjungmu
Di antara malam hari yang kelabu
Entahlah..!!
Aku hanya ikuti rasa ini
Sampai batas toleransi akan berhenti
Entahlah..!!
Jangan tanya tentang itu lagi
Aku juga tlah acuhkan semua alasan

Aku ingin menyanjungmu
Sekali lagi..!!
Hingga kau sanggup pahami
Sungguh berartinya dirimu sendiri..

ayah..

Menginginkanmu kembali
Begitu mustahil bagiku
Karena..
Adamu telah tersembunyi
Di antara sepinya waktu
Yang melirih..
Tak ada candaan
Tak ada omelan sayang
Tak ada nasehat bernada pelan
Apalagi sebuah pelukan..
Rindu..??
Entah di lapisan mana rasa itu berada
Aku tak juga ingin tau tentangnya
Bagiku..
Sayatannya telah menjadi tak hingga
Melebihi jarak di antara kita
Antara sayang yang nyata dan doa..

Ayah..
Ijinkan aku mengenangmu
Tanpa ada airmata
Di hari ini..
Hari kelahiranmu..

tentang aku..

Terpejam..
Ketika malam memanggilmu
Mencari tahu tentangku
Di antara syair sang pujangga
Dan bisikan para pemuja cinta
Masih perlukah kau tanya?
Alur yang ingin kau lewatkan
Tentangku..
Begitu saja..

Kau coba tepiskan semua rasa
Seolah tak mau tau..
Jika waktu telah setubuhimu
Bersama gulana di hatimu
Kau terjaga seketika..
Kau terlanjur mendekap lara
Dan kaupun kembali bertanya
Di manakah aku berada??
Tentangku..
Tetap tiada..

"Aku berada di ujung sempit pandanganmu
Tanpa terjaga kau bisa rasa
Tanpa raga kau telah menjadi jiwa
Dan bersama letihnya malam
Aku sanggup memelukmu dengan sempurna.. "

arah angin

Bila angin berbisik 'tidak' padamu
Apakah awan mau mengerti??
Sedangkan bulan tak juga mulai menari
Langitpun terlihat gelap
Seakan ingin menoleh dalam enggannya
Dan kamu??
Hanya ikut terdiam sambil menatap semuanya..

Selasa, 13 Mei 2014

bisakah??

Begitulah..!!
Kau hanya sanggup biarkan
Dingin malam memelukmu
Tanpa pesona
Hening..
Sepi..
Semua akan menjadi biasa
Denganmu..

..........................................

"Masih ingatkah kau..
Saat aku (malam) selalu menimangmu dalam sekali ayun
Menuju ke peraduan??
Masih ingatkah juga..
Kau menikmati gelapku (malam)
Hingga hanya lelapmu yang tertinggal?? .."

.........................................

Dan kau..
Tak melewatkannya
Meski perlahan kau rasa
Pelukan dingin malam kian mencengkeram
tiada ampun!!
Lunglai..
Letih..
Kau tetap bisa menahan
Karena bagimu..
Malam masih inginkanmu
Bersamanya dengan caranya
Dan kau sendiri..
Tak sanggup berlari
Saat ini..

............................................

"Aku akan menjadi malam hangatmu kembali
Bersama sunyiku yang ingin bicara tentang cinta
Dan sapuan lirih anginku yang selalu bermanja
Padamu,Kekasihku...
Bisakah..?? "

tentangmu..

Aku menyanjungmu...
Seperti angin yang berbisik tentang rinduku
Seperti ombak yang menimang riak resahku
Seperti langit yang menangis lirih ketika jiwaku mengadu padamu
Seperti daun yang kerontang jatuh terdiam
Usah berkata..
Sembunyikan penat letihnya
Seperti lagu tanpa dawai sekalipun
Iramanya samar mendayu..

"Angin hanya mencoba permainkan letihmu
Bukan mengabaikan heningmu..
Aku sanggup yakinkan itu
Padamu..."

Tentangmu....
Seperti hadirnya matahari yang tersenyum pagi hari
Setiap jengkal hangatmu
Selalu ku nikmati..
Meski perlahan harus luruh
Tiada ku peduli
Karenamu..
Aku akan hidup dan aku harus mati..

Senin, 14 April 2014

Tentang rasa di suatu senja

Tentangmu..

Seperti aku selalu inginkan pagi

Juga aku indahkan rebah senja

Tiada lelah ku berharap

Menuju pagimu

Mencumbui sang waktu

Dan..

Masih tentangmu

Aku rela mengiba pada pagi

Tak bosan tuk menunggu

Juga meminta padamu..



        Aku masih memandang langit yang semakin keemasan karena hari mulai senja. Dan aku masih berharap hadirmu saat ini menemaniku di sini. Yaa... di sini, di kelokan jalan ini. Dengan pinggiran terhampar padi yang menguning seolah tanpa batas. Sama halnya juga denganku yang selalu menunggumu, tiada batas waktu.





     Terbayang tiga tahun yang lalu,aku terima telepon darimu,dengan nada panik kau berkata, “ Nay,kita ketemu di tempat biasanya sekarang yaa.. penting!! “ langsung aku mengiyakannya. Bergegas ku keluarkan sepedaku dengan tak lupa kukenakan topi kesayanganku. Tanpa peduli terik matahari yang berangsur akan meluruh, ku kayuh sepedaku secepatnya. Akhirnya, dari kejauhan tampak tempat itu, kelokan jalan di pinggir bentangan sawah yang luas, tempat biasa kita berjumpa. Aku lihat kau sedang duduk di salah satu pematang tengah asyik mengamati matahari sore. Perlahan ku sandarkan sepedaku dan kamu menoleh ke arahku. “Nay… kemarilah!!” katamu .. Ku hampiri dan duduk bersebelahan denganmu. “Ada berita apa Sad,penting bangetkah??”  Kau tersenyum dan menoleh ke arahku sambil jari telunjukmu ditempelkan bibir sebagai isyarat agar aku diam.  “ Eesst, lihatlah dulu alam ini, di mana hamparan padi mulai menguning bersamaan dengan hamparan langit yang juga akan beralih menjadi merah jingga.. nikmatilah!!.. mungkin saja ini senja terakhir kita bersama..” … “ Terakhir??..apa maksudnya??  aku semakin tak mengerti apa maksudmu..?” sambarku menjawab buru-buru. Kau kembali menoleh dan tertawa melihat ekpresi wajahku yang keheranan bercampur cemas. “ Katakanlah, ada apa ini sebenarnya??” pintaku ..  “Yaa.. yaa.. tapi ku harap kamu bisa menerimanya dengan bijak..” kau menjawabnya dengan lembut. … Aku mengangguk tanda setuju seraya tak sabar untuk mendengar apa yang ingin kau katakan.  “ Besok aku harus meninggalkan kota ini untuk tinggal bersama nenekku di tempat asalku.. Sekaligus juga aku meneruskan kuliah di sana. Aku tak ingin kau sedih karenaku dan aku tak bisa menjanjikanmu tentang apapun kecuali  secuil hati dan kesetiaan cintaku ini,tapi aku juga bebaskan kau bila kau bertemu seseorang yang lebih memahamimu,sebab aku mungkin tak bisa menemani hari-harimu lagi dalam waktu yang lumayan lama di sini…” dengan terbata kau mengatakan itu semua.  … Aku melongo, antara sadar dan tidak ku coba mendengarkan apa yang kau katakan. Masih tak percaya jika kau akan pergi esok hari. Dan ternyata itu memang benar.. aah!!

          Kau masih asyik menatap dalam langit yang semakin temaram. Aku juga masih asyik dengan gemuruh hati yang segan ku redam. “ Mengapa secepat ini? mengapa harus sekarang??  mengapa harus pergi?? Mengapa…. Mengapaa… ??” tanyaku tak henti memberondong keluar meminta jawaban. Namun semua hanya tercekat dalam hati saja. Kuberanikan diri menatapmu dalam-dalam,namun justru kudapati riak kecil yang kau tahan. Kau juga sedih,kau juga tak inginkan..



Ketika airmata hanya sanggup tertahan

Untuk sebuah rasa 

Haruskah ku masih pinta kau memanggilku cinta? 

Sedangkan hatiku tak ingin ingkari 

Atas adamu saat ini 

Mungkin..


          Sebuah tepukan lembut membangunkanku dari lamunan yang telah menjadi kenyataan. Aku menoleh padamu dan berucap, “ Apakah ini artinya semua harus berakhir?” .. Kau tersenyum dan berkata, “ Aku tak inginkan berakhir tapi aku juga tak bisa berbuat apa-apa untuk ini selain pembuktian atas cinta kita. Namun, aku juga tak tahu rencana–Nya atas kita.. ya kan? “ Aku hanya bisa mengangguk dengan enggannya.





         “Sadyan Dewa Lawani”, sebuah nama yang ku kenal sebagai teman sekolahku. Anak pindahan dari pulau seberang, Kalimantan tepatnya. Karena kenekadannya menyelipkan sebuah puisi pada buku catatanku yang dia pinjam. Awalnya aku tertawa saja menghadapi ulahnya, “Waahh.. bisa sebuku deh nih ntar dikumpulin, konyol ahh!!” begitu selalu kukatakan padanya. Dia hanya tersenyum kemudian tertawa mendengar ledekanku itu. Tak bosannya dia menyapaku dengan sebait kalimat indahnya setiap hari dan seperti biasa ku tulis ulang pada sebuah buku lagi dengan maksud untuk membuktikan bahwa apa yang kukatakan padanya itu benar. Sambil menyalin bait-bait indah darinya, aku memutar ulang juga kejadian saat aku bersamanya. Ada canda,kesal,marah juga cemburu. Bila dia tak masuk sekolah ada rasa kehilangan tak biasanya. Dan bila musim ulangan tiba, ada rasa ingin bersaing mengunggulinya.  

         Di waktu senggang, aku baca ulang juga bait-bait indahnya sambil tersenyum sendiri. Hingga suatu saat aku terhenyak sendiri, inikah yang dinamakan cinta? Sebuah rasa yang tak pernah aku duga datangnya… Ataukah ini hanya sebatas rasa suka karena terbiasa?... Seorang “Nayla Lissanaya” telah jatuh cinta??  Perlahan kurapikan larik-larik kidung  yang berserakan di hatiku dan berusaha mengeja rasa yang ada.



Aku menyapamu pada satu nada 

Kurangkaikan pada laguku 

Yang juga hanya bernada satu 

Jika itu kau ijinkan 

Karena bagiku.. 

Tak ada lagi nada lainnya 

Dengarkanlah!!





Begitulah, hari-hari kulewati bersamamu. Tak pernah ada pernyataan cinta darimu,namun bait-bait indahmu telah berbicara tentang rasamu padaku. Aku senang dan aku terima itu. Karenamu, aku lebih semangat menikmati riuhnya detikan waktu yang terasa cepat berjalan. Kau membuat hatiku selalu mencari keindahan langit di atas langit lagi setiap harinya. Kau juga bisa melukis cemberutnya wajahku begitu kau goda. Tak terbayang lagi warna yang berganti pada deretan hari. Penuh warna itulah kesimpulannya. Dan kita mempunyai kesukaan yang sama,yaitu menatap senja. Bagimu, senja adalah perpaduan dua rasa yang meluruh antara matahari dan bulan dimana matahari melepaskan terik siangnya dan bulan menyambut malam dengan sinar lembutnya. Dan bagiku, senja itu  adalah indah titik tanpa koma. …. Hehehe…  


Padamu..
Ku tulis segenap asaku
Seperti juga senja ini
meski ku harus terdiam
Pejamkan rasa..
Kau dengarkanku lagi
Lewat angin yang menyapa lirih
Dalam jiwa rapuh ini




          Di akhir pekan, sepulang kita mengikuti ekstrakulikuler kita selalu bertemu di seberang sekolah,terdapat lapangan bola yang kebetulan di sisi pinggir kelokannya masih terhampar luas sawah berikut pematang-pematangnya yang terbujur lurus. Sambil melihat anak-anak ramai bermain bola,kita juga bisa menikmati indahnya senja.

         


         Hingga tibalah saat di mana aku terima telepon darimu mengajakku bertemu di tempat biasa kita berjumpa. Di sini… yaa di sini. Bersama senja yang perlahan mulai terganti. Bersama hatiku yang luruh setelah mendengarkan apa yang kau ucapkan. Dan aku masih belum bisa percaya atas semua itu. 


Temaram senja di kesunyian  

Menjadikan awan sebagai sandarannya  

Tertoreh indah di ujung kaki langit  

Lihatlah..!!  

Matahari masih begitu gagah  

Untuk kau ditaklukkan  

Dan sunyi adalah jawabannya  

Menuju hening malammu  





          Kau tersenyum untuk ke sekian kalinya sebagai usahamu menghiburku. Aku juga mencoba tersenyum mengabaikan kecemasan yang tersisa. “Baiklah..!! aku harus bisa bijak memahaminya sejauh logikaku berbicara”...gumamku dalam hati. Kau berucap seraya meyakinkanku, “Tak usah menangis untuk hari ini.. di senja ini,aku ingin melukis indahnya rasa tentang kita sebelum aku pergi, meski aku tau.. hatimu tetap ku yakini untukku,tapi aku tak ingin memaksakan keadaan atas jarak dan waktu yang terus melaju.. tersenyumlah untukku.. untuk rasa kita ini.. “ Aku tersenyum lagi dengan menahan aliran sungai kecil di sudut mataku dan menjawab “ Aku tak menangis bukan karena aku tak lara namun karena aku percaya apa yang kau kata… aku percaya apa yang ku rasa.. hingga akupun harus percaya pada-Nya tentang semua rencana-rencana-Nya”..

Senja semakin menghilang bilur-bilur jingganya, bersama dirimu yang akan berlalu dari hari-hariku. Dan aku akan mencoba mengakrabi sepi ini sebagai ganti hadirmu di sini.






           Aku masih memandang langit di tempat yang sama di saat terakhir kita berjumpa meski kali ini tanpamu. Aku juga masih berharap hadirmu lagi menemaniku di sini seperti tiga tahun yang lalu. Tetap menunggumu dan aku percaya, walaupun malam mampu mengalihkan senja,namun kau tak akan sanggup kecewakanku tentang rasa kita..  



Antara hamparan waktumu

Aku berada di sudut salah satunya

Menunggu..

Bersama erangan cintaku sendiri

Ku nikmati..

Meski desahnya harus kuyup

Dalam lautan ragumu

Kupercaya..

Jika kau akan rangkum waktumu

Hingga lelahku tak pernah usai

Sampai saatnya ku semai rindu

Entah kapan adamu

Aku terima..  


( Jakarta, April 2014 )

Minggu, 13 April 2014

aku

Bila tiba saatnya
Kamu akan mengerti
Apa yang ku mau
Di sela segala mimpimu
Mungkin..
Kataku tak selembut ibu peri
Dekapku tak sehangat mentari
Namun..
Hatiku selalu ada saat kau gulana
Dan raga..
Sekuatnya menjadikanmu luar biasa
Janji sekeping hati ini
Padamu
Apapun itu..

sebuah janji

Saat kau harus belajar lagi pada malam
Tentang sebuah keteguhan
Menemani senyap..
Melewati sepi..
Tak harus ada bulan
Tak perlu kawalan bintang
Hanya kau dengan kepatuhan
Atas janji sang Illahi..

Malam hanya sanggup bergumam...

Aku di sini
Dan akan tetap begini
Meski ada dan tiadamu lagi
Karena kau tak pernah terganti..

rindu

Ku rasa..
Jika kamu adalah matahari
Aku tau..
Tak mungkin ada saat ini
Tapi..
Mengapa aku yakin itu kamu?
Dalam kedap malam yang berjalan
Dan lirih nada cengkrama awan
Itu kamu..
Aku tak keliru!!
Karena..
Aku sangat tau
Jika kamu selalu menjadi matahari
Di sini..

percuma

Karena..
Kau ditakdirkan untuk melayani bukan dilayani
Memanjakan bukan dimanjakan
Berhentilah berharap..
Sebuah keajaiban merubahnya
Tersenyum adalah pelampiasanmu
Untuk menutupi perihmu
Dan menangis adalah keindahanmu
Untuk mencari kepuasanmu
Yang hanya kau tau sendiri

Percuma..

Rabu, 19 Februari 2014

mengeja cinta

Ketika aku belajar mengeja cinta
Pada hatimu ku letakkan huruf-hurufnya
Satu persatu..
Dan aku tak inginkan ejaan itu
Berubah..
Bahkan berganti
Meski sapamu akan melirih
Ku tetap dengar..
Ku telah rasa..
Di setiap desahannya

Karena....
Aku adalah kamu
Kamu adalah aku
Dan selalu akan menjadi KITA
Sebagai sebuah persembahan CINTA.

rindumu..

Satu lirihan hati
Padamu..
Mampuku mengaduh sepi
Di setiap denyutan nadi
Atas rindu yang kau sampaikan
Lugas tanpa bias
Dan aku tetap melirih
Pada hatimu..
Hanya itu..
Kamu juga enggan melewatkan
Hingga anganku terpuaskan

"Aku rindu..
Aku kelu..
Aku inginmu..
Hanya itukah sapamu untukku??"

Satu lirihan hatiku
Akan selalu menyanjungmu tiada henti
Di sini..

berserah..

Ketika langit harus bercelah
Juga..
Bila hamparan jalan bisa terbentang di sana
Ketahuilah..
Betapa keloknya tak kan pernah buatmu lelah
Sebab inginmu adalah di sana
Usah tanya lagi jalan mana kini kau berada
Simpan tanyamu itu!!
Sebagai bilur-bilur jiwa merindu
Pada langit..
Pada celahnya
Karena..
Tlah kau tundukkan keegoisanmu
Mengalahkan ragumu sendiri
Hingga kaupun tak lagi meminta jawabnya..

Elegi hari

Malam begitu mendera
Masih pedulikah saat pagi jg mengiba?
Sepi..
Sunyi..
Anginpun tak ingin mencari daun lain
Tuk rasakan hembusan yg sama
Dingin..
Hening..
Meredam gejolak alam yg tersembunyi
Pada sisi lain belahan bumi
Larut..
Letih..
Dan tetes embun mulai turun
Temani waktu cumbui hari
Rengekan malam terabaikan
Hanya sekedar menunggu sapaan pagi

Malam semakin mendera
Pagi masih mengiba
Aahh..

- Elegi hari -

Masih di hari yang sama

Masih di hari yg sama
Ketika riakmu bercerita lagi
Pertama kali..
Dari endapan waktu berlalu
Kau letih..
Kau perih..
Kau marah..
Kau diam..
Kau ingin lupakan kemunafikan

Masih di hari yg sama
Ketika senyum kepasrahan itu
Kau coba hadirkan
Tuk kelabuhi nyanyian syair lara
Padaku..
Padanya..
Pada mereka..
Pada angkuhnya angkara
Terseok..
Kau tetap menapakinya

Masih di hari yg sama
Dalam lelapmu
Selamanya...

satu nada

Aku menyapaMu pada satu nada
Kurangkaikan pada laguku
Yang jg hanya bernada satu
Jika itu Kau ijinkan
Karena bagiku..
Tak ada lagi nada lainnya
Dengarkanlah!!
Alunan laguku sayup membuai malam
Lirih mengadu pada waktu
Membuncah keindahan di jiwa
Bersama derai di sudut mata
Mengertilah!!
Notasiku tak berubah
Tak kan pernah!!
Hanya ada di satu nada itu
Nada di mana aku berawal
Dan..
PadaMu akan berakhir..

- love U -

Sabtu, 04 Januari 2014

semangat

Mendengar..
Melihat..
Merenung..
Merasakan..
Menuangkan rasa..
Menulis..
Menggali inspirasi..
Menulis lagi..
Dan..
Tetap semangat menulis lagi..

"Angka tahun boleh berganti
Namun..
Angka target kita di hati..!!??
Haruslah selalu "tinggi" ..."

adaku hanya untukmu..

Bersama derai hujan ini
Kau berharap
Malam tak pernah dingin
Bagimu..
Kau masih mampu tertawa
Dalam bekuny
Tersenyum mengalihkan luka
Menangis dengan bangga
Hingga kelu itu tak lagi
Di sini
Untuk sebuah ELEGI

Karena padamu..
Dia tlah mengajari arti
Mencintai
Tanpa harus memiliki
Dia tlah berikan jiwa
Tuk tulus pahami hati
Kau rasa
Kau puja
Dan..
Kau bisa lantang berkata..
"Adaku hanyalah untukmu,CINTA.."

masih di sini..

( Cileunyi tengah malam di jalan...)

Melintasi hari di ujung malam
Denganmu..
Hanya bisa terdiam
Berteman deru yang bersahutan
Dan..
Roda ini tetap melaju
Sepanjang jarak yang dituju
Mata meredup hampir terpejam
Bibirpun mengatup sesekali mengguman
Sebagai tanda harus terjaga

"Ternyata..
Masihlah jauh rebah itu dinikmati
Dari sini .."

Senin, 23 Desember 2013

Bunda..

Di sini..
Aku hanya ingin mengatakan satu hal
Untukmu..
Betapa aku sayang padamu
Bagaimanapun caramu menyayangiku
Betapa aku salut kegigihanmu
Bagaimanapun letih semangatmu menginspirasiku
Dan saat ini..
Engkau bisa menatap harapanmu
Sebagai sebuah persembahanku
Untukmu..
Karena kini aku tlah sepertimu
Bersama segenap rasa dan asa
Menjadi seorang Bunda..

Terima kasihku tak hingga padamu..

- Happy Mothers Day -

jika..

Jika..
"Kemarin" adalah hari ini
Hari ini adalah besok
Dan....
Besok adalah "kemarin"

Maka...
Apakah "kemarin" adalah bagian dari hari in dan besok ........!!??!!

Entahlah...

ekspresimu...

Katakan apa yg ingin kau sampaikan
Mungkin..
Aku bisa belajar darimu
Sebuah notasi
Senandung jiwa
Nan gelap tak terlihat
Terperangkap pengapnya jagat
Dimana..
Aku tak inginkan itu
Untukmu..

Dan..
Sampaikan apa yg ingin kau katakan
Bagimu..
Tiada letih yg tersia
Tak perlu ada airmata
Karna..
Kau tlah rela menitipkan rasamu
Pada langit nan jauh
Hingga waktu merengkuhny
Untukku..
Sebagai EKSPRESImu
Padaku..

warnamu..

Ketika hanya hitam putih sebagai warnamu
Masih inginkah kau mencari pendaran warna lain?
Di sekelilingmu..
Deretan warna-warna yang menggoda rasa

Sesaat kau jauh menatap
Melintasi batas pemikiran raga
Merayu diri sendiri
Tuk meraih warna salah satunya
Namun..
Kian pudar saat tlah terengkuh
Mendekatimu..

Ketika hanya hitam putih sebagai warnamu
Dan itu tlah cukup bagimu
Hingga kau tak perlu lagi berharap
Pendaran lain hadir
Memelukmu..

Selasa, 10 Desember 2013

bersamamu..

Melewatkan gerimis sore
Bersamamu..
Sebuah kemewahan tersendiri
Bagiku..
Lirih angin yang berhembus
Mencoba ikut menyela
Di antaranya
Aku hanya mampu tersenyum
Pada hembusannya

"Jika semilirmu menyejukkan jiwa,kemarilah!
Tapi..
Jika anginmu hanya bisa menyapu dingin kullitku,enyahlah!
Aku tak inginkan itu.."

Dan aku tetap di sini
Melewatkan gerimis sore
Mengulang kembali sketsa hati
Yang tlah terlalui
Bersamamu..

Rabu, 04 Desember 2013

cinta..

Pada labirin hati ini
Aku mengadu
Mengapa lekuk pesonamu menawanku?
Dan aku masih di sini
Menunggu
Rasamu menggugat rinduku
Dengarlah!
Aku yg tlah terantuk lara
Belajar lagi mengeja cinta
Darimu..

'Cintaku tak seindah puisi pujangga
Cintaku hanya deretan rasa sederhana'

Mungkin..
Mencintaimu menjadikanku gila
Dan aku rela
Menggilai cintamu
Menggilai hatimu
Karena padamu..
Ku tlah terlanjur JATUH CINTA

sebuah cerita..

Kupanggil PAGI
Sbagai awal cerita
Begitu SIANG menjelang
Dan..
Disaat SENJA tiba
Ku labuhkan pada MALAM
Meski hati terasa enggan

"Dan MALAM tlah merayuku
Tuk berada di dekapny
Dan MALAM tlah mencumbuku
Tuk menyambut mimpiny
Hingga ku terlena.."

Kupanggil lagi PAGI
Sbagai awal cerita
Entah SIANG berkata apa
Entah SENJA bagaimana
Dan..
MALAM masihkah tetap sama?

Seperti PAGI ini,awal cerita akan bermula..

tentangmu..

Dan..
Tinggallah napasmu dalam kesenyapan
Lukiskan hayalan tingkat tinggi
Luruh..
Letih..
Mengutip lembaran waktu
Begitu segan kau sirnakan semuanya
Tawa..
Airmata..
Terangkum dalam senyum
Kerinduan

Jika jarak bukanlah tuk ditempuh
Mungkin..
Kau rela melewatkannya
Namun..
Jika waktu tak hanya tuk ditunggu
Masih juakah kau biarkan itu berlalu?
Kurasa tidak!!

Karena..
Tentangku..
Kau pasti tlah pahami itu

percuma...

Rembulan...
Hanya menggeliat perih
Di kejauhan
Sesekali bias sinarnya
Tertutup awan hitam
Dan membuatnya terdiam
Termangu..
Segan rasanya menyeruak
Meminta sebuah pengakuan
Entahlah...!!!

"Mungkin.....ADAmu tak lebih berarti saat tiba malam hari.."

sebait rindu..

Dear you..
Sungguh rapi saat pagi mengulum senyumnya untuk dipersembahkan kepada senja.. Dan lintasan hari itu membuatku tak bedaya.. Ku terlanjur mendekap lekukan rindumu meski aku tau...tlah kau letakkan rindumu pada nirwana... Di sinipun,hanya tersisa nanar rona matahari....aku tak juga ingin peduli..

Ketika senja beringsut ke peraduan.. Aku masih memandang bilur rindumu dari kejauhan... Jingganya memerah tersenyum tak lagi buram.. Tatapannya lembut namun menikam ... Ku dilenakan!!...

Kepada diam malam akhirnya keletihan meregang rindumu ku rebahkan.. Bersamamu.. Bersama kenikmatan alam yang semakin mendayu... Bagai sebuah renjana tanpa kata...

tak tahu..

Ketika airmata hanya sanggup tertahan
Untuk sebuah rasa
Haruskah ku masih pinta kau memanggilku
Cinta?
Sedangkan hatiku tak ingin ingkari
Atas adamu saat ini
Mungkin peduli apa juga kau atas adaku?
Alur mana yg akan kau beri untukku?
Entahlah..

Dan..
Bila airmata tlah tertumpah
Masihkah ku bisa dengar darimu
Gaung sayang suaramu memanggilku
Cinta!
Ataukah kurapatkan hatiku
Tak temui adamu lagi
Di sana

malam

Mengurai pekat malam
DenganMu..
Helai demi helai artiku
BersamaMu..
Terhampar pada kenyataan
MengingatMu..
Dan..
Kali ini..
Dalam pekat malamMu..
Tak pernah asaku berujung
Tak mampu letihku berlalu
Tak henti rajah teredam
Hanya gelap..dingin dan sepi..
Terpojok lagi
Menunggu pagi..

"Begitu pekatkah malamKu hingga kau sayang bila harus terlewati sendiri??
Memang..
Masih begitu gelap..dingin dan sepi.."

tak peduli

Keinginanmu tlah terkunci oleh kata toleransi...
Pada siapa kau berkeluh selain padaNya..
Nanar kau jauh memandang tuk melepaskan keegoisan..
Tak peduli lagi maumu
Aah...
Tlah terlanjur kau buang jauh hatimu
Hingga tak sanggup berkehendak lagi
Hanya diam..
Menikmati sendiri melodi hati
Yang kau selalu cipta..
Sebagai keindahan jiwa
Dan..
Kau semakin tak peduli
Pada dirimu sendiri..
Aahh...